Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 35.


__ADS_3

Louis menarik selimutnya, "Aku pun kedinginan. Bisa kah kau berbagi selimut denganku?" Louis menarik selimut sengaja biar istri kecilnya bisa bangun.


"Percuma saja kau kaya jika selimut aja masih berbagi," sindir Leoni sembari membuka selimut membiarkan suaminya menyusup masuk ke dalam selimut bersamanya.


"Sengaja...biar bisa satu selimut denganmu." Louis berkedip. Leoni memutar bola mata malas lalu cepat-cepat kembali memunggungi Louis.


Leoni tidak ingin Louis melihat wajahnya yang sudah mirip kepiting rebus. Louis merapatkan tubuhnya mendekati Leoni lalu ia meletakkan tangan kanan diatas pinggang Leoni perlahan memeluk istri kecilnya.


Leoni tidak menolak tapi wanita itu ketakutan. Demi Tuhan bulu badan Leoni merinding ketika tiba-tiba dia mengingat lagi kenangan dulu dia dan Louis menghabiskan malam pertama, di kamar ini, suaminya mengambil mahkota yang ia jaga sejak kecil.


"Kenapa tanganmu dingin?" Louis mengisi jemari kurus Leoni dengan jemarinya.


"Bukannya sekarang musim salju? Lalu mengapa kau masih bertanya alasan mengapa tanganku dingin?" sewot Leoni.


"Kau kenapa? Masih marah?" Louis mengangkat kepala Leoni lalu meletakkan diatas lengannya. Istrinya tidak menolak juga tidak senang.


"Kau belum menjelaskan alasan mengapa kau mengirimku pulang padahal kau tau aku masih menahan sakit..." Leoni tidak melanjutkan ucapnya ia menahan sesak di dadanya. Dan dia tahu Louis tahu sakit yang ia maksud.


"Aku minta maaf untuk itu," Louis tidak mengatakan jika itu ulah Amelia. Pria itu tidak ingin dia dan Leoni bertengkar lagi.


"Apa kau takut aku melihat kau tidur dengan simpananmu di sini? Dengarin ucapanku baik-baik aku tidak peduli berapa banyak wanita yang kau tiduri selama wanita itu bukan dari mansionku."


Louis memahami istrinya sedang cemburu, tetapi ketidakpedulian? Bagaimana dia bisa meraih wanita cantik ini, dan menunjukkan keinginannya memulai awal yang baru? Apakah Leoni tidak menebak alasan mengapa Louis membawanya kembali ke mansion sejak perpisahan mereka yang cukup lama?


Louis tidak memadamkan lampu kamar dia sengaja membiarkan lampu kamar terus menyala. Leoni masih memunggungi Louis meskipun kepalanya sudah di atas lengan kekar Louis dan jemari keduanya masih saling bertaut. Namun, wanita itu lebih baik mati jika ia membalikkan tubuhnya menatap Louis lebih dulu.


Louis tiba-tiba tersenyum pria itu tiba-tiba menemukan ide. Louis menyibak selimut yang menutupi tubuh keduanya. Mafia itu kesal mengapa Leoni masih tidur dengan piyama? Sementara Louis tidak menyukai wanita yang tidur bersamanya mengenakan pakaian.


Kemudian Louis meletakkan kepala Leoni di bantal. Louis duduk bersilah di atas ranjang lalu ia mengangkat Leoni dari ranjang, mendudukkan Leoni di pangkuannya. Leoni tidak protes, Louis memeluk Leoni layaknya seorang anak kecil.


Namun, Leoni tetap kaku dan tidak menyerah, wanita itu memejamkan matanya enggan menatap suaminya.


Louis memeluk Leoni selama beberapa menit, " Berapa umurmu, hmm?" Suaranya lembut tetapi mengejutkan bagi Leoni, tidak percaya Louis selembut ini ataukah dia yang sudah baper? Bisa sajakan pria pemain wanita seperti Louis, sudah bisa lembut kepada wanita manapun yang dekat dengan dia, bukan?


Wanita itu kaget dia berpikir sejak, "Aku sembilan belas tahun."


"Dan aku dua puluh sembilan tahun itu artinya aku lebih tua dari kau sepuluh tahun. Apakah menurutmu aku terlalu tua untukmu? Sehingga menatapku saja kau seperti jijik?" Jemari Louis menyentuh lembut wajah istrinya. Sementara yang di sentuh nyaman memejamkan matanya.


"Aku__rasa tidak." sahut Leoni.


"Hahaha...lalu mengapa kau tidak membuka matamu? Apakah kau takut dengan kulit gelapku? Ya, aku sadar kulitku berbeda jauh dengan kulit putih keemasanmu." Louis sangat gemas dengan Leoni.


