
Antara Mimpi dan kenyataan semua menyatu menjadi satu di otak Louis. Mafia itu merasakan sosok lembut menekan dada dan pahanya.
"Amelia? Tapi, wanita itu jika sudah tertidur tidak pernah meringkuk di dekatku? Dan, aku masih ingat, malam ini aku tidak meminta dia menemaniku di sini," gumam Louis.
Louis sangat mengenal Amelia, wanita itu tidak akan memeluk dia lagi jika sudah selesai pelepasan.
Louis ingin sekali membuka matanya, melihat siapa sosok yang sedang meringkuk di sampingnya apalagi sampai berani meletakkan kakinya diatas paha dan tangan memeluk dadanya.
Louis menggeleng ia menolak membuka matanya, pria itu takut sosok lembut itu menghilang jika itu hanya halusinasi dirinya. Louis menarik napas, bibirnya menarik garis membentuk senyuman. Lousi tersenyum? Malam ini sangat indah, halusinasinya sungguh luar biasa.
Louis merasakan lagi sosok lembut yang menghangatkan dalam tidur dan Louis mulai merangkul wanita itu, menjelaj**ahkan tangannya diantara dua buah ceri wanita itu.
Wanita itu merin**tih memprotes, dan berhasil menyadarkan Louis. Louis mendes*ah ia kembali menarik lengannya dan membelakangi sosok lembut itu.
Namun, tubuh hangat wanita itu justru semakin meringkuk lebih dekat. Louis mengernyit apakah benar ini hanya mimpi? Alhasil, sosok itu sudah membangkitkan hasrat Louis, tangannya kembali merangkul wanita itu, ia tersenyum saat wanita itu tidak protes lagi.
Louis mulai memb**elai dengan lembut dan sangat lembut berbeda dari biasanya ia memperlakukan wanita simpanannya. Louis berharap semoga wanita itu tidak bangun. Louis begitu menikmati pergerakan tangannya meskipun ia masih setengah tidur.
Louis merasakan hal-hal yang berbeda dari biasanya dia bersama para wanita penghiburnya. Ini sangat lembut jika dibandingkan dengan kualitas suatu produk. Produk ini kualitas terbaik dari yang terbaik.
Louis merasakan buah Ceri itu masih sangat keras , mon*tok dan penuh di gengg*aman tangannya. Dia juga tidak merasakan tonj*olan tulang seperti wanita kurus . Tetapi, ini tubuh yang ideal tepatnya body goals. Lekukan tubuh wanita ini kencang, Louis heran tubuh siapa yang sedang ia sent*uh dan jika ini wanita yang biasa melaya*ni dia kenapa dia tidak menyadari perubahan ini...
Louis terbangun, ia menghela napas panjang seraya mengusap kasar wajahnya.
"Dia?" Louis kaget hampir saja dia berteriak karena tidak menyangka wanita yang ia jijik berhasil membuat dia bergair**ah.
Louis mengamati wajah yang tengah tertidur pulas namun ia menggerutu karena wajah itu terhalang rambut panjang pirang sehingga Louis tidak bisa menatap wajah itu dengan leluasa.
"Aneh, baru kali ini aku lihat, ada wanita tidur sengaja menutupi wajahnya dengan rambut!" gerutu Louis dalam hati.
Louis memindai, ia melihat ke arah jemari lentik, kukunya di cat warna merah sangat serasi dengan warna kulitnya, " kuku yang indah." Louis tanpa sadar memuji wanita itu.
__ADS_1
Lousi merasakan jemari halus selembut sutra itu sedang menyentuh dadanya. Perlahan Louis menyentuh punggung tangan Leoni dengan jari telunjuknya agar tidak membangunkan gadis yang sedang tidur itu.
"Aku pikir dia masih anak-anak. Argh... baru kali ini aku salah menebak wanita," gerutu Lousi dalam hati. Namun, bibirnya tidak berhenti tersenyum. Sorot matanya menatap wajah yang masih dibaluti rambut itu meskipun dia tidak melihat seluruhnya tapi Louis dapat merasakan ketenangan di wajah itu, " Damai dan tenang sekali," batin Louis lagi.
Leoni bergerak saat ia merasakan hembusan napas mengenai wajahnya. Louis, menahan napas dan berusaha menahan tangan serta lengannya yang Leoni jadikan bantal itu, tidak bergerak sama sekali.
Louis yang tadinya mengira Leoni akan bangun justru salah, wanita itu menggerakkan panta**tnya dibagian sen**sitif Louis, seolah sedang mencari-cari..
