Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 18.


__ADS_3

Pemandangan itu membuat jantung Louis berdegup semakin kencang. Karena ini pertama kali dia melihat istrinya. Tinggi wanita itu kira-kira 157 sentimeter tetapi bentuk tubuhnya sempurna. Lekuk tubuhnya indah, punggung rampingnya menyempit ke pinggang yang kecil, lalu melebar di pinggul yang lembut.


"Rambut sialan," gerutu Leoni. Seraya menggeleng ke kiri-kanan untuk menepis anak rambut yang menutup wajahnya. Louis tersenyum melihat Leoni mengangkat rambutnya ke atas lalu dia mengikatnya asal, membiarkan leher jenjang putih mulusnya menggoda.


"Oh Tuhan..."Louis benar-benar mengakui istrinya sangat cantik. Dia berjanji akan menghukum orang-orang yang sudah menyebarkan gosip tidak benar mengenai istrinya itu.


Louis semakin mendekat, dia sama sekali tidak mundur meskipun darah terus saja menetes.


Tubuh ramping Leoni sudah bersender di nakas, Leoni menaruh tangan di belakang lalu dia meraba-raba di atas nakas, akhirnya apa yang di harap Leoni ada, " Pistol," dessi Leoni.


Cepat-cepat Leoni mengambil pistol itu lalu ia mengarahkan ke arah Louis.


Ya Pistol itu milik Louis tadi dia sengaja meletakkan diatas nakas itu. Dan sekarang pistol itu di ambil Leoni untuk menembak dirinya?


"Sayang...letakan pistol itu!" perintah Louis. Dia mengangkat tangannya yang tidak luka meminta Leoni menahan emosi.


Leoni tersentak mundur, kata ,'Sayang' itu telah menghipnotis dirinya.


Lousi sudah berada didepan Leoni, dia menatap lekat wajah cantik itu.

__ADS_1


"Ada apa? Kau yang melukaiku dan sekarang kau juga yang marah?" tanya Louis berusaha menenangkan Leoni.


"Karena kau hampir saja memperkosaku!" bentak Leoni.


"Mana bukti, jika aku hampir memperkosamu? Bukannya kau yang menggoda aku lebih dulu? Lihat betapa menderitanya dia." Louis menunduk, pria itu melirik ke bawah. Mata Leoni pun mengikuti pandangan Louis.


"Kau berdusta. Aku tidak mungkin melakukan itu," sela Leoni. "Berciuman saja aku tidak pernah." desis Leoni.


Wajah Leoni merah bak kepiting rebus. Dia malu karena Louis mengatakan dia yang menggoda lebih dulu, dan lebih seramnya lagi Louis menunjuk sesuatu yang berdiri tegang di bawah sana.


"Ataukah kau sengaja melukai untuk mengelabuhi aku? Karena kau takut kau sudah tidak pe.."


Belum juga Louis selesai bicara . Leoni sudah melayangkan dua kali tamparana di pipi Louis.


"Jaga bicaramu! Aku tidak sehina itu." Leoni mengapa tajam mata Louis. Kedua bola mata itu saling mengunci sesaat.


Lousi membelalak, dia tidak menyangka Leoni seberani itu, " Lagian kalaupun kau tidak perawan lagi, aku tidak akan menuntut," timpal Louis seraya mengusap pipinya yang sakit.


"Jaga ucapanmu , Tuan Black Wolf! Jika kau ingin membuktikan sekarang juga kau panggil cleaning service untuk membersihkan kamar ini dan ganti spreinya. Aku akan membuktikan kalau ucapanmu itu salah besar!" Leoni meletakkan pistol itu dengan kasar di atas meja lalu berjalan ke arah kamar mandi. Leoni membersihkan tangannya yang kena basah.

__ADS_1


Leoni berjalan keluar dari kamar mandi dia sudah mengganti piyama yang baru dan mencuci tangannya yang kotor


Gadis mafia itu melihat Luois duduk di sofa seraya mencabut belatih yang tertancap di lengan kirinya itu. Lalu, dia mengambil kota P3K untuk membersihkan lukanya.


Leoni tidak tega dia melihat Louis yang susah mengobati lukanya, dia pun tanpa permisi langsung duduk di samping kursi Louis.


Leoni langsung mengambil alih, tanpa permisi ada Leoni mengambil kaza dan alkohol dari tangan Louis.


Leoni mulai mengobati luka Louis tanpa menatap Louis sama sekali. Sementara, Louis tersenyum sendiri melihat Leoni yang lihai mengobati dirinya.


"Aku dengar-dengar kau itu mantan seorang dokter." ucap Louis.


Leoni mengabaikan ucapan Lousi. Usai mengobati Louis, Leoni kembali meletakkan kotak obat. Lalu, Leoni berjalan ke arah nakas dekat ranjang, Leoni meraih gagang telepon lalu jarinya mulai menekan nomor untuk panggilan cleaning servic.


"Tidak perlu menghubungi cleaning service, kita pindah kamar saja," ucap Lousi.


Leoni menoleh dia menatap Lousi, " Dengan subuh seperti ini?" tanya Leoni kesal.


"Tentu. Kenapa tidak? Ini hotelku. Aku berhak berbuat apa saja di sini." sela Louis.

__ADS_1


"Terserah!" Leoni meletakkan lagi gagang telepon dengan kesal dia merapikan barangnya ke dalam tas.


__ADS_2