Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 47.


__ADS_3

Leoni kembali masuk ke mobil kakinya menginjak pedal gas mobil lalu melajukan mobilnya keluar dari mansion. Megan terus menodongkan pistolnya ke arah anak buah Louis seraya berjalan mundur menuju jalan raya dimana Leoni menunggu dia di tepi jalan sana.


"Jangan ada yang berani menghalangi jalan ku!" seru Megan.


Anak buah Louis tidak bisa berbuat apa-apa lagi mereka hanya menggeleng seraya mengangkat kedua tangan keatas, pasrah. Karena tidak mungkin mereka menembak Leoni dan Megan, akhirnya mereka membiarkan Leoni dan Megan pergi.


"Bagaimana? Robert masih menghalangimu atau tidak?" tanya Leoni saat Megan membuka pintu mobil.


"Tidak. Dia hanya menunduk tapi saya jamin saat ini dia ketakutan." Megan kembali menutup pintu mobil lalu memasang sabuk pengaman.


"Biarkan saja. Pegangan hari ini aku akan menguji adrenalinku udah lama nggak menyetir mobil, tanganku gatal," sahut Leoni. Lalu wanita itu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju markas Red Tiger.


"Non... hati-hati. Aku masih ingin hidup," Megan berpegangan. Leoni tidak menanggapi Megan ia terus melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, sesekali ia bernyanyi mengikuti musik yang ia putar.


Megan yang tadinya takut akhirnya bisa rileks. Keduanya saling memandang lalu tertawa bersama di dalam mobil karena berhasil keluar dari mansion Louis, hingga tidak menyadari ada sebuah mobil hitam mengikuti mereka dari belakang.


Dorr...


Tiba-tiba peluru mengenai roda belakang mobil Leoni.


Ciit.....


Mobil leoni berhenti mendadak.


"Shi""ft," Leoni memukul stir mobil.


"Non...ada dua orang pria keluar dari mobil membawa senjata," sahut Megan. Dia pun bersiap-siap menarik pelatuknya membalas tembakan musuh.


Dor..


Leoni melihat dari kaca spion mobil ternyata yang keluar dari mobil adalah Rey anak dari tuan Felix.


"Dia?!" Leoni melihat kearah Megan.


"Nona tenang biar aku yang hadapi mereka." ujar Megan. Orang kepercayaan Leoni itu menembak ke arah anak buah Rey.


Dorr...


Dorr...


Dor...


Suara tembakan sahut menyahut, bunyi pistol bergemuruh di jalanan untung saja jalan itu sepi jarang dilewati mobil.

__ADS_1


"Menyerahlan, istri Louis!" teriak Rey seraya mengarahkan pistol ke arah Leoni.


Leoni mengabaikan peringatan dari Rey..ia membuka pintu mobil lalu mengarahkan pistol ke arah Rey.


Dorr...


"Aku tidak akan menyerah. Aku pikir kau belum lupa siapa aku!" Ia melepaskan satu tembakan seraya bersembunyi di bodi mobil. Sayangnya, tembakan Leoni meleset.


"Argh...ini efek lama nggak menembak," Leoni mengumpat.


"Kami hanya ingin suamimu membebaskan Aditya." sahut Rey. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas, mencoba mencari jalan damai.


Leoni melirik ke arah Megan, " Aditya?" tanya Leoni. sorot matanya tidak bisa berbohong Leoni sama sekali tidak mengetahui kalau suaminya menahan Aditya.


Megan mengedikan bahunya, " Saya juga tidak tahu. Tapi, saya setuju dengan tuan Louis. Dia pasti sudah memikirkan dengan matang ia benar-benar melakukan pekerjaan bagus." sahut Megan. Lalu ia mengangguk meminta Leoni melepaskan tembakan lagi ke arah Rey.


Kedua wanita itu menempelkan tubuh mereka di bodi mobil untuk menghindari diri dari peluru yang dilepaskan Rey dan kedua anak buahnya.


Megan setuju karena jika Aditya dibiarkan bebas maka nyawa Leoni dalam bahaya. Leoni tersenyum misterius ia lalu menembak lagi dan kali ini berhasil mengenai bahu Rey.


"Argh..." Rey memegang bahunya yang berdarah.


Begitupun Megan, dia berhasil menembak dua anak buah Rey dan keduanya tewas.


Rey...belum menyerah ia membiarkan darah menetes dari bahunya.


"Kita harus melakukan ini," bisik Leoni.


"Baik, Non." sahut Megan yang mengerti maksud Leoni.


Tidak ingin mati sia-sia Leoni dan Megan berlari meninggalkan mobilnya di jalanan. Rey pun tidak menyerah dia terus menyerang dengan menembak ke arah Leoni dan Megan.


