
"Siapa yang datang?" Leoni berdiri dia memasang telinganya memastikan ada apa sehingga terjadi keributan di depan pintu gerbang Mansionnya.
Karena, Leoni tahu Paman Roy sedang pergi. Berarti yang berjaga di depan pintu adalah kepala penjaga yang di tunjuk paman Roy. Leoni tersenyum, dia bangga karena pria itu melaksanakan tanggung jawabnya sangat serius.
Leoni kembali melanjutkan menanam bibit bunga dan dan bibit buah Cherry. Namun, suara mobil itu semakin terdengar memasuki gerbang Mansion. Karena, paman Roy belum bisa kembali hari ini mengingat dia pergi ke Barcelona karena ada urusan yang memakan waktu lama.
Dan harusnya anak buahnya ingat pesan dari Leoni siapapun yang datang ke mansion harus mendapatkan izin dari Leoni baru lah orang tersebut masuk ke dalam mansion.
Leoni meletakan alat pertaniannya ia mencondongkan tubuhnya ke tembok kebun yang rendah untuk menyelidiki siapa yang datang.
Leoni kaget, wanita itu tidak percaya dengan apa yang barusan dia lihat, Mobil warna hitam itu menerobos masuk mansion tanpa menghiraukan peringatan dari anak buah Leoni, " Mobil dengan lambang serigala hitam itu artinya dari mansion Black wolf. Ngapain mereka datang ke sini?" geram Leoni.
Leoni melihat ada seorang pria mengenakan pakaian serba hitam di padu mantel hitam dan memegang pistol di tangan. Pria itu datang tidak sendiri dia di temani Andre dan Murray, anak buahnya.
"Dia? Mau apa lagi ke sini? Mau serang mansionku?" batin Leoni lagi. Napas Leoni naik turun , kedua tangannya mengepal emosi Leoni sudah naik ke atas kepala.
Leoni juga mulai kesal dengan Megan dan anak buahnya yang lain, kenapa tidak ada satu orang pun yang datang melapor kepada dirinya. Padahal sebelum dia berkebun Leoni sudah berpesan dan mengingatkan mereka untuk tidak melupakan hal itu.
Leoni melompat mundur dari tembok pembatas, dia panik mengapa suaminya datang ke mansionnya? Dia tidak takut bertarung melawan seorang Louis tapi di sini banyak anak kecil dan pelayan yang tidak bisa melawan musuh. Leoni tidak mau lagi mengorbankan orang-orang tidak bersalah karena perbuatan Louis.
Karena di Mansion ini dia tidak tinggal seorang diri, dia juga membangun paviliun untuk istri dan anak-anak dari anak buahnya yang tewas.
__ADS_1
"Apa sebaiknya aku sembunyi saja? Biar dia cepat kembali ke mansionnya?" batin Leoni.
Wanita sembilan belas tahun itu, terperangkap di kebunnya sendiri. Leoni pun memutuskan di kebun saja hingga suaminya itu pergi karena dia tidak ingin bertemu pria itu lagi. "Aku disini aja, kemungkinan dia tidak melihatku pasti dia akan cepat pulang," pikir Leoni.
Namun, ternyata Tuhan tidak mengabulkan permohonan Leoni. Karena, tiba-tiba ia mendengar ada langkah kaki berjalan menuju kebunnya, Leoni mengumpulkan keberanian untuk berdiri melihat siapa yang datang. Dan benar itu suaminya, Louis. Pria itu melangkah pasti menuju kebun Leoni.
"Argh...ini pasti karena tadi aku mengintip dari balik tembok tadi. Jadi dia melihat aku di sini." gerutu Leoni.
Dia berusaha bersembunyi di balik pohon Goosebery yang rindang wanita itu duduk berjongkok, berharap suaminya tidak berjalan ke arah kebunnya. Tetapi, semua harapan Leoni sia-sia langkah itu semakin dekat ke arah kebunnya. Leoni menggigit bibir bawahnya berharap suaminya tidak melihat dia dibalik pohon Goosebery.
"Megan kenapa membiarkan dia masuk ke kebunku?" geram Leoni dalam hati.
