Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 59.


__ADS_3

Leoni menelengkan kepalanya menatap Wilda.


"Dan membuat Louis berpikir aku mencari pujian? Tidak. Lagi pula sejak awal kami menikah dia tidak meminta aku mengatur-atur mansionnya. Dia mungkin menyukai apa yang ku lakukan. Tapi, jika dia sadar aku terlalu ikut campur masalah di mansionnya dia pasti akan marah." Leoni berkata tapi tatapan matanya masih kosong ke depan.


"Aku tidak bisa melihat tuan dekat dengan wanita ular itu..." sahut Wilda.


"Sudah. Biarkan saja. Kita tidak perlu berdebat soal itu lagi. Mari bantu aku karena aku mendapatkan tugas yang berat dari dia." sela Leoni.


"Nona masih mau membantu tuan? Tapi Non tahu tuan mudah sekali jatuh ke pelukan wanita lain?" Wilda ingin sekali menolak tapi Leoni menatap tajam dirinya akhirnya Wilda pun menyerah meskipun ia menggerutu dalam hati.


Leoni tahu Wilda memang sangat menyayangi dia karena itu Wilda terus memaksa Leoni untuk melawan Amelia atau setidaknya menegur Amelia atas sikap yang sudah ia lakukan. Namun, Leoni tidak setuju menjatuhkan harga dirinya di depan seorang wanita murahan.


"Non... Anda tidak sarapan dulu?" Wilda berkaca-kaca. Rasanya seperti dia yang diduakan oleh kekasihnya sendiri.


"Tidak!. Panggil Megan kita ke Red Tiger sekarang. Kita sarapan pagi di red Tiger saja. Aku merindukan masakan bibi," sahut Leoni tegas. Ia mencium kedua anjing kesayangannya, "Janga nakal mommy masih pergi sebentar. Ingat jangan mau dikurung lagi jika ada yang mau mengurung kamu berdua, gigit saja tangan mereka hingga putus."Leoni mengusap kepala kedua anjingnya bergantian. Kedua anjing itu sekaan mengerti akan pesan Leoni, keduanya menggerakkan ekornya.


Usai berpamitan dengan kedua anjingnya mafia cantik itu berdiri dari sofa, Ia itu melangkah ke depan mansion tanpa berpamitan pada Louis. Padahal ia sangat lapar setelah semalam di ajak lembur Louis namun Leoni tidak bisa berada satu meja makan dengan wanita lain.


Megan sudah menghidupkan mesin mobil ia menunggu di dalam mobil sembari memainkan ponselnya. Melihat Leoni sudah sampai di samping pintu mobil Megan bergegas keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Leoni.


"Non...anda yakin kita ke red tiger?" tanya Megan seraya membukakan pintu untuk Leoni. Bukan tidak yakin hanya saja Megan trauma kalau ini trik Leoni kabur dari mansion Louis. Tahu saja amarah Lpusi jika istrinya kabur dia pasti akan mengancam menyerang.


"Atas perintah dia." sahut Leoni dingin.


Megan mengangguk setuju dia kembali menutup pintu mobil setelah Leoni masuk ke mobil wanita itu duduk di kursi belakang bagian sopir. Wilda berlari karena hampir saja ditinggal Megan dan Leoni.


"Non... sepertinya tuan masih menunggu anda di meja makan. Tadi saya lihat Ia sama sekali tidak menyentuh sarapanya yang di siapkan wanita ular itu." ucap Wilda seraya memasang sabuk pengamannya.


Megan kaget dengan ucapan Wilda sang mirip kompor. Ia menarik kopleng mobil seraya mencubit paha Wilda sebagai peringatan berhenti mengompori Leoni.


"Biarkan saja." sahut Leoni cuek.


"Megan ayo berangkat." perintah Leoni.


Megan pun menginjak pedal gas mobil lalu melajukan mobil menuju mansion red Tiger.


💜💜💜💜


Sementara di meja makan Louis masih menunggu Leoni. Sesekali pria itu melihat ke arah koridor memastikan Leoni datang ke ruang makan.


