
Di mansion Black Wolf, wanita simpanan Louis tidak tinggal di mansion utama tetapi mereka tinggal di paviliun. Louis sengaja bangun paviliun untuk para pelayan dan simpanannya tempati.
Amelia baru saja bangun, wanita dua puluh tiga tahun itu berdiri di halaman paviliun sembari berjoging.
"Siapa mereka?" batin Amelia. Dia berhenti joging, matanya menatap tajam ke arah dua pelayan Leoni yang berjalan menuju paviliun sembari menenteng tas bawaan mereka.
"Hei...kalian berdua, kemari! " Panggil Amelia setelah ia mastikan itu Megan. Orang kepercayaan Leoni, bersama satu pelayan Leoni lagi.
"Ada perlu apa, kau memanggil kami?" tanya Megan ketus. Saat keduanya sudah berdiri di depan Amelia.
Amelia tersontak pelayan ini berani sekali membentak dirinya, "Kau dan temanmu kenapa ada di sini? Apa kau tidak tahu orang-orang yang masuk ke Paviliun ini hanya mereka yang bekerja di sini," sahut Amelia.
"Termasuk anda, pelayan disini?" sahut Wilda.
"Kau diam! Aku yang bertanya bukan meminta kau menyela ucapanku!" Amelia mengepalkan tangannya. Pelayan Leoni benar-benar berani melawan dirinya. Padahal di mansion Louis tidak ada pelayan yang berani menentang dia.
"Ya, kami diminta tuan Black Wolf untuk tinggal di sini," sahut Megan dia melirik sinis Amelia.
Amelia kaget, tenggorokannya tercekat. Ia berlari masuk ke dalam Paviliun meninggalkan Megan dan pelayan Leoni, di depan pintu begitu saja. Napas wanita itu tersengal-sengal seperti orang baru selesai lari maraton.
Setelah Amelia masuk, kedua pelayan Leoni itu di arahkan oleh salah satu anak buah Louis menuju dua kamar kosong yang sudah rapi dan bersih untuk kedua pelayan Leoni tempati.
Amelia meraih cangkir dari dalam kabinet dia mengisi cangkir itu dengan air mineral.
"Ha? Itu artinya wanita buruk rupa itu sudah tinggal disini? Oh...tidak bisa di biarkan!" Amelia mengacak pinggang dia lalu meneguk air mineral itu hingga tandas.
"Akan ku buat perhitungan denganmu!" geram Amelia lagi seraya meletakkan cangkir diatas meja dengan kasar.
♥️♥️♥️♥️♥️
Sore hari, matahari mulai berwarna oranye. Sudah menjadi kebiasaan Leoni berjalan-jalan di taman menghirup wangi bunga dan menyaksikan matahari terbenam.
Leoni berjalan keluar kamar, Megan sudah menunggu di depan pintu.
"Nona sudah sore. Tadi saya sudah lihat di belakang Mansion ada taman bunga yang indah. Apakah Nona ingin jalan-jalan ke sana?" tanya Megan.
"Ya. Temani aku ke sana," sahut Leoni antusias.
"Mari..." jawab Megan.
__ADS_1
Keduanya berjalan menuju taman. Dalam perjalanan menuju taman Leoni mengamati mansion Lousi.
"Gedungnya lumayan besar, sayangnya terlalu banyak pohon besar di pinggir-pinggir dinding membuat mansion mirip seperti markas," ucap Leoni.
"Mungkin tuan menyukai hutan, Non." sahut Megan.
"Bisa jadi karena namanya serigala hitam," sindir Leoni.
Keduanya tertawa bersama. Leoni seperti biasa tangannya menyentuh setiap kuntum bunga yang ia suka. Saat sedang menghirup bunga. Megan bertanya, "Nona, apakah gosip itu benar?" tanya Megan. Di hotel tadi pagi Megan tanpa sengaja mendengar Andre sedang bercerita dengan salah satu anak buah Louis mengenai Leoni yang hampir saja membunuh Lousi di kamar hotel.
"Gosip apa?" Leoni kaget dia hampir saja menghirup serbuk bunga masuk ke hidungnya. Leoni mengangkat kepalanya.
Megan tidak menjawab, dia menunduk malu karena tidak enak bertanya hal yang sensitif kepada majikannya.
"Ohhh...aku tau maksudmu. Mengenai aku lukai tuan Black wolf?" ujar Leoni.
"Benar, Nona." sahut Megan merasa tidak enak.
"Aku tidak sengaja. Aku pikir dia akan memperkosaku," sahut Leoni.
"Tapi, anda dan tuan Louis sudah menikah, Non." Megan merasa tidak pantas jika Leoni mengatakan Louis akan memperkosanya.
♥️♥️♥️
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Louis baru pulang dari markas. Mafia itu buru-buru masuk ke kamar namun sama sekali tidak menemukan Leoni.
