Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 34


__ADS_3

Mendengar bunyi pintu terbuka Megan dan Wilda yang sementara tidur di sofa langsung bangun. Keduanya salah tingkah ketika melihat Louis masuk ke kamarnya.


"Tuan..." Megan dan Wilda berdiri seraya menundukkan kepala merasa malu. Meskipun keduanya tidak bisa menahan kantuk.


"Hmmm..." Louis hanya berdehem lalu menoleh ke belakang. Mafia itu menganggukkan kepala ke Andre. Pria tua itu membalas mengangkat kedua jempolnya ke arah Louis sebagai tanda ia mengerti kode dari Louis.


Kemudian Louis melihat ke arah ranjang, istrinya itu bangun dan berjalan ke arah saklar lampu. Cahaya lampu tidur menimbulkan bayangan indah di wajah Leoni. Louis menelan salivanya kasar lalu pria itu cepat menyadarkan dirinya karena kedua pelayan Leoni itu masih berdiri menunduk di kamar itu juga. Ia lalu menatap ke kedua pelayan itu.


"Jika aku sedang tidak ada, kalian boleh tidur di sini jika itu yang di inginkan istriku. Tapi, jika aku ada di sini, kalian boleh kembali ke sini pada pagi hari untuk membantu dan menemani istriku. Tapi, ingat kalian boleh masuk ke kamar ini kecuali di panggil. Aku tidak butuh di bangunkan. Jika belum bangun, tak peduli jam berapa pun, aku tidak ingin di ganggu. Kalian mengerti?" Louis memberi peringatan.


Wilda dan Megan menatap ke arah Leoni terlebih dahulu, melihat anggukan Leoni lalu mereka melihat ke arah Louis dan menganggukkan kepala ke Louis.


"Kami mengerti, tuan." sahut keduanya serentak.


Louis menjaga emosi bahagianya namun ia tetap menjaga wibawanya memasang wajah datar.


"Kalian keluar ikut tuan Andre. Pria tua itu akan menunjukkan tempat tidur kalian." Louis menahan tawa.


"Kampret lu!" gerutu Andre. Pria itu sangat kesal ketika Louis meledek dirinya 'PRIA TUA'.


Louis tersenyum kecil lalu kembali memasang wajah datar, "Jangan goda kedua gadis itu keduanya masih di bawah umur. Kau bisa di tuduh pedo**fil." goda Louis lagi.


"Awas aja lu!" sahut Andre kesal.


Setelah saling lempar ledekan receh. Andre membawa kedua pelayan itu pergi ke paviliun.


Louis duduk di sofa, pria itu meluruskan kedua tangannya di senderan sofa, " Bagus kau kembali ke mansion ini dengan begitu cepat." Louis menghela napas.


Pria itu tadi dari ruang bawah tanah bersama Andre menuju kamarnya dia sudah menyusun kata-kata romantis namun karena gengsi pria itu justru menunjukkan keangkuhannya.


"Apakah aku punya pilihan?" tanya Leoni seraya merapikan piyamanya yang berantakan.


"Tidak! Tetapi kau pasti sudah memikirkan banyak cara untuk menunda kedatanganmu ke sini. Aku senang kau tidak melakukan itu." Louis menarik kancing mantelnya. Lalu mengeluarkan pistol dari bagian pinggangnya dan meletakkan benda itu di atas meja.


"Kemarilah, bantu aku melepaskan mantel dan sepatuku. Atau kau akan menjadi patung hidup di situ?" Louis sangat kesal. Istrinya sudah melupakan tugasnya ketika dia pulang.


Harusnya sebagai istri, Leoni sudah tahu kebiasaannya melepaskan pakaian dan sepatu seorang suami, menyiapkan pakaian dan menawarkan makan. Namun, Louis lupa, Istrinya ini bukan wanita penggoda seperti Amelia yang sangat senang jika Louis meminta bantuannya.


Leoni melangkah mendekati Louis. Wanita itu pun kesal karena Louis selalu memanggil dia 'Leoni' padahal dia berusaha memanggil Louis dengan panggilan 'Suamiku'.

__ADS_1


Louis menghela napas kesal melihat Leoni yang sengaja memperlambat langkahnya untuk membantu sang suami yang sudah tidak sabaran itu.


"Apakah aku selalu seperti ini?" Pria itu melepaskan sepatunya lalu melemparkan dengan kasar ke lantai.


"Apakah aku selalu meminta bantuan setiap kali aku pulang kerja?" Lousi melepaskan kaos kakinya lalu melemparnya sembarangan ke lantai.


Wajah Leoni memerah, dia merasa bersalah karena suaminya benar, harusnya Leoni tidak perlu menunggu di panggil atau di mintai tolong . Tapi dia sudah tahu tugasnya sebagai seorang istri, melayani suaminya, membantu mengurus beberapa keperluan suaminya.


