
Megan memberanikan diri ia berjalan menghampiri Leoni yang sejak tadi mondar-mandir di dalam kamar tidak jelas.
"Non...anda tenang dulu. Kita pikirkan masalah ini dengan hati yang tenang." Megan menunduk berharap Leoni dapat mendengar dirinya.
"Bagaimana aku bisa tenang? Sampai saat ini aku belum tahu kondisi suamiku seperti apa, bagaimana asisten bodoh itu mengobati suamiku. Lalu...kau meminta aku diam?" Leoni berbicara seraya menggerakkan tangannya menunjuk dirinya sedang emosi juga kwatir.
"Aku tahu, tapi anak buah tuan melakukan itu atas perintah tuan. Kita tidak tahu alasan apa hingga tuan bisa melakukan hal konyol ini pada anda." sahut Megan.
Leoni menjentikkan jarinya, ia lalu berjalan ke arah sofa wanita itu menjatuhkan tubuhnya diatas sofa panjang,"Itu yang aku pikirkan. Dari tatapan tadi aku bisa tahu dia menuduh aku dibalik kekacauan ini." seru Leoni
Megan dan Wilda saling bertatapan, mungkinkah Louis menuduh Leoni yang menyerang dirinya? Wilda mengedikan bahunya tidak ingin terlibat terlalu jauh hingga Megan pun akhirnya menyerah tidak ingin menerka sesuatu yang belum jelas.
"Aku keluar sebentar,"ucap Leoni seraya berdiri dari sofa. Matanya menatap jam yang menempel di dinding kamar, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan Andre ataupun salah satu anak buah Louis tidak ada yang datang memberitahu dirinya soal kondisi Louis? Leoni melangkah keluar dari kamarnya.
"Non...tunggu! Anda tidak boleh pergi sendirian." seru Megan seraya berlari mengejar Leoni begitu pun dengan Wilda mengikuti Megan dari belakang. Keduanya pun keluar dari kamar Leoni menemani Leoni pergi ke lantai bawah.
Leoni mengabaikan panggilan Megan, ia terus berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawah dimana Louis berada. Di sana Leoni melihat kepala pelayan sedang mengantar makanan ke kamar Louis.
Leoni berdiri di depan pintu menunggu kepala pelayan keluar.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Leoni cemas. Wanita itu berusaha masuk ke kamar Louis tapi dengan cepat kepala pelayan itu menutup lagi pintu dan terdengar ada suara pintu dikunci dari dalam kamar.
Kepala pelayan terus berjalan menuju dapur, pria tua itu memilih mengabaikan pertanyaan Leoni. Karena, tidak ingin menentang perintah Louis. Leoni akhirnya meminta ponselnya yang di bawa Wilda.
__ADS_1
"Berikan ponselku!" ucap Leoni.
Wilda segera memberikan ponsel itu pada Leoni. Leoni lalu menggeser layar ponselnya dan menghubungi Andre. Ia pikir mungkin orang kepercayaan Louis yang lebih tua itu akan berpikir lebih bijaksana.
"Kau dimana?" tanya Leoni dingin melalui sambungan telepon.
[Saya di kamar,]
Sahut Andre.
"Bersama suamiku?" Leoni meremas ujung dressnya.
[Ya aku yang akan merawat dia disini]
Leoni mengakhiri panggilan itu, dia tidak menyangka Andre bisa seberani itu terhadap dirinya. Dan Louis? Ada apa dengan suaminya itu hingga ia sampai tega tidak ingin bertemu dengan Leoni, istrinya?
Andre terus mengurung diri di kamar bersama Louis sejak tadi hingga larut malam. Leoni yang masih menunggu bersama kedua orang kepercayaannya akhirnya bernapas lega mendengar pintu kamar Louis di buka. Wanita itu berdiri dari kursi dan bergegas menghampiri Andre yang sedang menutup kembali pintu kamar.
"Bagaimana keadaannya," tanya Leoni cemas.
Andre menatap Leoni dingin, " Sedang tidur." sahut Andre.
"Dan lukanya?" Leoni mengikuti Andre karena pintu dikunci, dan itu sulit membuat Leoni gagal menemui suaminya.
__ADS_1
"Dia akan sembuh __Saya pikir sudah jelas jawabanku dan saya tidak perlu berterima kasih padamu." sahut Andre.
