
Louis sudah berbaring di atas ranjang. Sementara Leoni masih duduk di sofa, wanita itu fokus menatap televisi meskipun pikirannya sedang memikirkan hal lain.
"Apakah kau akan terus menonton sampai pagi?" tanya Louis kesal
Pria itu sudah selesai memeriksa laporan yang dikirim lewat email. Sementara Leoni masih setia menonton drama Korea.
"Dramanya sangat bagus," sahut Leoni.
"Ini sudah pukul sepuluh malam, istriku. Mengapa kau rela matamu menjadi mata panda hanya karena drama Korea?" sela Louis kesal.
Leoni tidak menjawab lagi, wanita itu pun berdiri dan melangkah ke arah ranjang. Sebenarnya dia sengaja menonton untuk menghindari Louis. Sesampainya di ranjang Leoni pun berbaring di atas ranjang, lebih tepatnya Leoni tidur diujung ranjang. Louis tersenyum melihat istrinya meringkuk di bawah selimut dan memunggungi dirinya. Loius berharap Leoni tidak bergerak karena jika Leoni bergerak sekali saja dia langsung jatuh ke bawah lantai.
"Istriku..." panggil Louis.
Leoni tidak menjawab, dia menggigit bibir bawahnya, dibawah selimut tangannya menarik ujung selimut sekuat mungkin berharap Louis tidak membuka paksa, seluruh tubuhnya meremang apa yang dia takutkan akan terjadi malam ini.
"Leoni, lepaskan pakaianmu!" Bukan permintaan tapi perintah.
Leoni membeku mendengar suara serak Louis, tubuhnya menegang ngeri apa yang di takutnya benaran akan terjadi, "Suamiku, Aku__"
"Dibalik selimut jika kau malu aku melihatnya," kata Louis tidak sabar. " Aku tidak bermaksud memeriksamu." Louis tahu Leoni pasti malu melepaskan piyama di depannya.
Leoni mulai melepaskan piyamanya dibalik selimut, Wanita itu sudah melepaskan pakaiannya. Beberapa saat kemudian Louis kembali tersenyum lebar ketika piyama Leoni jatuh ke bawah lantai. Ia tidak membuang-buang waktu lagi. Dengan cepat Louis menekan remote dan lampu kamar padam hanyalah lampu tidur yang menyala.
__ADS_1
Mafia itu terus mengulurkan tangannya untuk menyentuh Leoni, karena Leoni masih berbaring di ujung ranjang dan terus memunggungi Louis.
Louis berhasil menarik Leoni ke tengah-tengah ranjang, dan merasakan wanita itu gemetaran.
"Kau kedinginan? Aku akan mengurangi volume pendingin ruangan."
Leoni lebih baik mati daripada mengakui ketakutannya, "Ya." sahutnya cepat
Louis pun mengatur suhu kamar. Usai mengatur suhu kamar remotenya ia letakkan diatas nakas. Louis kembali merapatkan tubuhnya dengan tubuh Leoni.
Jemari Louis bergerak lembut di benda kenyal milik Leoni lalu perlahan turun ke bagian perut, lalu menyelinap diantara kedua kaki Leoni, " Kau tidak akan kedinginan terlalu lama, istriku." bisiknya.
Leoni semakin gemetaran. Ia tidak bisa mengerti kenapa pria itu lembut kepadanya padahal Leoni tahu alasannya, mengapa Louis menikahi dirinya. Kapan hukumannya dimulai?
Sebelum menyadari apa yang terjadi betapa kagetnya Leoni ketika merasakan tubuh mereka sudah menyatu.
"Argh...sakit," pekik Leoni. Bahkan, air matanya sampai menetes membasahi pipinya. Saat Louis menembus miliknya.
Namun, rasa sakitnya singkat dan segera berubah menjadi denyut samar.
Leoni berbaring kebingungan, kaget bahwa ia dan Louis sedang penyatuan.Leoni tidak merasakan sikap kasar dari Louis sama sekali, yang ia rasakan hanya kelembutan dan senyum bahagia dari bibir Louis.
Louis tersenyum bercampur rasa kaget serta bersalah, semua tuduhan dia kemarin malam di hotel bahwa Leoni menikam dia untuk memanipulasi dirinya karena ia tidak perawan lagi. Semua itu salah, Leoni masih gadis dan sama sekali belum tersentuh ia benar-benar menyerahkan seutuhnya kepada Louis.
__ADS_1
"Maafkan aku sudah menuduhmu yang tidak-tidak." Ini kali pertama seorang serigala hitam mengucapkan maaf atas kesalahannya. Sementara Leoni tidak menjawab, wanita itu memejamkan matanya merasa lega Louis mengakui dirinya. Itu artinya Leoni sudah memegang kartu as.
Leoni tidak ingin dipandang rendah hanya karena ia seorang mafia dan bebas bergaul?
Leoni, gadis yang berpegang kepada prinsip dan wanita berkomitmen. Meskipun kehidupannya di dunia hitam dan bergelut dengan ob***at-ob****atan terlar**ang, Alkohol dan kebanyakan menghabiskan waktu di club' bersama rekan seprofesinya. Ya semua tahu bagaimana hidup di dunia hitam namun dia bukan wanita lemah dan gampang tergoda. Dia menanamkan kepada dirinya 'Wanita harus memiliki standar harga diri yang tinggi.' Karena, prinsipnya ini Leoni, mafia wanita yang tidak pernah di anggap remeh di kelompok mereka.
Usai mengucapkan maaf Louis menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Setelah itu ia langsung menjatuhkan tubuhnya disamping Leoni. Meskipun malu dengan ucapannya kemarin. Louis menatap Leoni penuh rasa bersalah.
"Apakah kau sudah memaafkan diriku?" tanya Louis.
"Maaf? Tenntu belum. Tapi setidaknya aku sudah membuktikan bahwa aku benar." tegas Leoni.
"Kenapa?" tanya Louis.
"Karena aku tidak akan memaafkan orang itu jika aku masih mengingat perbuatannya di dalam hatiku. Aku akan memaafkan orang tersebut jika rasa sakit di hatiku menghilang." jelas Leoni.
"Baiklah. Tapi, Jangan lama-lama untuk memaafkan diriku." sahut Louis pasrah.Ia pun akhirnya memejamkan matanya menuju dunia mimpinya.
Leoni tersenyum suaminya itu, tidur dengan perasaan marah, "Aku yakin dia akan mimpi buruk karena dia masih di kuasai perasaan marah," gumam Leoni.
Malam ini Louis tidak mendengkur, tetapi Leoni tahu suaminya sudah pulas. Leoni tersenyum menyadari dirinya tidak lagi gadis. Tadi ia sama sekali tidak merasakan gair***ah karena rasa takut bercampur cemas menjadi satu. Ia berpikir Louis akan menyakitinya tetapi justru kelembutan yang ia rasakan.
Leoni menghela napas saat ia merasakan perih dimiliknya. Tetapi, tiba-tiba ucapan Amelia kembali ia ingat, " Kau akan di tempatkan ditempat berbeda karena tuanku tidak mencintai kau. Alasan dia menikahimu hanya ingin menguasai dirimu." Leoni menghela napas berat. Ia sudah siap dan berharap Louis mengembalikan dia ke mansionnya.
__ADS_1
Akhirnya Leoni pun ikut memejamkan matanya dan tertidur berharap besok pagi ia bangun semua dalam keadaan baik-baik saja. Mansionnya, Wiliam dan semua anak buahnya yang masih berjaga di mansion dan milik markasnya.