Leoni membuka matanya, "Kau tidak gelap. Kulitmu putih tapi ya, jika dibandingkan dengan kulitku.Tentu kulitmu gelap. Namun, kau hanya memiliki banyak bulu di tubuhmu." Leoni menggigit bibir bawahnya menahan diri untuk tidak keceplosan mengatakan Louis tampan.

__ADS_1


Sungguh dia begitu terpesona dengan ketampanan Louis. Namun, mafia wanita ini memiliki gengsi yang besar untuk mengakui kelebihan musuhnya. Meskipun musuh itu kini telah menjadi suaminya.


"Kalau begitu, maukah kau memberitahuku, alasanmu tidak menyukai penampilanku,"


Louis ingin benar-benar mendengar kepedulian Leoni terhadap dirinya. Pria itu selama ini menganggap istrinya itu sama sekali tidak peduli dengannya apalagi memperhatikan penampilannya? Tidak sama sekali Louis rasakan itu.


Leoni menutup rapat mulutnya, dia lebih baik lidahnya di potong daripada menyanjung kelebihan Louis.


"Jika kau menginginkan pujian kau boleh mencarinya di tempat lain. Seperti yang sering kau lakukan setiap hari sebelum menikahiku dan sesudah menikahiku. Mereka pasti akan memujimu hingga kau terbang ke angkas dan melupakan bagaimana caranya kau turun." Leoni ingin sekali jujur dia tidak menyukai Amelia yang masih berada di Paviliun.


Louis menarik napas, amarahnya hampir saja meledak. Dia sejak tadi berusaha mengajak istrinya untuk memulai lembaran baru. Melihat tatapan Louis yang menahan amarah.


Leoni cepat-cepat berkata, "Kau pasti akan bosan mendengarnya, suamiku. Karena, daftarnya sangat panjang." timpal Leoni.


Louis terkekeh, amarahnya menghilang sekejap hanya dengan gurauan konyol Leoni.


"Sayang...tidak ada satu bagian pun dari dirimu yang tidak kusukai. Kau memang kecil tapi aku juga menyukai tubuh kecilmu ini


Semua yang ada padamu membuatku gila." Louis menempelkan hidungnya di kening Leoni. Kedua bola mata itu saling mengunci sesaat.


"Oh.. kebohongan kejam! Kau tidak mungkin mengirimku kembali jika aku membuatmu tergila-gila." batin Leoni.


"Apa kau lupa pernikahan kita bukan atas dasar cinta tapi pemaksaan yang membuatku tersiksa?" ungkap Leoni.


Ya wanita itu mengungkapkan bagaimana sakitnya ia disuntik serum yang menyiksa seluruh sarafnya. Bagaimana serum itu mengendalikan dirinya seperti sapi yang di cocok hidungnya. Bagaimana dia harus bertengkar hebat dengan ayahnya. Semua itu menyakiti hati Leoni.


"Tapi...tidakkah kau tahu? Kebanyakan pernikahan dimulai dengan cara berbeda." timpal Louis.


"Benar. Tapi hanya sedikit yang menikah seperti kita. Dan kau tidak menginginkan seorang istri tapi kekuasaan." lirih Leoni.


Louis menarik napas dia tidak bisa mengelak karena apa yang dikatakan Leoni semuanya benar tapi itu dulu ingat dulu, bukan sekarang.


Dan Louis tidak marah, Louis membiarkan Leoni mengeluarkan semua yang ia pendamkan selama ini. Dan Louis berharap, pernikahannya kembali baik setelah istrinya mengungkapkan semua perasaannya.


Louis tidak akan marah jika Leoni memukulnya atau melukai dia sekali lagi seperti malam pertama mereka waktu itu untuk mengungkapkan kekecewaan Leoni kepada dirinya, asal semua itu untuk kebaikan rumah tangga mereka, Louis iklas.


"Sudah selesai kau bicaranya? Sekarang, kau bisa mendengarkan aku?" tanya Louis.


Leoni mengangguk.


"Aku bukan tidak menginginkan istri. Tapi yang tidak kusukai." Jujur Louis, "Adalah alasanku menikahinmu. Amarah membuatku melamarmu, dan setelah itu tidak ada jalan keluar lagi. Tapi, memang sudah waktunya bagiku untuk beristri." Louis menatap dalam bola mata abu-abu Leoni. Wanita itu menelisik bola mata kecoklatan itu dan Leoni tidak menemukan kebohongan sama sekali di dalam sana.


Leoni tidak menjawab. Louis merasa lega karena dia sudah menceritakan yang sebenarnya. Tidak adalagi kebohongan yang ia sembunyikan dari Leoni. Sekarang ia hanya menunggu keputusan istrinya.

__ADS_1


Louis mengangkat dagu Leoni lembut, meminta istrinya menatap matanya, " Apakah tidak cukup bahwa, apapun alasannya kita menikah, aku sekarang sangat bahagia menjadi suamimu. Berada di sisimu dan memelukmu seperti ini. Tidak ingin sedikit saja kau merasakan getaran hatiku yang tulus untukmu?" Louis hampir saja meneteskan air mata. Ia meraih tangan Leoni lalu meletakkan di dadanya, "Rasakan getaran hatiku, istriku," suruh Louis.


