Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 72.


__ADS_3

Leoni membuka pintu dengan kasar lalu menutupnya lagi.


Plakk...


Wilda yang berada di belakang Leoni, refleks menutup telinga dengan kedua tangannya karena terganggu dengan suara pintu yang keras.


"Tidurlah disini denganku. Mulai hari ini kau dan Megan tidur bersamaku di sini." ujar Leoni seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa kamar.


Wilda tidak menjawab. Pelayan itu berharap Megan segara menyusul ke kamar agar ia memiliki teman cerita. Karena sebenarnya dia saat ini sangat ketakutan melihat wajah dingin Leoni.


"Dan untuk selamanya.Kalian berdua bisa tidur di kamar penghubung itu, biar saja dia sekarang tidur di kamar sana. Aku tidak peduli lagi sekarang. Kalau masih terus seperti ini besok kita kembali ke Red Tiger." Leoni meraih remote lalu menekan tombol on. Televisi LED berukuran besar delapan puluh empat inchi itu menyala. Leoni menatap layar lebar tipis itu, matanya memang menatap televisi Namun pikirannya masih memikirkan keadaan Louis.


Megan pun membuka pintu kamar, " Non... sebaiknya anda istirahat. Saya tidak ingin anda pun sakit karena memikirkan aturan aneh di mansion ini. Tadi saya sudah banyak bicara dengan tuan Andre terserah dia mau menyampaikan itu kepada tuan Louis atau tidak intinya saya sudah mengatakan semuanya yang harus mereka tahu." Megan tidak peduli Leoni marah. Wanita yang sudah mengawal lebih dari lima tahun itu sudah tidak sanggup lagi melihat Leoni tersiksa seperti itu.


"Biarkan saja dia mau mendengarkan penjelasan aku dan kau atau tidak terserah. Aku tidak peduli lagi!" Leoni membaringkan tubuhnya di sofa panjang. Wanita itu terlihat sangat lelah, ia memejamkan matanya perlahan hingga terdengar suara dengkuran halus.


Megan menarik tangan Wilda yang sedari duduk di sofa singel memperhatikan Leoni.

__ADS_1


"Ayo kita juga tidur." ajak Megan.


"Yuk..kita tidur di kamar penghubung saja. Saya tidak enak jika harus sekamar dengan Nona." sahut Wilda.


"Baiklah."sahut Megan.


💜💜💜💜


Sementara Andre tidak bisa tidur pria tua itu terus menikmati wine yang tadi ia bawa dari ruang makan. Sesekali ia melirik ke arah Louis. Namun, mafia itu tidak menunjukkan tanda-tanda ia bangaun jangankan bangun bergerak saja tidak sama sekali.


"Semoga dia baik-baik saja. Aku tidak akan mau jika harus merendahkan diri di Leoni." Andre meletakkan cangkir di atas meja dengan kasar.


Andre bergegas menekan tombol untuk membuka kain gorden secara otomatis. Sinar mentari menembus masuk melalui celah ventilasi lu mengenai wajah Louis. Mafia itu mendesah karena terganggu dengan sinar mentari.


"Argh ..."rintih Louis.


Andre bergegas menghampiri Louis, "Kau sudah sadar?" tanya Andre.

__ADS_1


Louis masih setengah sadar, " Dadaku terasa sangat sakit." keluh Louis.


Andre mengusap kasar wajahnya, dia tidak bisa menjelaskan apapun karena Andre tidak pandai dibidang kesehatan.


"Aku akan menelepon dokter lagi," Andre bergegas mengambil ponselnya lalu menghubungi dokter muda itu. Usai menghubungi dokter muda itu Andre meletakkan lagi ponselnya diatas nakas


"Bersabarlah sebentar sepuluh menit lagi dia tiba di sini. Aku kesal mengapa dokter harus pergi hingga kau harus ditangani dokter muda yang tidak pengalaman. Aku harap lukamu tidak menimbulkan infeksi atau apapun karena itu akan membuat Leoni semakin membenci aku dan mungkin kau juga." oceh Andre.


Louis sudah kembali tidur, ia tadi hanya setengah sadar karena dada dan bahunya yang sakit.


Andre kembali menyentuh kening Louis ternyata Louis demam.Dan itu membuat Andre sangat panik. Saat Andre panik terdengar ketukan pintu dari depan kamar.


Tok...tok....tok...


"Ya masuk!" seru Andre dari dalam kamar.


Ceklek...

__ADS_1


Pintu kamar terbuka, Andre yang mengharapkan kedatang dokter langsung menatap ke arah pintu, ternyata tidak sesuai harapan Andre


"Argh...kenaa kau lagi!" bentak Andre.


__ADS_2