"Kemana dia?' tanya Louis.Seraya mencari keberadaan Leoni di kamar itu. Dia berjalan ke arah balkon di sana juga tidak ada Leoni. Louis masuk lagi ke kamar ia menemukan barang-barang Leoni masih ada. Pria dua puluh sembilan tahun itu menghela napas lega, setidaknya Leoni tidak kabur dari Mansion.
"Jangan-jangan dia marah? Karena aku pergi nggak pamit dia?" gumam Louis. Seraya berjalan keluar dari kamar untuk mencari Leoni.
Louis pikir mungkin Leoni marah karena setelah keduanya pulang dari hotel. Leoni memilih tidur karena merasa tubuhnya sangat lelah. Louis yang melihat Leoni tidurnya sangat pulas. Ia nemilih pergi ke markas tanpa berpamitan dengan Leoni lebih dulu.
Saat Louis melewati koridor dia bertemu dengan seorang pelayan yang sementara membersihkan koridor. Pelayan itu menunduk.
"Tuan..." sapanya.
"Apakah kau melihat, Nona Leoni?" tanya Louis cemas.
"Nona sedang menyiapkan makanan bersama para pelayan," sahut Pelayan itu.
__ADS_1
"Oh...;Baiklah. Katakan pada Nona aku sudah pulang," perintah Louis.
Sudah menjadi kebiasaan Louis. Jika ia pulang dari markas atau dari mana saja. Biasanya Amelia atau wanita simpanan dia lainnya sudah menunggu dikamar untuk membantu melepaskan pakaian dan sepatunya.
Louis kembali ke kamar menunggu Leoni. Pelayan itu bergegas ke dapur menemui Leoni.
"Nona..." panggil pelayan.
"Ya ada apa?" tanya Leoni seraya meletakkan pai labu yang barusan ia keluarkan dari oven di atas meja.
"Tuan sudah pulang. Anda ditunggu tuan di kamar." jawab pelayan itu ragu-ragu.
"Biarkan saja. Dia bukan anak kecil yang harus diperhatikan, bukan?" sahut Leoni cuek. Istri Louis itu justru menghirup aroma Pai.
Pelayan itu masih tetap berdiri didepan Leoni, " Nona, Saya mohon selamatkan nyawa saya. Karena jika anda tidak ke kamar berarti saya pasti akan dibunuh tuan," mohon pelayan itu berkaca-kaca.
"Kejam sekali!" Leoni menghela napas.
"Baiklah aku akan ke kamar. Jangan takut lagi ada aku yang melindungi kalian disini," ucap Leoni.
"Terima kasih Nona."Para pelayan sangat senang mendengar ucapan Leoni barusan. Tidak seperti Amelia yang selalu bertindak sesuka hatinya.
Leoni sudah berdiri di depan pintu dia menarik gagang pintu lalu mendorong pintu kamarnya. Sebelum masuk Leoni memasukkan kepalanya mengintip apakah ada Louis atau tidak. Setelah ia melihat tidak ada Lousi di kamar barulah Leoni masuk ke kamar.
Leoni duduk di Kursi seraya memainkan ponselnya.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka. Leoni melihat ke arah pintu kamar mandi, betapa kagetnya Leoni ketika melihat pria itu yang berjalan ke arahnya. Pria itu hanya mengenakan handuk putih lilit dipinggang seraya tangannya menggosok rambutnya dengan handuk putih kecil.
Leoni menelan salivanya, dia baru melihat Louis dengan benar-benar. Pria itu sangat tampan.
"Astaga...dia sangat tampan." gumam Leoni berusaha menelan salivanya tapi tenggorokannya tiba-tiba kering. Gegas ia berdiri ke arah nakas meraih cangkir berisi air lalu meneguk hingga tandas.
Leoni berulang kali bertemu dengan pria ini di Medan tempur. Namun, yang ia lihat pria itu berkulit hitam, wajah kasar dan mengerikan.
Tetapi, malam ini dia sama sekali tidak menemukan kulit hitam dan berwajah kasar. Sejauh dari apa yang dia lihat selama ini.
Louis sangat maskulin, sekeras batu dan berotot, besar, dan menakutkan. Rambutnya hitam acak-acakan, bibirnya sangat kaku tapi tidak mengurangi sensualitasnya. Alisnya lebar, hidungnya mancung dan keras sementara rahang perseginya itu halus membentuknya indah dan terkesan agresif.
__ADS_1
"Wajahnya sangat tampan. Betapa mengerikannya dibalik wajah tampan itu Monster yang dingin tidak punya hati, penuh dendam. Patut di sesali pria yang memiliki wajah malaikat tapi berhati setan." batin Leoni. Dia meremas cangkir di tangannya. Tanpa ia sadari Louis tersenyum melihat Leoni yang sedang terpukau dengan dirinya.