
"Gadis bodoh kenapa dia diam saja saat aku ketuk pintu!" omel Greysia.
Wanita paruh baya itu benar-benar tidak mengetahui dikamar ada Leoni. Dan Louis bagaimana pria itu bisa masuk ke kamar Leoni?
Greysia memukul kepalanya, berusaha apa yang barusan dia lihat hilang dari pikirannya.
Sementara di kamar bukannya malu karena kedapatan Greysia. Leoni menahan tawanya ketika ia melihat suaminya mengernyitkan kening, bingung dengan apa yang barusan dia dengar dari mulut Greysia.
"Leoni?" Louis mengulang lagi panggil Gresya tadi.
"Tidak usah peduli dengan bibiku, dia memang biasa keluar masuk kamarku tanpa izin." ucap Leoni berusaha menenangkan Louis.
Louis tidak mengalihkan tatapannya dari wajah Leoni. Ekspresinya pun tidak berubah.
"Kau.. Leoni, istirku?" Tanya Louis tangannya menunjuk Leoni lalu menunjuk dirinya sendiri.
Pria itu masih syok, wanita yang hari ini membuat dia gila, membuat dia terpesona dengan kecantikannya, kelembutannya dan kulit sehalus sutranya itu, bukan orang lain tetapi istrinya sendiri? Louis tidak percaya istrinya secantik itu ataukah waktu Leoni berada di mansion Black Wolf dia tidak sepenuhnya memperhatikan Leoni? Hingga ia melewati kecantikan luar biasa istrinya!
Leoni melayangkan satu pukulan dilengan suaminya. Dia berusaha melepaskan diri dari dekapan Louis, "Jadi sekarang kau ingat namaku?" ucap Leoni lirih.
"Sama sekali tidak menghibur bahwa kau harus diingatkan dulu sebelum ___" Leoni menekuk wajahnya. Dia melipat kedua tangannya di dadanya bibirnya di majukan kedepan ciri khas wanita ngambek.
Wajah Louis berubah tegang, tetapi entah itu karena amarah atau bukan, Leoni tidak tahu.
"Kau, istriku?" tanya Louis sekali lagi. Matanya menatap dalam Leoni.
"Tentu aku istrimu. Siapa lagi__" sahut Leoni dia berusaha memungut pakaiannya di lantai.
Mafia Black wolf itu menarik tubuh Leoni lalu keduanya jatuh ke atas tempat tidur. Louis tertawa sangat kencang sampai menggeliat- geliat.
__ADS_1
Leoni menatap pria itu bingung, hingga ia paham, " Memangnya dia pikir Leoni siapa? Ataukah tidak penting baginya?" batin Leoni.
Louis sangat malu karena ternyata wanita yang dia temui di kebun itu bukan orang lain tetapi istrinya. Louis pikir dia akan bercinta dengan wanita lain yang berhasil membangkitkan gairahnya lagi.
Leoni menatap tajam Louis dan menjauhkan diri dari suaminya itu, " Berani-beraninya dia berencana tidur dengan wanita lain di mansionku? Apa dia nggak mikir aku bisa saja dengar desa*han mereka dan apa dia nggak mikir wanita yang dia tiduri bisa saja salah satu dari pelayanku?" batin Leoni lagi.
Leoni bangun dari ranjang ia berjalan ke arah lemari dan mengambil pakaiannya. Leoni mengenakan celana pendek dan kaos oblong putih polos lalu berjalan lagi ke arah ranjang menyaksikan suaminya masih terus saja tertawa.
Leoni kesal karena suaminya tidak berhenti tertawa. Wanita itu mengambil bantal lalu memukul di seluruh tubuh Louis hingga pria itu berhenri tertawa, " Hentikan, istriku. Kau sudah menjelaskan maksudmu," ucap Louis terkekeh.
"Kalau begitu bisa kah kau berhenti tertawa? mengapa kau merasa semuanya ini lelucon? Jika bagimu ini Lelucon silakan bawa leluconmu itu pergi dari sini. Cepatlah sebelum aku kehilangan sisa kesabaranku," Leoni merasa gemas suaminya yang dingin ini tidak ada wibawa sama sekali. Titel mafia dinginnya seketika hilang hanya karena hal konyol dari dirinya sendiri.
Mendengar ancaman Leoni, Louis akhirnya berhenti tertawa dia bangun dan duduk ditepi ranjang. Pria itu meminta Leoni ikut duduk ditepi ranjang sampingnya.
"Kemarilah..." Panggil Louis menepuk pelan tepi ranjang.
