Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 46.


__ADS_3

Suasana hati Leoni sangat buruk. Sejak kejadian siang itu dia sama sekali tidak keluar dari kamar. Wanita sembilan belas tahun itu terus mengurung diri di kamar.


Tok...tok...tok...


"Non... waktunya makan malam," panggil Megan. Ia terpaksa datang memanggil Leoni di kamar karena sudah hampir pukul delapan malam Leoni sama sekali tidak muncul di meja makan.


Leoni yang sedang menonton telenovela sembari memeriksa email di ponselnya, mengangkat kepala menatap ke arah pintu.


"Masuk...Megan!" jawab Leoni dari kamar.


Megan pun menarik gagang pintu sebelum masuk dia menyembulkan kepalanya dari depan pintu, memastikan Louis berada di kamar atau tidak sambil berkata, " Non memanggil saya?" tanya Megan memastikan.


"Ya... masuklah." suruh Leoni.


"Permisi..." Megan masuk ke kamar Leoni sangat sopan.


"Hmmm...duduk." suruh Leoni.


Megan pun duduk di sofa berhadapan dengan Leoni.


"Apakah kau melihat suamiku sudah berangkat?" Leoni berusaha menahan malunya dia ingin memastikan dugaan dia benar atau salah.


"Bukankah anda adalah istri tuan Louis? Lalu mengapa nona bertanya hal itu kepada saya. Maaf saya seharian di paviliun menemani Bella tugas yang Nona berikan kepada saya kemarin," jelas Megan


"Oh...maaf aku lupa. Baiklah lupakan masalah suamiku. Malam ini kau dan Wilda temani aku di kamarku," ucap Leoni.


"Baik Non."


"Non... jam makan malam sudah hampir lewat," ujar Megan.


"Aku tidak ada selera makan," sahut Leoni.


"Kalau begitu izinkan saya membawa makanan Nona ke kamar saja." tawar Megan.


"Hmmm...tidak perlu. Aku tidak lapar, Megan." sahut Leoni.


"Baiklah, saya permisi Non." jawab Megan.


Orang kepercayaan Leoni pun keluar dari kamar Leoni. Membiarkan Leoni berperang dengan perasaannya sendiri.


💜💜💜💜


Waktu pukul sepuluh malam, sesuai perintah Leoni, Megan dan Wilda masuk ke kamar Leoni keduanya akan menemani Leoni di kamar. Keduanya duduk di sofa menemani Leoni nonton namun Wilda terus saja menguap.

__ADS_1


"Tidurlah jangan merasa tidak enak," suruh Leoni saat Wilda dan Megan pun duduk menunggu Leoni tidur.


"Tapi...Non." jawab Wilda.


"Aku tidak mengantuk mungkin efek siang tadi aku kebanyakan tidur," bohong Leoni. Padahal dia tidak sabar menunggu besok pagi. Leoni ingin memastikan ada gosip atau tidak tentang suaminya dan Amelia.


Karena keduanya sangat lelah akhirnya mereka pun memilih tidur lebih dulu.


Sementara Leoni berjalan ke arah ranjang dia duduk bersender di headboard ranjang sembari memeriksa email yang masuk. Meskipun ia berulang kali menguap namun wanita itu tidak bisa tidur. Leoni juga berusaha membaca beberapa novel fantasi namun teta saja dia tidak bisa tidur.


"Mengapa aku nggak bisa tidur? Padahal biasanya kalau selesai baca novel fantasi aku langsung tidur. Tetapi, malam ini aku justru merasa gelisah." Leoni menggigit bibir bawahnya, ia berusaha memejamkan mata namun tiba-tiba bayangan Louis muncul.


Leoni sangat kesal dia membuka mataagi lalu tangannya menepuk keningnya, "Kenapa justru wajah ia yg nongol di ingatan aku," batin Leoni.


🔮🔮🔮🔮🔮



Louis dan Andre sudah tiba dia Paris. Karena penerbangan Spanyol ke Paris hanya dua jam. Louis dan Andre memilih tinggal di hotel. Mafia itu duduk di balkon kamar berulang kali dia mencari nomor Leoni. Namun, mengurungkan niatnya tidak menghubungi Leoni dulu.


"Argh... persetan! Lagian dia selalu saja cari masalah denganku," gerutu Louis.


Mafia itu sama halnya dengan Leoni. Dia tidak bisa tidur.


"Tidak bisa." sahut Andre.


"Ya udah kita ke club' aja, minum-minum disana. Daripada bengong di kamar hotel." ujar Louis.


"Tapi kau berjanji tidak nakal kita hanya minum saja. Aku tidak ingi. mau terus melukai hati istrimu." sahut Andre.


"Tidak. Aku tidak mungkin melakukan hal itu."


Louis akhirnya menelepon Andre, keduanya memilih menghabiskan waktu di club' malam hingga subuh.