Pria itu duduk di meja makan, ia mengambil piring dan mengambil makanan lalu meletakkan diatas piring. Andre menyuapkan makanan ke mulutnya dan mengabaikan Leoni yang berdiri frustasi di meja, tanpa peduli siapa majikan di mansion itu.
"Kau juga?" desis Leoni. Tahu bahwa ia terlalu marah untuk mengendalikan diri, Leoni berbalik menatap langit-langit mencoba menahan diri. Lalu, ia kembali menatap Andre. " Andre...tidak peduli apa yang kau pikirkan. Tidak peduli apa yang Louis pikirkan__aku tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Orang-orangku juga tidak akan menyerang dia adalah suamiku. Kenapa kalian yakin aku yang menyebabkan semua kekacauan ini?" tuntut Leoni.
Andre masih duduk di kursi dan berteriak menyuruh pelayan membawakan makanan lagi untuknya. Ia juga meminta pelayan membawakan wine untuknya. Pelayan yang mendengar teriakkan Andre bergegas mengambil wine dan membawanya untuk Andre.
Andre menerima botol berisi wine itu lalu menatap Leoni dengan mata gelapnya yang tajam...mata yang mirip mata Louis.
"Dia melihat, seorang wanita yang menembakkan satu peluru di bahu dan satu lagi di dadanya. Wanita itu berlari ke depan mansion dan menghilang. Amelia mengatakan kau sering pulang ke mansion red Tiger berulang kali setiap Aku dan Louis pergi." Andre tersenyum sinis.
"Itu benar aku ke sana pun karena aku mengunjungi bibi Gresya dan paman Roy. Bagaimana itu bisa membuatku menjadi tertuduh?" Leoni tidak terima jika ia dituduh sebagai biang dari masalah ini. Leoni juga tidak terima jika ia dituduh...
"Bisa saja, 'kan kau ke sana untuk merencanakan kematian suamimu. Semua orang tahu kau tidak ingin menikah dengannya dan masih tidak menginginkan pernikahan ini. Semua orang juga tahu bahwa sebelum bertemu dengan Louis, kau juga selalu menimbulkan masalah untuknya bahwakan kau dengan beraninya menghalangi semua rencana Louis. Kesimpulannya jelas kau ingin menyingkirkannya." Andre berdiri dari kursi, ia ingin segera pergi dari ruang makan itu, tetapi dengan cepat Leoni mencegahnya.
"Jika memang begitu mengapa aku membantu dia menang atas penyerangan terhadap Rey? Mengapa aku membantu dia bebas dari tuduhan pembunu""han terhadap Aditya? Aku bisa sajakan menggunakan cairan itu untuk meracuni suamiku sendiri? Jika aku belum menerima pernikahan ini aku juga tidak mungkin mau merubah suasana Mansion ini yang dulu kaku kini menjadi lebih hidup dan lebih disiplin." sela Leoni.
Andre yang tadi hendak berjalan menoleh menatap Leoni.
"Jadi kau yang melakukannya?" tany Andre penasaran. Berarti apa yang dikatakan Amelia di kapel itu adalah kebohongan?
"Oho...jadi ada satu orang lagi yang dengan cepat percaya bahwa perubahan disini berkata Amelia. Kau pikir dia dapat melakukan itu? Kenapa tidak jauh-jauh hari sebelum aku datang ke sini? Hahaha... percayalah sesukamu. Dan yakinlah bahwa aku akan memilih senjata yang bagus untuk sesuatu yang bisa kulakukan dengan mudah. Ingat...aku tidak melakukan sesuatu setengah-setengah, tuan Andre. Jika aku menginginkan suamiku mati dia pasti sudah mati." Leoni tertawa seraya bertepuk tangan.
__ADS_1
Bagaimana Leoni tidak kecewa Louis dengan entengnya menuduh Leoni dibalik semua kekacauan ini. Dan Amelia dengan mulut manisnya berkata bahwa semua perubahan dimansion ini adalah usahanya?
Andre seperti tertampar tetapi pria itu pandai sekali menyembunyikan perasaan bersalahnya, "Kau selalu menentangnya Nona Leoni. Bisakah kau menyangkal itu?" Andre meremas botol wine ditangannya ia menunggu reaksi Leoni.