Mafia itu membuang napasnya kasar. Leoni menatap bola mata coklat itu, ia menggelengkan kepala meminta suaminya tidak meneteskan air mata.


"Tapi kau mengusirku," lirih Leoni. Wanita itu masih merasa sakit hati.


"Itu suatu kesalahanku," sahut Louis. Suara pria itu serak khas orang menahan air mata. Dia menunduk ke arah bibir Leoni.


"Inikah alasannya kau membawaku kembali ke sini? Untuk memulai lembaran baru lagi?" Leoni menurunkan tangannya dari dada Louis.


"Ya. Tentu istriku tersayang." Louis berbisik di mulut Leoni.


Kemudian Louis menyes**ap bibir Leoni. Louis belum merasakan dia sangat tertarik kepada wanita sebelumnya, juga belum merasakan kelegaan begitu besar ketika wanita itu menyerah.


Louis merasakan Leoni mulai santai tidak kaku seperti tadi. Ia semakin memperdal***am sesapannya. Ia menciu**mi seluruh wajah Leoni bahkan bukan hanya wajah tetapi seluruh tub**uh Leoni di ciu**mi Louis. Bukan hanya cium**an tetapi Louis memberi gig*itan- gig*itan kecil.


Leoni mulai merasakan desa**kan aneh, ia merasakan banyak kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya.


Leoni tidak tahu kapan piyamanya berserakan di bawah lantai. Begitupun kapan tubuh suaminya polos tanpa sehelai benang.


Tangan Louis menye**ntuh dua buah Cherry milik Leoni. Tangannya turun kebawah dan mene*kan kecil dibawah sana hingga Leoni merasakan tubuhnya panas pun*cak buah Cherry itu menge**ras karena rem**asan lembut.


Leoni menggerakkan jemarinya di dada Louis membentuk lingkaran abstrak Louis sangat menyukai sen**tuhan Leoni yang terasa di kulit kerasnya. Leoni mulai membalas ciu**man Louis, memberikan teka**nan menantang Louis.


Dengan lembut Louis membaringkan Leoni di sampingnya. sebelum kepala Leoni menyentuh bantal, Louis men**ci*um dua bu**ah Cherry itu.


Louis mulai memb**elai lekukan lembut di perut dan paha Leoni semakin mendekati sesuatu yang yang menyiksa dibawah sana hingga menimbulkan rasa mendamba. Leoni melen*gkungkan tubuh mengundang untuk dijela**jahi.


Ketika Louis menyeli**pkan jemari, Leoni meng**erang kepalanya mendorong kebelakang. Jemarinya mencen**gkram rambut Louis menekan pria itu kearah sana.


Louis benar-benar berubah, dia memperlakukan Leoni dengan hormat. Tangannya menyentuh Leoni begitu memuja, menenangkan, dan membangkitkan ga**irah. Berbeda dengan biasanya bagaimana ia memperlakukan para wanita simpanan dengan sangat kasar tanpa perasaan apalagi cinta.


Louis merentangkan kakinya Leoni dengan lembut sementara lengannya menye**linap ke punggung Leoni.


Kepala Leoni mendongak dan mengeluarkan suara desah*"an ketika lidah Louis menyapu bagian perut lalu Louis menyandarkan pipinya di paha Leoni beberapa saat menggoda Leoni.


Istrinya tersiksa dan matanya menatap memohon kepada suaminya meminta untuk mengua**sai dirinya. Louis menyadari gai**rah istrinya sudah memun**cak. Ia mulai memasuki mil*ik istrinya dengan lembut dan penuh cinta bulu dada Louis menyen**tuh buah Cherry itu Leoni yang sensit**if dengan area Cherrynya membuat Leoni gem**etar.


Lidah Louis meny**usup masuk ke mulut Leoni. Keduanya bertukar saliva di dalam sana hingga pada saat bersamaan sesuatu mendesak masuk ke dalam tubuh Leoni begitu hangat hingga mereka menyatu seutuhnya. Untuk waktu yang lama hanya mulut Louis yang bergerak menikmati manisnya bibir Leoni. Dan ketika kehangatan itu mulai ditarik keluar hingga kehang**atannya kembali.


Leoni merasakan dirinya sudah sampai pada titik puncak Louis memacu semakin kencang hingga keduanya meledak bersama diiringi suara desah**an dan Leoni tidak sadarkan diri, hingga ia tidak menyadari apakah Louis memberikan ciu**man lembut yang terakhir atau tidak.


♥️♥️♥️♥️

__ADS_1



Yang baru bangun efek kelelahan 🤣🤣🤣.


__ADS_2