🪩🪩🪩🪩🪩🪩


Leoni mengerjap karena pantulan sinar mentari mengenai wajahnya. Wanita itu bergegas masuk ke kamar mandi usai membersihkan dirinya Leoni keluar dari kamar mandi.


Setelah mengenakan pakaiannya Leoni pun berjalan keluar dari kamar untuk sarapan karena perutnya sangat lapar.



"Pagi Non..." sapa pelayan yang sedang membersihkan ruang keluarga.

__ADS_1


"Hmmm...pagi juga." sahut Leoni dingin.


Suasana hatinya belum membaik apalagi semalam Leoni sama sekali tidak bisa tidur. Leoni berjalan melewati koridor menuju ruang makan, mencoba menyakinkan diri sendiri bahwa apa yang dilakukan suaminya tidak berpengaruh baginya. Hanya saja rasa malu itu terus mengusik dirinya.


Perasaannya semakin buruk ketika ia melihat Amelia sedang bercengkrama dengan Kepala pelayan. Pria tua yang biasa di panggil tuan Robert itu sangat akrab dengan Amelia. Robert duduk berhadapan dengan Amelia di meja makan, khusus Louis dan Leoni.


Amelia terus menyuapkan sarapannya ke mulutnya sesekali ia tertawa bersama Robert. Suasana di meja makan itu menunjukkan bawah Amelia di terima di mansion itu dengan baik meskipun dia hanya wanita pe"""mu"as tuan Louis. Sedangkan istri sahnya tidak. Leoni berani mengatakan itu karena selama ia di masion Robert sama sekali belum menyapa dirinya apalagi sampai tertawa bersama seperti saat ini dia dan Amelia.


Leoni pun melihat dengan jelas suasana hati Amelia sangat baik pagi itu. Dia yakin kalau Louis benar-benar menghabiskan waktu bersama Amelia.


Robert dan Amelia terdiam saat mereka melihat Leoni berjalan ke arah meja makan.


Leoni berpura-pura tidak tau. Ia sama sekali tidak melihat ke arah mereka. Namun, ia terus berjalan ke arah kapel meskipun ia tahu ibadah pasti sudah selesai tapi dia tetap memaksa diri ke sana seolah-olah itu tujuan awalnya.


Leoni terus berjalan melewati kapel. Ia meninggalkan mansion utama dan melangkah ke arah sinar mentari pagi.


Mafia itu menemukan ide saat ia berada di bawah sinar mentari. Gegas ia menelpon Megan.


"Siapkan mobil kita akan ke markas sebentar," suruhnya melalui sambungan telepon.


"Tapi, Non. Saya takut jika tuan pulang tidak mendapati non di mansion miliknya," sahut Megan kwatir


"Mengenai suamiku itu urusanku. Tugasmu melaksanakan apa yang kuperintahkan," Leoni kesal. Orang kepercayaannya kenapa lebih takut terhadap Louis daripada dirinya.


Megan pun segera ke ruang bawah tanah Ia mengeluarkan mobil milik Leoni yang terparkir di sana.


Setelah mesin mobil di hidupkan. Megan menghubungi Leoni lagi. Mafia cantik itu sangat bahagia karena hari ini dia akan ke markasnya berlatih menembak dan memanah lagi.


"Biar aku yang mengemudi," ujar Leoni saat Megan membuka pintu bagian kemudi.


"Baiklah." Megan tidak membantah dia pun kembali ke pintu bagian kanan. Karena Leoni yang mengambil alih kemudi.


Namun, saat Leoni hendak menginjak pedal gas mobil. Robert dan Amelia berlari ke mansion depan. Robert meminta anak buah yang berjaga di depan pintu masuk mansion, tidak membuka portal pintu.


"Jangan izinkan Nona pergi!" seru Robert seraya berlari menuruni anak tangga terakhir.


Leoni keluar dari mobil ia membanting pintu sangat kasar, " Kenapa kau menghalangi aku? Tidak kah kau tahu aku adalah istri dari tuanmu?" ucap Leoni kesal.


"Aku tahu. Tapi, maaf aku di perintahkan tuan untuk mengawasi Nona. Maafkan saya, saya hanya melaksanakan tugas saya." Robert membungkuk. Berharap Leoni memahami posisinya.


Namun, Leoni memberi kode kepada Megan. Dengan cepat Megan mengeluarkan dua buah pistol dari pinggangnya lalu pistol di bagian tangan kirinya ia arahkan ke anak buah yang berjaga di depan pintu masuk mansion meminta pintu dibukakan dan tidak ada yang menghalangi mereka pergi. Dan satu tangan lagi ia arahkan ke Robert dan Amelia l.


Robert mengangkat tangannya dia pasrah. Sementara Amelia hanya tersenyum sinis melihat Leoni pergi dari markas tapi tidak membawa barang-barang miliknya.

__ADS_1


"Harusnya dia pergi membawa sertakan semua barangnya!" gerutu Amelia dalam hati.


__ADS_2