"Maafkan aku, suamiku. Aku pikir kau masih marah soal kejadian kemarin makanya aku tidak berani mendekati dirimu," Leoni membantu melepaskan mantel dari tubuh Louis.


Lousi menatap tajam Leoni, " Oh aku lupa disini ada pelayan. Harusnya tadi aku suruh pelayanmu saja yang melepaskan pakaian serta menyiapkan pakaian gantiku." Louis menaikkan atau sudut bibirnya.


Leoni yang kesal tiba-tiba melayangkan satu cubitan diperut Louis.


"Sana panggil saja pelayanmu. Jika mereka tidak menyayangi nyawa mereka lagi!" Leoni memalingkan wajahnya dari tatapan Louis. Dia berusaha menyembunyikan rasa cemburunya.


Louis tertawa, " Aku akan mandi. Siapkan pakaian gantiku dan tetap duduk di sofa, tunggu aku keluar dari kamar mandi." Louis memberi peringatan. Pria itu mendekatkan hidung mancungnya dengan hidung mancung Leoni.


Mafia cantik itu refleks mendorong dada Louis menjauh dari hadapannya. Louis tertawa, dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket karena kena keringat.


Leoni langsung berdiri dari sofa dia berjalan ke arah lemari dan memilih baju tidur untuk Louis.


Setelah beberapa menit berada di kamar mandi Louis keluar dari kamar mandi, suami Leoni itu hanya melilitkan handuk putih di pinggangnya. Ia juga membawa satu handuk putih kecil di tangannya.


"Aku pikir kau harus duduk di sofa," ucap Leoni seraya menerima handuk kecil dari tangan Louis.


"Baiklah." sahut Louis.


Kemudian, Louis pun duduk di sofa sesuai permintaan istrinya. Mafia tidak sabar merasakan sentuhan lembut Leoni. Louis memejamkan matanya.


Leoni berdiri dari belakang sofa dia mulai mengeringkan rambut Louis.


"Sudah berapa hari kau tidak keramas suamiku?" Leoni bisa merasakan dari tekstur rambut Luois.


"Mungkin dua mingguan. Aku jarang sekali keramas. Sejak kau pergi dari mansion ini aku jadi malas datang ke mansion. Bahkan untuk membersihkan diri saja aku tidak ingin." jujur Louis.


"Hmmm...Bukankah kau yang meminta aku pergi dari sini?" Leoni tidak mengeringkan rambut Louis. Wanita itu mengusap handuk putih itu diwajah Louis dengan kasar.


"Jadi, kau balas dendam?" Louis membiarkan Leoni melakukan sesuka hatinya.

__ADS_1


"Tidak. Tapi, jika itu terulang lagi maka aku tidak akan memaafkan kau lagi." sahut Leoni


Leoni belum menyadari ia sementara menggosok handuk di wajah suaminya. Pemilik bertubuh ramping itu baru merasakan saat ia menunduk dan dengan cepat dia menjatuhkan handuk kecil itu di pangkuan Louis.


Leoni berjalan ke depan tapi tiba-tiba...


Brugh...


"Aww..sakit!" pekik Leoni.


Wanita itu berjalan tidak hati-hati, kakinya tersandung kaki sofa dan ia hampir saja jatuh. Namun, Louis dengan cepat berdiri dan menangkap tubuh kecil sang istri.


"Tu, 'Kan jatuh." Louis tertawa menatap wajah sang istri.


Leoni masih memejamkan matanya. Ia sangat malu karena jatuh di depan Louis.


"Istriku buka matamu," Louis tertawa.


"Tidak mau, aku sangat malu." Leoni menutup wajahnya di dada bidang suaminya.


"Kenapa harus malu? Kau tidak jatuh di lantai tapi aku menangkapmu,"


"Ha?" Leoni membuka matanya dan benar kedua tangannya melingkar di pinggang Louis, wajah cantiknya menempel di perut kotak-kotak Louis.


"Turunkan aku," perintah Leoni.


"Tidak mau," sahut Louis.


"Suamiku..." Leoni mencebik.


"Ya...ya...ya..." Louis akhirnya menurunkan Leoni.


Leoni berlari ke arah ranjang dia langsung berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Louis hanya menggelengkan kepalanya, melihat Leoni yang masih malu-malu dengannya.


Louis mengenakan piyama yang sudah siapkan Leoni tadi. Lalu, ia berjalan ke arah ranjang.


"Istriku kau sudah tidur?" ucap Louis.

__ADS_1


Leoni tidak menjawab namun Louis melihat kaki Istrinya bergerak.


"Aku tahu kau belum tidur." Louis pun berbaring di samping Leoni.


__ADS_2