Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 33.


__ADS_3

Louis baru saja pulang, Mafia itu pergi bersama Felix bertemu seorang Mafia berasal dari Rusia. Mafia itu kembali ke mansion larut malam.


Setelah pertengkaran hebat dan salah paham antara dia dan Leoni, di mansion Red Tiger. Louis kembali Ke Mansion Black wolf hanya sebentar. Itu pun pria itu hanya untuk berbicara empat mata dengan Amelia.


Louis menaiki anak tangga berjalan menuju ruang bawah tanah karena dia tahu Andre pasti menunggu dia disana. Louis tidak mau mikirin pertemuan dia kemarin dengan Amelia karena semakin dia memikirkannya, semakin buruk suasana hatinya.


♥️♥️♥️♥️♥️


Selama perjalanan pulang dari red Tiger Louis memikirkan semua ucapan Leoni. Istrinya itu memang tidak mengatakan dirinya cemburu. Tapi Louis mengerti dengan setiap ucapan Leoni dan nada bicara Leoni. Wanita itu tidak suka suaminya menjadi pria bebas yaitu memiliki simpanan dimana-mana seperti persimpangan lampu merah.


"Panggilkan Amelia, suruh dia ke kamarku." perintah Louis kepada salah satu pelayannya. Dengan emosinya yang tidak stabil, penampilannya acak-acakan, Louis mendorong pintu kamar lalu pria itu berjalan sempoyongan masuk ke kamarnya. Ia menghempaskan tubuhnya diatas sofa kamarnya, tangannya memijit keningnya, karena kepalanya mendadak sakit.


"Hmmm..." Helaan napas berulang kali ia hembuskan.


Tidak menunggu lama, Amelia mengetuk pintu.


Tok...tok...tok...


"Masuk!" perintah Louis.


Amelia masuk. Wanita itu tidak berani menatap Louis. Dia takut Selama kepergian Leoni, Louis seperti orang yang tidak memiliki nyawa. Raganya hidup namun jiwanya seperti mati. Pria itu kadang seperti zombie yang mendadak ingin melukai orang di sekitarnya.


"Tuan, anda memanggilku?" tanya Amelia ragu-ragu. Wanita itu terus menunduk, untuk menghilangkan ketakutanya ia merem*as jemarinya sembari menggigit bibir bawahnya.


Amelia yang biasanya menyukai dipanggil Louis namun sejak kepergian Leoni, panggilan Louis seperti panggilan malaikat pencabut nyawa yang dirasakan Amelia.


"Ya. Duduk atau kau mau tetap berdiri selama aku berbicara?" Louis sama sekali tidak menatap Amelia.


Mafia itu terus melihat kearah samping, dengan kaki kiri di naikkan diatas paha kanannya. Jari telunjuknya ia gosok-gosok di dagunya menandakan dia sedang banyak pikiran.


Amelia mendudukkan pantatnya di sofa dengan sangat hati-hati.


"Kau tahu besok istriku akan kembali ke sini?" tanya Louis.


"Tidak, Tuan." sahut Amelia.


"Karena kau tidak tau makanya aku panggil kau sini untuk memberitahumu." Louis tersenyum sinis.


"Baik tuan, sekarang aku sudah tahu." sahut Amelia pelan hampir tidak kedengaran Louis.


"Itu artinya kau harus kembali ke tempat asalmu," ujar Louis seraya menggosok dagunya, sesekali pria itu menarik cerutunya lalu mengepulkan asap cerutu itu mengepul diatas kepalanya.


"Tapi...tuanku..." Amelia berhenti sejenak dia menghela napas, air matanya berlomba-lomba keluar membasahi pipinya mencari belas kasihan dari Louis, "Saat ini aku sedang hamil anakmu." suara Amelia bergetar dan tangisnya pun pecah.


Louis sama sekali tidak menanggapi kehamilan Amelia. Bukan seperti pria lain pada umumnya yang antusias begitu mendengar wanitanya tengah hamil benih cinta mereka.


"Hikz...hikzz..hikz..." Amelia terus saja menangis.


Louis semakin kesal melihat air mata Amelia," Apa kau lupa diantara kita tidak ada cinta? Kau melayaniku dan aku membayar upahmu. Terserah dirimu jika kau menyimpan cinta untukku tapi jangan memaksa aku untuk mencintai kau juga," Louis tersenyum misterius.


"Tuanku, aku mohon pikirkan lagi keputusanmu ini lagi. Bukan demi aku tapi demi bayi ini." pinta Amelia. Dia mengusap perut ratanya mencoba mencari perhatian Louis.


"Okey...kau boleh tinggal disini. Syaratnya...kau sama sekali tidak menampakkan batang hidungmu di mansion utama. Dan kau tinggal di sini hanya sampai anakmu lahir. Setelah dia lahir, serahkan anakmu kepadaku lalu kau harus meninggalkan mansionku saat itu juga." Louis menatap tajam Amelia, sorot matanya menunjukkan bahwa dia tidak main-main dengan ucapannya itu.

