
Foto keluarga itu terlihat sangat indah dan bahagia hingga Louis sampai melupakan kalau Leoni pernah diabaikan ayahnya sejak Rayani, ibu Leoni meninggal.
"Ayah seperti apa kau ini hingga tega mengabaikan anakmu selama lima belas tahun hanya karena seorang wanita tidak berguna?" gumam Louis. Akhirnya seberkas kebencian itu muncul dihatinya untuk membenci Wiliam, ayah dari Leoni itu. Mafia itu tidak sanggup melihat wajah polos Leoni, dan mata yang indah di foto yang ia pegang itu pernah mengalami masa kecil yang pahit, hingga membuat Louis mendesa""h menahan amarahnya.
Mata Leoni berkaca-kaca ketika melihat Louis menyentuh fotonya begitu lembut dan penuh perasaan cinta yang tidak pernah diungkapkan Louis kepada dirinya. Louis masih belum menyadari kehadiran Leoni, ia masih berdiri di depan lemari dengan keadaan lemari masih terbuka.
"Eheem..." akhirnya Leoni berdehem karena ia melihat pakaian yang dikenakan Louis sudah basah jika dibiarkan kwatir keadaan Louis kembali memburuk.
Louis menoleh mencari keberadaan suara itu, ia menunjukkan pigura itu kepada Leoni dan menaikkan bahunya. Sementara Leoni hanya menatap Louis, dengan pandangan kosong kedepan ekspresinya tak terbaca.
Louis yang salah tingkah tidak dapat berkata-kata lagi, ia tidak ingin Leoni salah paham tentang dirinya lagi. Dengan cepat dan hati-hati dia meletakkan lagi pigura itu ke dalam lemari dan menutup pintu lemari kembali seperti semula lalu perlahan berjalan ke arah ranjang. Kemudian dengan perlahan ia duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
Leoni mengikutinya juga ke arah ranjang mereka yang sejak lama ditinggal Louis. Suasananya menjadi hening, sampai akhirnya Leoni yang bersuara lebih dulu.
"Jika kau mau mencari obat-obatanku, Suamiku, Andre orang kepercayaanmu itu harusnya memberitahumu kotak berisi obat-obatanku berada di laci nakas bukan di dalam lemari." ucap Leoni seraya menarik kursi yang terbuat dari kayu pilihan di depan nakas lebih mendekat ke tepi ranjang lalu ia pun duduk di kursi ia menghadap ke arah Louis.
Louis yang merasa serba salah mende""sah, "Seharusnya dia melakukannya."
"Tapi aku akan melarangmu melakukan itu. Kau bisa lebih melukai dirimu sendiri jika tidak memahami obat-obatan itu." sela wanita itu. Leoni hening sejak sementara Louis masih duduk di tepi ranjang tetapi ia mulai merasa gelisah dengan semua perkataan Leoni.
Louis mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Leoni, ia ingin sekali meraih tangan indah itu lalu mengecupnya namun ia tidak memiliki keberanian itu. Rasa bersalahnya terhadap Leoni begitu besar hingga menyentuh Leoni pun ia merasa tidak pantas.
"Kau bersedia?" sahut Louis cepat dngen suara yang sangat lembut. Antara bahagia dan sedih semua bercampur menjadi satu. Matanya membelalak bibirnya tersenyum hingga membuat Leoni berpaling, merasa gelisah dengan nada yang tiba-tiba menjadi lembut itu.
__ADS_1
"Seharusnya kau menunggu sampai aku datang," timpal Leoni. Wanita itu percaya bahwa yang dilakukan Louis di lemarinya adalah mencari obat yang digunakan dirinya untuk mengobati Louis.
Mata Louis benar-benar tidak ingin berpaling dari wajah cantik yang sejak lama ia rindukan itu, " Tapi aku tidak yakin kau akan ke kamarku."
Leoni menatap mata Louis. Jelas mafia itu belum mendengar berita tentang bagian keuangan perusahaannya. Tetapi ia tahu ada sesuatu yang menggangu Louis entah tentang apa Leoni masih belum tahu. Namun, ia berjanji akan menyelidiki apa yang sedang dipikirkan Louis saat ini.
"Alasan apa yang membuat aku tidak akan menjenguk kau di KAMARMU, suamiku?" tanya Leoni seraya menatap tajam Penekanan KAMARMU membuat Louis mengepal.
"Bukannya apa yang kau katakan semua harus tunduk pada perintahmu?"Leoni tersenyum sinis.
"Tapi kau selalu melakukan semuanya sesuka hatimu," sela Louis.
__ADS_1