Wajah Louis berubah jadi serius, " Ayolah Leoni, kau tidak bisa menyalahkanku karena gembira mengetahui istriku sangat cantik dari yang ku lihat sebelumnya,"
"Oh..Tuhan tolong aku," Bola mata abu-abunya menatap Louis.
"Suamiku.. sepertinya kata-kataku tidak cukup jelas bagimu? Aku ingin kau pergi __sekarang!" Leoni sudah menangis. Wanita itu tidak bisa menahan emosinya lagi.
Louis sama sekali tidak bergerak dari tempat ia duduk, "Kau marah?"
"Ya. Karena, aku tidak bisa menyalahkan kau sepenuhnya," jawab Leoni.
Leoni pikir ini juga salah dia, kenapa dia ikut berpura-pura menjadi orang lain. Harusnya dia berkata jujur bahwa dia Leoni, istri dari suaminya.
"Pintar sekali," sela Louis.
__ADS_1
Louis tersenyum lebar, " Jangan marah-marah seperti itu sayang. Tidak ada yang salah. Berkat bibimu, kesalahpahaman sudah di hindari." Louis menghela napas. Ya tidak bisa dipungkiri jika Greysia tidak masuk dan memanggil nama Leoni. Mafia itu masih menganggap dia bercinta dengan wanita lain di mansion Red Tiger.
"Izinkan saya menjelaskannya, suamiku." Potong Leoni, nadanya naik satu oktaf wanita itu masih merasa dirinya hampir saja dihina di mansion miliknya sendiri.
Wanita itu memejamkan matanya kemudian menghela napas panjang, " Maksudmu jika kau bercinta denganku dan menganggap aku orang asing, itu hanya akan menambah kesalahpahaman antara kita berdua. Oh...bukan hanya kita berdua tetapi orang-orangku juga." Leoni membelakangi Louis.
Hatinya sangat sakit saat ia membayangkan suaminya tidur dengan wanita lain di Mansion red Tiger. Sementara wanita disini semuanya pelayan dan istri-istri dari anak buahnya.
"Tapi kau istriku, bukan orang asing. Kau mengerti alasanku?" Louis tidak ingin di salahkan terus.
"Yang ku mengerti, suamiku adalah bajingan paling buruk."
Mata Louis menyipit, tetapi Leoni sangat marah, " Kau tau suamiku? Segala sesuatu yang terjadi disini selalu diberitahukan kepadaku. Aku pasti tahu tentang perbuatan busukmu sebelum kau selesai bercinta dengan wanita itu. Jangan salah paham. Aku tidak peduli berapa banyak wanita yang pernah kau tiduri, tapi jika kau mengambil wanita dari Red Tiger, Aku dan semua orang akan mengetahuinya. Aku tidak mau orang-orangku nengasihku karena ulah suamiku yang mengerikan." Air mata Leoni jatuh tak berhenti. Sesak rasanya membayangkan Louis meniduri wanita di mansion miliknya. Ini bukan soal rasa cemburunya tapi ini menyangkut harga diri seorang Leoni di mansion miliknya sendiri.
"Apa kau sudah selesai bicara, istriku?" tanya Louis. Pria itu mengepal rasanya dia ingin melayangkan satu pukulan kemana saja untuk melampiaskan amarahnya.
Leoni mengusap air matanya, dia juga sadar marahnya sudah melewati batas sebagai seorang istri.
"Ya," gumam Leoni lalu ia meraih tisu mengusap air matanya.
"Yang terpenting adalah kau istriku. Berarti kau milikku, bisa kuperlakukan sesuka hatiku. Apa kau menyangkal kenyataan itu?" Louis tersenyum semirik dia menaikkan satu sudut bibir atasnya.
"Tidak." sela Leoni cepat. Dia merasa ucapan Louis tadi sangat menyedihkan bagi seorang wanita.
"Baiklah. Jika begitu aku harap kau juga tidak lupa bahwa kau bertanggung jawab padaku, bukan sebaliknya." sambung Leoni lagi.
Louis memunguti pakaiannya dilantai lalu pria itu mengenakan kembali pakaiannya dan pergi tanpa pamit kepada istrinya yang masih sesunggukan.
Leoni menarik napas panjang Setidaknya Louis tidak berlaku kasar kepadanya dan mereka tidak sampai melanjutkan adegan dewasa mereka. Meskipun Leoni tidak bisa membohongi dirinya bahwa ia menginginkan lebih dari sekedar ciu***man.
__ADS_1