__ADS_1


Usai mengatakan seperti itu Louis mengambil ponsel lalu mengirimkan pesan kepada Andre. Tidak menunggu lama Andre mengetuk pintu pria tua masuk membawa beberapa lembar surat lengkap dengan materai.


"Tanda tangan di sini. Ini surat perjanjian, Kau tau akibatnya jika kau sudah menanda tangani nya ?" Louis mendorong surat itu ke hadapan Amelia beserta pena juga.


Amelia membaca semua isi perjanjian dan syarat yang diketik Andre dalam hitungan menit tadi. Usai membaca Amelia menatap Louis.


"Aku setuju. Aku berjanji tidak akan mengganggu Louis. Dan tidak akan menimbulkan masalah diantara Louis dan Leoni." janji Amelia. Lalu wanita itu menandatangani surat diatas materai itu.


Louis tidak menjawab pria itu seperti memikirkan hal lain, " Akan lebih baik kau tinggal di apartemenku. Di sana ada pelayan dan kau tidak sendirian," ucap Louis.


Pria itu tidak yakin dengan Amelia. Dia tidak ingin istri kecilnya di ganggu terus saat dia tidak ada di mansion. Louis tahu Leoni bukan wanita yang gampang di bully tapi dia yakin di mansion dia, Leoni tidak mungkin membunuh orang-orang yang tinggal dimansionnya sesuka hati Leoni, bukan?


"Tapi kenapa, tuanku? Istri anda tidak mengetahui tentang hubungan kita." bohong Amelia.


"Tentu saja___" sela Louis.


"Kenapa kau kwatir bukannya aku sudah menandatangani perjanjian yang kau buat? Dan di sini tidak ada wanita yang bisa mengajak istrimu bercerita, 'kan? Selain para pelayan yang berkeliaran di mansion besarmu. Aku pikir dia akan senang dengan keberadaanku di sini. Aku mohon, pertimbangkan lagi keputusanmu." pinta Amelia. Dan wanita itu mulai menangis lagi.


"Baiklah..sesuai perjanjian yang kau tanda tangan.Ingat itu!" Louis memperingati Amelia. Louis mengambil surat yang sudah di tandatangani Amelia lalu menyimpan dalam brankas pribadinya.


Amelia masih belum keluar dari kamar . Louis menoleh melihat Amelia yang terus memperhatikan dirinya.


"Keluarlah dari kamarku!" bentak Louis.


Amelia mendengar suara bentakan Louis. Wanita itu bergegas keluar dari kamar.Dan merasa menang dengan pengakuan dirinya hamil itu artinya dia masih aman berada di mansion milik Louis.


Setelah bertemu Amelia, Louis berjalan keluar dari kamar dia menemui Andre yang sedang berbaring di sofa ruang tamu.


"Besok pukul tiga pagi, kau bersama tiga anak buah lagi segera ke mansion red Tiger." ucap Louis.


"Kau gila pergi bertamu jam tiga pagi? Aku bisa di bunuh di sana karena diduga akan menyerang mereka." Andre tidak percaya dengan perintah Louis yang konyol.


"CK...Aku serius. Jemput istriku kembali ke mansion. Katakan padanya bawa semua barang-barangnya termasuk pakaian dan barang pribadi dia. Semuanya di bawa karena dia akan tinggal selamanya di mansion ini." ujar Louis.


Pria itu memeriksa pistolnya memastikan pelurunya sudah terisi atau belum. Setelah memastikan semuanya terisi Louis meletakan di pinggangnya.


"Lalu... Kau mau kemana lagi, Louis?" Andre merasa Louis benar-benar sudah tidak waras setelah tadi pulang dari mansion red Tiger.


"Aku akan pergi sebentar. Besok aku pulang, istriku pun sudah ada di mansion ini." Usai mengatakan itu Louis pun pergi. Pria itu memacukan mobil mini Cooper hitamnya dengan sangat kencang.


Andre menarik kasar rambutnya. Dia pikir ide gila Louis ini membawa dia ke ambang kematian.


Bagaimana ia tidak berpikir begitu, di negara manapun tidak dibenarkan tamu berkunjung dengan pukul tiga pagi.


"Dia benar-benar gila!" gerutu Andre.


😋😋😋😋😋😋


Louis menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanah perasaan samar yang menggelisahkan dan tidak bisa dijelaskan mengganggu pikiran Louis.


Tetapi, perasaan itu terlupakan begitu dia melihat Andre sedang bermain game online di laptop di ruang bawah tanah.


"Dia pasti menungguku," Lousi tersenyum bahagia.

