
Sekali lagi Leoni tercengang dengan ketampanan suaminya. Sejenak semuanya terlupakan selagi Leoni memandangi suaminya dengan perlahan. Memiliki tubuh berotot dengan celana panjang dan koas hitam ketat serta kaca hitam menegaskan kekuatan diri seorang Louis.
Keduanya saling bertatapan, bola mata coklat lembut dan bola mata abu-abu saling mengunci sesaat mengingatkan Leoni pada kata-kata Amelia.
Leoni memutuskan tidak akan menanyakan masalah percakapan dia dan Amelia, itu sama saja Leoni merendahkan harga dirinya serendah-rendahnya. Dia juga tidak ingin bertanya tentang Louis membawa dia ke sini untuk memulai lembaran baru bagi Leoni ucapan Louis itu semakin menambah banyakan kebohongan Louis kepada dirinya. Leoni juga tidak mau Louis berpikir dia cemburu karena Amelia tinggal di paviliun atau kehamilan Amelia, tidak. Leoni masih menjaga harga dirinya tetap di atas.
"Ini bukan kebun tapi ini taman bunga dan kolam," Leoni sengaja mengalihkan topik pembicaraan untuk mengendalikan perasaannya.
Louis memandang sekeliling taman dan kolam lalu tersenyum, " Apa perbedaannya. Disini ada taman yang dikerjakan tukang kebun." sahut Louis menahan kesal.
Namun, ia selalu terpesona ketika matanya bertemu Leoni. Louis menyesal tadi pagi dia melewati momen istrinya mengenakan dres terindah. Bisa dibilang sempurna penampilan Leoni hari ini.
"Beda, di taman itu hanya terdapat bunga-bunga yang indah. Sementara di kebun terdapat sayuran dan buah selain ditanami bunga." Leoni ingin tertawa dengan kebodohannya tapi dia berusaha memasang wajah tegas. Keduanya berjalan menuju mansion.
__ADS_1
"Benarkah?" Louis mempercepat langkahnya lebih dekat dengan Leoni.
"Ya, aku pikir kau masih ingat kebunku di mansion red Tiger," sindir Leoni.
"Tidak. 'Bunga kecil' aku hanya nengingatmu dan di tempat itu aku hanya melihatmu tidak ada kebun atau taman di sana." sahut Louis.
Leoni merasakan banyak kupu-kupu beterbangan diperutnya ditambah lagi wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Leoni tidak menyukai Louis menggoda dirinya ini bukan waktu yang tepat.
Leoni cepat-cepat sadarkan dirinya, dia menatap Louis dengan memasang wajah tidak suka.
Mental Louis menciut tadinya ia pikir dia dan istrinya akan bermesra-mesraan. Sejak tadi Louis sudah menunjukkan sisi romantisnya membantu Leoni mengenakan stoking dan sepatu tapi nyatanya semua itu tidak cukup membuat Leoni terpengaruh sama sekali.
Mata Leoni berkaca, alisnya berkerut, bibirnya membentuk garis artinya amarah Leoni sudah memuncak.
__ADS_1
"Istriku marah lagi?" gumam Louis pelan.
Leoni berusaha berjalan lebih cepat, mendahului Louis menuju kamar.
"Sialan ku kira masalah itu sudah selesai," Louis berlari kecil mengejar Leoni. Namun, Leoni berjalan lebih cepat dan wanita itu menarik handel pintu dan berjalan masuk ke kamar mereka.
Louis pun bergegas menyusul Leoni ke kamar.
"Kenapa kau marah lagi?" ulang Louis bingung.
"Aku hanya ingin tanya motifmu mengapa kau mengingatkanku pada kejadian itu." Leoni menjatuhkan tubuhnya di sofa dia memalingkan wajahnya dari tatapan Louis.
Louis mengernyit, dia akui istrinya pintar membuatnya bingung seperti orang bodoh karena telah menyerangnya, Louis pikir menghadapi Leoni tidak mudah seperti dia menghadapi musuh.
__ADS_1
Louis pun ikut duduk di sofa di samping Leoni, jemarinya membelai pipi Leoni, isterinya tidak menolak, "Apa kau sadar pengaruh yang kau timbulkan padaku, sayang?" tanya Louis lembut, " Apa kau tahu? Ketika aku melihatmu dan pikiranku melayang. Jika aku mengingatkanmu pada sesuatu yang tidak menyenangkan, itu tidak disengaja dan aku minta maaf." Louis membawa tubuh Leoni bersender di dada bidangnya.