Dan langkah itu semakin dekat dengan Leoni. Wanita itu memutuskan berdiri daripada menahan malu karena tertangkap basah bersembunyi. Keberuntungan berpihak kepada Leoni, ia lebih dulu melihat suaminya. Leoni yang mengenakan gaun hijau warna tua menyatu dengan keadaan di sekitar ia berdiri, membuat Louis sama sekali tidak melihat dia. Dan Louis tidak menghadap ke arahnya tetapi pria itu berdiri menghadap ke arah depan mansion.
Leoni memperhatikan pakaian yang ia kenakan wanita itu mengernyit gaun yang ia kenakan sangat memalukan, pakaian kebun berwarna hijau tua, rambut panjang pirangnya dikepang lalu tertutup kain agar rambutnya tidak kotor kena tanah. Leoni merasa dirinya sangat terlihat jelek jika ia harus bertemu Louis sekarang, apalagi pria yang berdiri di dekatnya saat ini terlihat sangat tampan meskipun wajahnya sangat menyeramkan.
"Megan...tidak becus kerjanya bisa-bisanya membiarkan dia masuk ke kebunku," batin Leoni. Wanita itu berencana tidak akan memberi Megan bonus bulan ini.
"Di mana dia? Bukannya tadi Megan mengatakan dia sedang berkebun di sini lalu kemana dia?" gumam Louis. Pria itu ingin berbalik dan pergi meninggalkan kebun itu tetapi nalurinya mengatakan Leoni berada di kebun ini.
Louis mencari-cari keberadaan Leoni tapi ia tidak menemukan wanita itu. "Kurang ajar kau, Megan!" Louis sangat marah kepada Megan karena sudah membohongi dirinya.
__ADS_1
"Apa mungkin aku salah dengar? Argh...ini gara-gara aku yang lelah fisik dan pikiran sehingga membuatku bertindak tanpa berpikir," batin Louis menyalahkan dirinya. Benar saat ini Louis kelelahan fisik dan mental efek dirinya yang kurang tidur nyenyak sepanjang minggu ini.
"Tetapi, aku kesini untuk memberitahu kau bagaimana aku mendambakan kehadiranmu? Bahwa aku merindukan kau istriku. Bahwa aku ingin melihat bagaimana istriku sekarang? Memang lebih baik kau berpikir selama ini aku tidak peduli kepadamu. Namun, disinilah aku kini, mengabaikan semua itu dan mencari kau istriku," ujar Louis.
Leoni menutup mulutnya berusaha untuk tidak bersuara saat ia mendengar apa yang barusan dikatakan Louis. Mata Leoni memanas butiran bening yang sedari ia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya.
Louis memasukkan kedua tangannya kedalam saku mantel, ia menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya.
"Jika kau tahu semua itu, sungguh aku merindukan dirimu!" Louis menggigit bibir bawahnya air matanya nyaris jatuh.
Sudah berbagai cara dia lakukan untuk mencari perhatian wanita itu namun Leoni sama sekali tidak peka.
"Mungkin caraku meminta dia kembali kepadaku yang salah?" gumam Louis.
Mafia itu memejamkan matanya, membayangkan ia menemukan istrinya tanpa kerudung seperti pernikahan mereka waktu itu. Pria itu membayangkan saat ia bertemu Leoni, wanita ia melemparkan senyuman manis kepada Louis.
"Aku harap tidak mustahil mengharapkan hal itu terjadi. Karena, saat ini ia berada dimansionnya di tengah-tengah orang-orang yang mencinta dia tidak mungkin dia menyembunyikan wajahnya. Aku ingin mengakhiri kerinduanku kepadamu, istrku." gumam Louis.
Usai mengungkapkan perasaannya yang selama ini ia pendamkan. Louis berbalik untuk terakhir kalinya berusaha mencari istrinya di tempat yang menurut pelayan Leoni, bisa ditemukan Louis.
Namun, baru saja ia melangkah pulang Louis melihat seorang wanita dengan gaun warna hijau tua mirip dengan daun berwarna hijau sedang berdiri menatap Louis.
__ADS_1
"Dia bukan istriku," gumam Louis.