Amelia tersenyum sinis, ia merasa menang dengan permainan pagi ini.


"Tuan...silakan sarapan. Roti ini sangat enak." ucap Amelia. Wanita itu dengan beraninya mengambil tugas Leoni. Amelia mengambil piring lalu meletakkan dua lembar roti yang di bungkus keju dan daging domba. Louis sangat menyukai daging domba karena rasanya yang enak dan gurih.


"Ya." Louis melirik ke arah piringnya yang sudah di siapkan Amelia.


Amelia mengangguk meminta Louis segera sarapan karena dia ingin menunjukkan kepada Leoni bahwa ia masih menarik di mata Louis.

__ADS_1


Namun, bukannya sarapan Louis menarik kursi kebelakang ia berdiri dari kursi. Amelia menghentikan makannya ia menatap Louis.


"Tuan...sarapan anda." Amelia melirik ke arah piring lalu kembali menatap Louis.


"Ya aku masih ke kamarku sebentar." sahut Louis.


Mafia itu melangkah ke arah kamarnya lewati koridor di sana Ia bertemu salah satu pelayan yang sedang memberi makan anjing Leoni.


"Nona belum keluar dari kamar?" tanya Louis.


"Tuan...Nona tadi pergi bersama Megan dan Wilda dengan mobil. Ia meminta saya untuk memberi mola dan moli makan," sahut Pelayan itu seraya membungkukkan tubuhnya.


"Pergi? Dengan mobil?" Louis mengerjap.


"Benar tuan."sahut pelayan itu tidak berani menatap wajah Louis.


"Nona atau Wilda tidak mengatakan akan ke mana?" Louis pikir Leoni ke supermarket karena Leoni berbelanja selalu mengajak kedua orang kepercayaannya.


"Tidak. Nona tidak mengatakan apa-apa." Pelayan itu berharap Louis tidak melampiaskan amarahnya pada dirinya.


"Mengapa dia pergi tanpa aku? Bukannya aku sudah berpesan akan sarapan bersama? Sial""an."Louis mengusap kasar wajahnya. Kedua tangan ia masukkan ke dalam kantong celana menahan emosi yang hampir saja meledak lewat ubun-ubun.


"Perintahkan Andre siapkan mobilku," Louis menjatuhkan tubuhnya diatas sofa, pria itu sangat frustasi baru semalam ia merasakan bahagia pagi-pagi ada masalah Lagi.Padahal ia berharap rumah tangga mereka akan baik-baik saja.


Pelayan itu meninggalkan anjing Leoni di ruang tamu. Ia bergegas berlari ke kamar Andre. Pelayan itu tahu Andre pria yang suka tidur jadi jika ia tidak ada di sekitar mansion berarti di kamarnya.


"Tuan...sarapan tuan sampai dingin. Aku juga akhirnya tidak menyelesaikan sarapanku." Amelia duduk berhadapan dengan Louis.


"Sejak kapan kau makan harus ditemani aku? Argh..Kau semakin aneh. Aku memuji kau tadi pagi bukan berarti kau bisa seenaknya mengatur aku." sahut Louis kesal.


Amelia menahan tangis, " Bayi dalam kandunganku yang ingin makan bersamamu, Ayahnya."Amelia berkata sesunggukan.


"Katakan saja padanya kalau aku sibuk." Louis langsung berdiri dari sofa ia berjalan ke depan karena Andre sudah membunyikan klakson mobil.


Amelia berdiri dari sofa menatapi punggung Louis, ia membanting kakinya di lantai dengan sangat kasar.


"Lagi-lagi Leoni lagi!" Amelia menendang perut Moli, ia melampiaskan emosinya hingga anjing itu berteriak, "Auh..."


"Rasakan tendanganku. Mati saja kau anjing sial""an biar tuanmu menangis darah!" Amelia mengomeli anjing Leoni seraya berjalan ke paviliun. Para pelayan yang melihat tingkah Amelia hanya mengangguk heran.


"Dia wanita kasar."


"Aku harap Nona bisa melihat perbuatan jahatnya itu,'' ucap para pelayan yang melihat reaksi Amelia.


