
Louis mengerang ketika ia berusaha bangun untuk meraih ponselnya yang sengaja di simpan Andre di laci nakas. Ia tahu seharusnya ia tidak turun dari tempat tidur, seperti yang berulang kali dikatakan Andre. Ia masih lemah dan lukanya baru di jahit kemarin.
"Kau mau kemana? Berbaringlah yang diam jangan macam-macam apa kau lupa lukamu baru dijahit kemarin?" tegas Andre. Saat dia melihat Louis yang berusaha bangun dari tempat tidur.
"Badanku pegal semua karena berhari-hari hanya tiduran diranjang seperti ini." Bohong Louis. "di mana ponselku?" lanjut Louis lagi.
"Kau harus bersabar makanya sejak awal mau di obatin Leoni jangan merasa gengsi dan mudah terpengaruh dengan hasutan wanita itu. Ponselmu aku simpan di tempat yang aman karena selama kau dalam masa pemulihan kau tidak boleh pegang ponselmu dulu. Kau harus fokus dengan kesehatanmu. Setelah sembuh barulah kau pegang ponselmu." Usai mengatakan itu Andre keluar meninggalkan Louis seorang diri di kamar.
Louis berdecih tidak menyangka Andre bisa setegas sekarang. Dia juga heran mengapa Andre melarang dirinya tidak boleh memegang ponsel selama ia sakit.
__ADS_1
"Ada masalah apa lagi? Di markas? Atau di perusahaan?" batin Louis.
Akan tetapi Louis tidak sabaran. Sejak tahu Leoni mengobatinya dan bukan menjadi penyebab lukanya, Louis ingin menebus sikap kasarnya. Apa yang mungkin dipikirkan Leoni tentang ketidakpercayaan Louis, terutama setelah istrinya itu baru saja membantu dia bebas dari tuduhan membunuh Aditya.
Louis menghabiskan setengah hari bertanya-tanya dalam hatinya apa yang bisa di berikannya kepada Leoni sebagai hadiah istimewa. Ia tidak ingin Leoni berpikir dirinya ingin membeli pemberian maaf Leoni, tetapi Louis ingin memberi istrinya itu hadiah yang indah, sesuatu yang akan di hargai wanita itu.
"Apa yang sebenarnya pantas untuk aku berikan? Tidak mungkin perhiasan, dia wanita yang tidak suka memakai perhiasan meskipun aku tahu di dalam lemari itu dia menyimpan banyak perhiasan miliknya." batin Louis.
"Suami macam apa aku ini? Bahkan aku sendiri tidak pernah tahu barang yang dimiliki istriku? Apa ini pertanda bahwa aku harus lebih banyak bersama dia?" gumam Louis.
__ADS_1
Louis melihat ke arah pintu berharap Andre belum kembali ke kamar agar dia bisa bangun dan pergi ke kamar Leoni. Yakin, bahwa Andre belum datang Louis bergegas turun dari ranjang tentunya berhati-hati karena bahu dan dada ya masih sangat sakit. Ia berjalan dengan hati-hati dan akhirnya sampai keift Louis memilih naik lift karena tubuhnya masih lemah dan dia juga ingin cepat sampai di kamar Leoni. Sesampainya di kamar, Louis menghela napas lega karena istrinya tidak ada di kamar itu.
Louis bergegas membuka lemari khusus milik Leoni di rak lemari pertama dia hanya menemukan pakaian dan di rak ketiga di menemukan perhiasan Leoni dengan berbagai macam branded.
Louis mengamati satu persatu perhiasan yang dimiliki Leoni. Louis mencari lagi di bagian rak bawah tetapi ia tidak menemukan barang mewah lainnya lagi.
Louis mengangkat bungkusan amplop coklat itu dan perlahan ia membukanya ternyata sebuah pigura foto keluarga, ada Wiliam Rayani dan mengampit Leoni di tengah.
"Harta yang berharga?" batin Louis seray melihat foto keluarga Leoni.
__ADS_1
Mafia itu mengamati foto itu dengan seksama tanpa menyadari ada seseorang yang duduk di tepi ranjang sembari memperhatikan dia.