"Oh My God!" desis Louis. Kebanggaan dirinya sudah bangun. Dia mulai merasakan pusing di kepalanya.
"Apakah dia benaran tidur atau berpura-pura tidur untuk menguji aku? Atau aku yang sudah membangunkannya? Jangan-jangan dia benar-benar menginginkan diriku?" Louis tersenyum semirik.
"Aku mulai meragukan dia, ternyata dia sudah terbiasa melakukannya. Lihat saja gerakan tubuhnya, lihat saja cara dia membangkitkan diriku." Louis terus berbicara dalam hati.
Louis menatap jijik gadis itu, yang tadinya dia yakin dan percaya gadis itu masih segel, sekarang Louis meragukannya. Ya, bagaimana bisa seorang perawan seberani itu menggoda pria? Jantung Louis berpacu semakin kencang membuatnya menginginkan pelepasan meski bingung dan ragu.
Ini bukan salah Louis, jika ia kalap karena wanita itu yang sudah membangk**itkannya. Padahal Louis berharap sebelum melakukan itu dia ingin melihat seperti apa wajah ketua Red Tiger yang di takuti musuh itu.
"Baiklah jika kau sangat menginginkan diriku yang tampan dan mempesona ini, aku akan segera melakukannya. Kau ternyata seorang pemain yang hebat," desis Louis.
♥️🤗🤗🤗
Sementara Louis yang tengah percaya diri bahwa Leoni benar-benar menginginkan dirinya.
Gadis yang tidur di sampingnya ini sedang bermimpi. Dan anehnya mimpinya sangat luar biasa menggair**ahkan. Dan, pembaca tau jika Leoni bangun dia pasti akan mengutuk dirinya karena telah bermimpi aneh dan di luar nalar.
Leoni masih terjebak di dalam mimpi itu dan hasra**tnya tidak menginginkan mimpi itu berakhir.
"Haaacing!"
Tiba-tiba hidung Louis gatal. Padahal mafia itu sudah menggosok hidung dan berusaha menahannya namun ia tetap bersin. Kepala Leoni bergerak dan wanita itu berhasil membuka matanya. Ia menyingkirkan tangan Lousi dari tubuhbya, Leoni terduduk tangannya meraih sesuatu dibawah bantal.
__ADS_1
"Aaaa...Paman Roy...dimana senjataku!" teriak Leoni. Dalam hitungan detik belatih yang tadinya berada di bawah bantal itu....
Cus...
Belatih itu berhasil tertancap di lengan Louis.
"Argh..." Louis merintih. Lengannya terasa perih, ia menahan darah yang mengalir dengan tangan kirinya. Lousi turun dari ranjang menahan Leoni tidak keluar dari kamar.
"Jangan keluar di luar sana banyak anak buahku," perintah Louis.
Meskipun dia tau luka ini tidak ada apa-apanya dibandingkan luka yang sering dia dapat disaat bertarung melawan musuhnya. Tetapi, karena malam hari, darah mengalir sangat deras, membasahi seprei dan lantai kamar.
Leoni sudah turun dari ranjang dan ia berlari ke arah saklar lampu.
Leoni menekan saklar dan lampu kamar menyala. Gadis itu sudah memasang kuda-kuda siap melayangkan tendangan di bagian tubuh Louis mana saja.
"Jangan mendekat!" perintah Leoni.
Berbeda dengan Louis meskipun lengannya masih tertancap belatih dan mengeluarkan darah. Mafia dingin itu sama sekali tidak memerdulikan itu.
Louis kaget bahkan hampir jatuh pingsan karena sosok cantik yang sedang berdiri di depannya ini. Dia terus berjalan mendekati sosok cantik itu, hasratnya mendorong dirinya untuk menyentuh gadis yang berada di depan dia itu.
Gadis cantik bukan hanya cantik tapi ini sempurna, memiliki rambut panjang pirang, hidung mancung berkulit putih mulus seputih susu kambing etawa. Gosip-gosip yang beredar itu berhasil di patah lkan malam itu.
"Luar biasa!" Kata-kata pujian itu lolos begitu saja dari mulut Louis.
Kebencian yang dulu tertanam di hati Louis sejenak pergi entah kemana. Louis terpesona bahkan tanpa sadar ia menjilat bibir bawahnya.
Leoni yang melihat aksi Lousi berkata, "Menjijikkan!"
__ADS_1