__ADS_1


Semua sudah tidur hanya Andre yang setia menunggu Louis. Andre sibuk bermain game onlinenya dia berpura-pura tidak melihat Louis. Mafia itu datang dan duduk sofa di samping Andre.


"CK...kau ingat pulang juga? Tahu tempat tinggalmu juga? Aku pikir kau pria bebas yang bebas kemana saja, 'kan?" sindir Andre.


Pria tua itu sangat kesal. Atas perintah dia pergi ke mansion red Tiger untuk menjemput Leoni dengan pukul tiga pagi. Dia dan ketiga anak buah itu hampir saja menyerahkan nyawa mereka secara gratis ke malaikat pencabut nyawa sebelum waktunya.


Mafia itu dengan tanpa merasa bersalah duduk santai sembari memasang senyum pada Andre.


"Hmmm...." sahut Louis meluruskan kakinya. Pria itu terlihat sangat capek, bukan hanya tubuhnya tetapi pikirannya juga, kantong matanya sangat hitam, dan kulit wajahnya begitu kusam.


"Seperti ini kah rasanya orang jatuh cinta?" tanya Andre.


"Aku tidak tahu, Ndre. Tapi aku baru merasakan setelah dia pergi dari aku. Dan kemarin setelah pertengkaran itu aku pikir aku tidak ada harapan lagi untuk memiliki dia." Louis memejamkan matanya.


Andre menepuk pelan bahunya, "Kau terlihat begitu berantakan," lirih Andre


Bagaimana pun dia tahu perasan Louis, karena pria tua ini sangat mengenal Louis. Dia yang merawat Louis sejak kecil dan mengikuti Louis kemanapun pria itu pergi.


"Bagaimana dengan dia?" tanya Louis. Entah sadar atau tidak air matanya luruh dari pulupuk matanya membasahi pipinya.


Kali pertama Andre melihat Louis menangis. Masih Andre ingat dulu kedua orang tuanya meninggal Louis hanya diam seperti patung hidup. Namun, Leoni mampu membuat Pria itu menangis untuk pertama kalinya.


Louis mengangkat kepalanya menahan air matanya yang akan keluar lagi. Lalu ia menatap Andre," Apakah kalian tidak mendapatkan masalah?" tanya Louis lagi ia sangat penasaran.


"Ada... ketika salah satu anak buahnya hampir saja menembak kami." cerita Andre.


"Sudah ku duga. Apakah dia?" sela Louis.


Andre terkekeh melihat raut wajah Louis.


"Tidak sama sekali." Andre tau maksud Louis adalah Leoni apakah wanita itu menyerang mereka atau tidak.


Louis tersenyum, "Bagaimana reaksinya?" Louis penasaran.


"Dia tidak tersenyum atau terlihat bahagia melihat kami, jika itu maksudmu. Dia hanya menginginkan penegasan bahwa perintahmulah yang mengharuskannya ke sini. Setelah itu, dia sama sekali tidak mengulur-ngulur waktu mempersiapkan diri." cerita Andre.


"Dan di sini?" Louis memotong pembicaraan Andre.


"Tidak banyak yang bisa di ceritakan. Kurasa dia mengharapkanmu berada di sini ketika tiba. Ketika melihat kau tidak ada dia masuk ke kamar tidurmu dan tidak menampakkan diri lagi. Kedua pelayan yang ikut bersama dia pun ada di sana bersamanya." timpal Andre.


"Pelayannya berada di kamar juga? Bagaimana kami bisa berbagi kamar? Apa kau tidak membawa mereka ke paviliun?" Louis kaget. Bola matanya hampir saja keluar.


"Segeralah bawa kedua pelayan itu pergi dari kamarku," perintah Louis.


"Tentu." Andre terkekeh.


Keduanya berjalan menuju kamar Louis. Andre akan membantu kedua pelayan itu ke paviliun.


"Ternyata kau memiliki perasaan juga...buka pintunya dan temui dia." Andre menepuk bahunya lagi. Meminta Louis membuka pintu kamar miliknya segera.


"Aku belum yakin dia akan menjadi milikku seutuhnya. Ada sesuatu yang akan menghalangi kami kedepannya. Sungguh itu bukan perbuatanku," ucap Louis. Pria itu membuka pintu kamar alaku .eknagakh masuk ke kamarnya Andre menatapi punggung Louis. Dia bisa merasakan Louis sangat lelah dengan semua masalah dalam hidupnya namun pria itu berusaha sanggup menghadapi masalah itu meskipun terkadang dia ingin menyerah.


"Ada yang mencoba menghalangi hubungan mereka? Masalah apalagi?" Andre berusaha mencerna setiap kalimat yang diucapkan Louis.

__ADS_1


Pria tua itu berharap tidak ada cobaan lagi dalam rumah tangga Louis dan Leoni. Karena, bagaimana pun Louis pun hanya manusia biasa yang ingin dicintai wanita yang ia cintai.


__ADS_2