
Andre berjalan melewati koridor menuju kamar yang di tempati Louis saat ini, pria tua itu terus memikirkan ucapan Leoni dan Megan.
"Ada benarnya juga dia yang melakukan semua perubahan di mansion ini. Ya karena selama Amelia di sini dia tidak pernah terlibat dalam hal apapun kecuali menghabiskan uang Louis, hmm.." Andre membantin. Hingga kakinya membawanya sampai di depan pintu kamar yang di tempati Louis.
"Kau, sejak tadi kau berjaga disini? Maksudku sejak aku pergi," tanya Andre pada anak buah yang sedang berbaring di sebuah sofa panjang di depan pintu kamar. Sengaja sofa itu di taruh di depan pintu supaya anak buah yang berjaga bisa beristirahat dengan baik.
"Benar tuan," sahut anak buah itu.
"Nona Leoni tidak ke sini lagi, 'kan sejak saya pergi makan?" tanya Andre menyelidiki.
"Nona Leoni tidak datang lagi. Tapi..." Anak buah itu menunduk dia tidak berani menatap wajah Andre lagi.
"Tapi apa?" bentak Andre wajahnya tiba-tiba berubah jadi dingin.
__ADS_1
"Tapi Nona Amelia yang datang dia sudah setengah jam lebih berada di kamar bersama tuan," sahut anak buah itu ketakutan.
"Apa?!" Andre kaget. Pria tua itu bergegas membuka pintu kamar. Lalu melangkah masuk ke kamar, "Louis!" panggil Andre. Matanya langsung tertuju ke arah ranjang, Louis tidak menjawab karena pria itu sangat pulas tidurnya.
Amelia tersenyum menatap ke arah Andre. Wanita itu tidak kaget sama sekali karena ia tahu Andre pasti tidak suka melihat cara dia seperti sekarang ini. Wanita itu tidur menyamping dengan satu tangan menopang kepalanya seraya menatap dalam wajah Louis.
"Kenapa kau kesini lagi?" tanya Andre seraya meletakkan botol dan cangkir wine di atas nakas.
"Memangnya kenapa? Aku menjenguk ayah dari anakku apa ada yang salah?" sela Amelia. Bukannya bangun wanita itu malah merapikan anak rambut Louis yang menutupi mata Louis. " Ayah cepat sembuh ya, aku sedih melihat ayah hanya tiduran seperti ini " sambung Amelia menirukan bahasa bayi. Andre yang mendengar ucapan Amelia hampir saja muntah.
"Lepaskan tanganku! Apa kau lupa aku masih dicintai Louis?" Amelia menepis tangan Andre.
"Mimpi aja terus. Ingat jangan pernah masuk ke sini lagi kalau nggak, kau akan menyesal seumur hidupmu!" Andre mendorong keluar Amelia lalu kembali menutup pintu kamar dan menguncinya dalam.
__ADS_1
"Aku heran mengapa semua wanita pada tergila-gila dengan mafia bodoh ini?" Andre menggeleng-gelengkan kepalanya ia tidak menyangka pesona Louis sungguh luar biasa, membuat banyak wanita rela menjadi simpanannya.
Amelia yang keluar karena dipaksa Andre, sangat kesal ia membuka pintu kamar lalu menutupnya dengan kasar. Murray yang sejak tadi menunggu Amelia di depan pintu pun segera menyusul Amelia masuk ke kamar wanita itu.
"Kau kenapa masih menunggu aku di sini?" bentak Amelia saat Murray menutup pintu kamar.
"Aku kwatir. Kau lupa..." sahut Murray. Anak buah Louis itu memilih mengabaikan tatapan tidak suka Amelia. Dia mengambilkan buah diatas nakas lalu memotongnya dan membawakan untuk Amelia yang sedang berbaring di ranjang.
"Aku sudah bilang jangan pernah bahas masalah itu. Aku bisa menjaga diriku juga bayiku," sewot Amelia seraya menerima buah dari tangan Muray.
"Tidak bisa aku tidak tenang. Kau keluar malam-malam pergi menjenguk bos. Apa kau lupa jika kau salah bicara aja maka kau pasti akan di depak dari mansion ini. Tidak bisakah kau bersabar sedikit lagi?" sela Murray.
"Tidak! Aku tidak bisa membiarkan wanita itu hidup tenang di sini. Dia harus segera pergi dari mansion ini." sahut Amelia.
__ADS_1
Murray menggelengkan kepala, " Terserah kau saja. Tapi, jangan salahkan aku jika semua terungkap lebih cepat dari rencanamu." Murray memberi peringatan pada Amelia. Lalu ia bergegas keluar dari kamar Amelia begitu saja.
"Pria tidak berguna!" Amelia menyuapkan buah ke mulutnya dengan kasar hingga ia hampir keselek potongan buah melon.