Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 48.


__ADS_3

Tok...tok...tok...


Mendengar pintu kamarnya di ketuk Leoni memi ta Megan membukakan pintu.


Bibi Gresya sangat mengkwatirkan keadaan Leoni, datang menemui Leoni di kamarnya.


"Nyonya... silakan masuk. Luka Nona baru selesai di obatin," ucap Megan sopan seraya membungkuk.


"Terima kasih." Lalu wanita paruh baya itu melangkah masuk menemui Leoni yang sedang berbaring di sofa. Megan pergi keluar meninggalkan Leoni dan bibi Gresya berbicara berdua di kamar Leoni.


"Bibi...silakan duduk," suruh Leoni.


"Terima kasih. Bagaimana lukamu, masih sakit?" tanya bibi Greysia seraya mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya menyentuh forban di lutut Leoni.


"Udah lebih baik. Efek jalannya lubang makanya aku tersandung luka ini terkena pinggiran lubang jalan." Leoni menceritakan kejadian dirinya jatuh.


Bibi Gresya menghela napas, Ia merasa lega setidaknya luka itu bukan karena di serang musuh.


Tetapi selain mengkwatirkan keadaan Leoni, ia menemui Leoni atas perintah sang suami. Pasangan suami istri itu merasa ada yang tidak beres dengan rumah tangga Leoni dan Louis.


Bibi Gresya menarik napas lalu bertanya, " Bagaimana keadaan suamimu, sehat? Dan maaf jika kamu berpikir bibi ikut campur tapi sebagai orang tuamu bibi harus bertanya, apakah kau ke sini sudah meminta izin kepada suamimu atau tidak? Karena, bibi tidak ingin suamimu marah atau membuat keributan seperti dulu lagi. Bibi pikir kau masih ingat ulah suamimu jika kau pergi tanpa izin dari mansionnya." Bibi Gresya menelisik bola mata Leoni. Dia merasa ada yang aneh karena anak asuhnya itu terus menunduk dan berusaha menghindari tatapan bibi Greysia.


"Leoni ke sini tanpa izin dia, bibi. Bibi tahu sendiri suamiku jarang sekali berada di mansion. Karena, bosan aku mengajak Megan ke sini untuk latihan menembak dan memanah. Namun, kejadian ini di luar prediksi aku. Kami di serang dan Rey menembak roda mobil aku," cerita Leoni.


Bibi Gresya menarik napas panjang, dia sudah menduga pasti Leoni tidak meminta izin itu artinya hubungan rumah tangga mereka sedang tidak baik-baik saja. Namun, sebagai seorang ibu dan wanita yang pengertian. Gresya tidak ingin ikut campur lebih jauh, dia mengalihkan pembicaraan, " Bibi memasak makanan kesukaanmu." ucap bibi Gresya.

__ADS_1


"Argh...aku akan segera ke ruang makan untuk menikmatinya," sahut Leoni tidak sabaran.


Bibi Gresya menyentuh tangan Leoni, " Kau tetap disini saja kakimu masih sakit. Bibi akan bawakan makananmu ke sini." Gresya tersenyum hangat.


"Terima kasih, bibi atas kepercayaanmu. Bibi tenang saja Leoni dan Louis bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik." Leoni berusaha meyakinkan Gresya.


"Baiklah bibi percaya kau, Nak. Tunggu sebentar bibi ambilkan makananmu dulu." Lalu wanita itu melangkah keluar dari kamar Leoni menuju ruang makan, untuk mengambil makanan favorit Leoni.


Di ruang makan Roy tampak gelisah, ia terus melirik ke arah koridor menunggu Greysia. Benar saja, saat ia hendak berdiri dari kursi Greysia datang.


"Kau tampak gelisah." ujar Gresya seraya menarik kursi untuk duduk.


"Bagaimana tidak gelisah. Kau tahu, 'kan apa yang aka terjadi jika Louis mengetahui istrinya datang ke sini." sahut Roy.


Greysia mengusap punggung Suaminya, " Tenanglah ingat kau memiliki riwayat darah tinggi aku tidak ingin kau sakit."