"Argh..." Leoni terjatuh karena tersandung jalanan yang rusak.


"Nona...apakah anda terluka?" Megan menunduk ia mengulurkan tangannya untuk menolong Leoni berdiri.


"Tidak. Kau harus pergi, teruslah berlari jangan kwatirkan aku." suruh Leoni. Awalnya Megan menolak namun ia mendapat tatapan tajam dari Leoni. Dengan berat hati Megan berlari meninggalkan Leoni yang masih tersungkur di aspal.


Rey sudah berada di belakang Leoni. Ia bersiap melempar belatih di punggung Leoni.


Dor...


Tiba-tiba Rey terjatuh, belatih yang di tangannya pun jatuh ke aspa. Leoni menoleh ia tidak menyangka paman Roy bisa berada di tempat yang sama dengannya.

__ADS_1


"Paman..." batin Leoni. Dia berusaha berdiri namun karena lututnya yang luka terkena aspal membuat ia kesulitan berdiri karena menahan sakit di lututnya.


"Leoni..." seru Roy.


Anak buah Roy mengurus Rey dan paman Roy memilih membantu Leoni berdiri dari aspal.


"Paman...kenapa Paman bisa disini?" tanya Leoni kaget.


"Tidak penting kenapa Paman bisa di sini. Ayo kita pulang." Paman Roy membantu Leoni berdiri. Leoni pun tidak menolak ia menerima uluran tangan paman Roy lalu Roy membopong Leoni kearah mobil karena ia kesulitan berjalan.


"Apakah kau tertembak?" tanya paman Roy.


"Tidak. lututku luka karena terkilir jalanan yang lubang." sahut Leoni.


"Syukurlah aku pikir kau tertembak Louis bisa marah besar." Roy membuka pintu lalu membantu Leoni masuk ke mobil.


Megan yang melihat situasi sudah aman keluar dari balik pohon. Ia berjalan ke arah mobil dimana ada Leoni yang sedang meringis menahan sakit di lututnya. Megan membuka pintu mobil lalu ia masuk dan duduk di samping Leoni.


"Maafkan saya Non," Megan meminta maaf karena tadi ia meninggalkan Leoni.


"Tidak apa-apa. Mengapa merasa tidak enak? Bukankah tadi aku yang meminta kau berlari?" jawab Leoni.


"Untung Megan menghubungi paman kalau tidak, kau pasti mati ditangan Rey. Brengsek dia..." Paman Roy pun masuk ke dalam mobil. Dia memasang sabuk pengaman di tubuhnya.


"Megan kau yang menghubungi paman? Ais...kenapa kau lakukan itu?" Leoni menatap tajam Megan.


"Maaf...saya terpaksa menghubungi tuan Roy karena peluru di pistol juga sudah habis." Megan tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.


Akhirnya perdebatan itu berakhir, Leoni tidak menyalahkan Megan lagi karena dia juga menyadari jika tidak ada paman Roy maka ia pasti mati di tangan Rey. Pria yang dulu sangat mencintai dirinya.


Roda mobilpun bergulir menuju mansion Red Tiger. Tidak membutuhkan waktu lama mobil mewah berwarna hitam itu berhenti di depan mansion. Leoni tidak bisa menahan diri untuk cepat-cepat keluar dari mobil tujuan dia adalah kebun. Tapi, kali ini ia harus di tuntun karena kakinya terluka. Ia keluar dari mobil di tuntun Megan.


"Leoni...kenapa tidak kabarin bibi?" tanya bibi Greysia saat Leoni di bopong Megan masuk ke dalam mansion.


"Ini mendadak, bibi." sahut Leoni tersenyum.


"Baiklah bibi akan minta pelayan siapkan makanan kesukaanmu," jawab bibi Greysia.


Leoni benar-benar merindukan mansionnya ia memandangi ruang tamu. Lalu meminta Megan membawanya ke kamar miliknya. Karena lukanya harus di obati.


"Non...lukamu sobek." ujar Megan saat ia membersihkan luka Leoni dengan alkohol.


"Ya. Karena terkena ujung aspal yang lubang." Leoni menahan perih di lukanya.

__ADS_1


"Aku berharap tuan Roy tidak mengatakan semua ini kepada tuan Louis," gumam Megan. sat ia menutupi luka Leoni dengan forban.


Leoni yang baru menyadari itu, menatap tajam Megan, " Bagaimana ini? Paman tidak tahu kalau aku dan Louis sedang bertengkar dia pasti akan menghubungi Louis. Argh...kenapa aku ceroboh sekali." batin Leoni.


__ADS_2