"Dugaanmu benar, suamiku. Leoni dan suaminya sedang ada masalah Tapi, menurut aku, mereka berdua sudah dewasa semua aku yakin Leoni dan Louis pasti bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik." sahut Gresya seraya menyiapkan makanan Leoni.


"Sudah aku duga. Anak itu belum siap menikah tetapi karena ibu tirinya gila harta tega memaksa anak itu menikah di usia muda." Roy mengusap kasar wajahnya. Sebenarnya dia tidak tega setiap kali melihat Leoni kembali ke mansion dengan kasus yang sama yaitu bermasalah dengan Louis. Roy tidak mengetahui secara detail masalah apa hingga anak asuhnya sering sekali kabur dari Louis.


"Sudahlah mau bagaimana lagi. Mereka sudah menikah sah, kewajiban kita hanya mendoakan agar hubungan rumah tangga mereka bisa langgeng dan harmonis selalu." sahut Gresya seraya menata makanan Leoni di atas Napan.


"Hmmm...ayah tau itu. Tapi, bagaimanapun sebagai orang tua, aku harus memberitahu kejadian tadi kepada Louis, suaminya harus mengetahui semuanya. Karena, Rey sudah berani menyerang Leoni.Untung saja Megan menghubungi aku. Argh...aku tidak bisa bayangkan semenit aja aku telat ke sana Leoni pasti sudah tewas di tangan Rey." Roy menggelengkan kepala dia tidak berani membayangkan jika Leoni benar-benar tewas itu artinya Rey sudah menyatakan perang antar kelompok Mafia.


"Aku kwatir suamiku. Louis pasti akan marah Leoni. Pria itu aneh, dia menyatakan mencintai Leoni tapi ibu heran mengapa Leoni terus saja kabur dari mansionnya?" Greysia memanggil salah satu pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamar Leoni.

__ADS_1


"Ya udah ibu mau antara makanan Leoni dulu. Lakukan saja apa yang menurut ayah benar. Tapi, saran ibu jangan sampai kita menambah masalah rumah tangga mereka." pesan Gresya.


Roy diam tidak menjawab ucapan istrinya lagi. Pria tua itu tahu Louis pasti akan marah jika ia tahu Leoni pergi dari mansion tanpa pengetahuan dirinya. Tapi, jika ia menutupi masalah ini, Louis tetap saja tahu. Karena, pria itu memiliki banyak jaringan.


💜💜💜💜


Sementara di Paris.


Lousi sedang marah besar, pria itu sesekali menggertakan giginya karena bagian keuangan belum juga datang sementara dia sudah menunggu setengah jam lebih di ruang meeting. CEO yang dipercayakan mengurus perusahaan miliknya di Paris sudah ketar-ketir.


"Sampai jam berapa aku harus menunggu dia?" Louis memukul meja. Kesabaran Louis memang setipis tissu toilet.


"Maafkan saya tuan, saya sudah berusaha menghubungi dia tapi nomornya tidak aktif. saya pikir dugaan saya selama ini benar. Dia benar-benar menghabiskan uang perusahaan." ujar CEO itu.


Louis tidak menjawab lagi. Pria itu langsung mengeluarkan ponsel dari kantong celananya, lalu menghubungi Andre.


"Kau segera cari tempat tinggal pria itu," perinta Louis.


Andre yang menunggu di kafe dekat kantor segera melacak keberadaan David.


"Saya berhasil melacak keberadaan dia saat ini. David sementara dalam perjalanan menuju airport," Andre mengirim pesan kepada Louis.


Setelah membaca pesan dari Andre, Louis segara keluar dari ruang meeting. Dia berjalan begitu cepat para karyawan yang melihat dirinya semua menunduk ketakutan.


"Tunggu aku di lobby kita segera menyusul ke airport," perintah Louis.

__ADS_1


Andre sudah menunggu di depan pintu lobby. Dua menit kemudian Louis keluar dari dalam lobby.


"Biar aku yang menyetir. Kau lacak alamat rumahnya aku yakin anak dan istrinya masih di rumah itu. Lalu, jangan lupa telepon orang airport untuk menahan dia di bandara. Biar aku yang urus dia." geram Louis.


__ADS_2