Louis membuka pintu mobil langsung disambut tatapan kesal dari Andre, " Pagi-pagi mau kemana?" tanya Andre seraya mengusap.


"Kita susul Leoni ke red Tiger." sahut Louis seraya memasang sabuk pengaman di tubuhnya.

__ADS_1


"Leoni kabur lagi?" Andre terkesiap ia menatap Louis kesal.


"Entah." Louis menaikkan kedua bahunya.


"Makanya Pagi-pagi jangan tebar pesona. Baru aja di ajak perempuan bicara aja kau langsung jatuh hati. Padahal kau tahu Leoni tidak menyukai hal itu meskipun dia tidak pernah cemburu di depan kau." Andre menginjak pedal gas mobil ia melajukan mobilnya menuju red Tiger.


Louis tidak menjawab lagi dia hanya diam seraya menopang dagunya menatap keluar jendela mobil.


"Aku harap kali ini Leoni tidak memaafkan kau lagi. Biar aja kau frustasi hingga rambutmu itu botak." Andre berkesempatan mengomeli Louis mumpung Louis hanya diam. Mafia itu sama sekali tidak merespon omongan Andre karena Louis berpikir benar juga ucapan Andre hanya saja dia pria yang lemah tidak bisa menolak rayuana wanita.


😁😁😁😁😁


Leoni sudah sampai di mansion red Tiger.Ia turun dari mobil bersama Wilda dan Megan itu sangat mengagetkan semua orang di mansion red Tiger karena mereka datang bertiga.


Gresya langsung berpikir kalau Leoni dan Louis sedang bertengkar lagi.


"Kau datang lagi?" Bukannya senang Gresya langsung bertanya seraya memeluk Leoni.


"Memangnya kenapa? Aku tidak boleh kesini lagi?" Leoni memasang wajah kesal.


"Bukan. Bukan seperti itu nak, hanya saja kau sudah menikah tidak baik kau sering datang kemari tanpa suamimu. Ini mansionmu kau boleh datang sesuka hatimu tapi setidaknya datanglah bersama suamimu." sahut Gresya seraya menepuk pelan bahu Leoni.


"Lupakan masalah itu, Bi. Aku lapar tadi datang dari sana belum sempat sarapan." Leoni mengusap perutnya seraya memasang wajah cemberutnya.


Leoni tidak suka membahas masalah rumah tangganya dengan orang lain meskipun itu bibi Gresya sendiri.


" Oh Tuhan maafkan bibi tidak menawarkan kau sarapan pagi nak. Ayo ke ruang makan bibi akan meminta pelayan menyiapkan sarapan pagi untukmu." Keduanya berjalan menuju ruang makan.


Leoni duduk seraya menunggu sarapan di siapkan pelayan ia mengirim pesan pada Megan untuk menyiapkan bahan membuat cairan yang diinginkan Louis. Dia tidak berbicara langsung dengan Megan dan Wilda karena kwatir bibi Gresya atau Roy mengetahui jika ia menawarkan bantuan kepada Louis.


[Siapkan semua bahan aku masih sarapan selesai sarapan aku ke laboratorium."]


[Baik.Non]


Megan di bantu Wilda segera masuk ke laboratorium milik Leoni untuk menyiapkan bahan apa saja yang dibutuhkan Leoni untuk menciptakan cairan itu.


"Nah sarapannya sudah jadi. Roti isi daging domba dan keju mozzarella kesukaan Leoniku," ucap bibi Gresya seraya meletakkan piring berisi dua buah roti isi daging domba dan keju sama persis dengan sarapan yang di sediakan di mansion Louis.


Leoni berbinar,"Wah terdiam aksih bibi." ucapan Leoni. Ia langsung meraih roti itu lalu menyuapkan ke mulutnya.


"Wah enak bangat ya. Tinggal di tempat lain sarapan di tempat lain, bagus!'' Tiba-tiba ada suara dari batas dinding ruang makan dan ruang keluarga. Di iringi tepuk tangan yang keras.


Prok...prok...prok...


Leoni membelalak dia tidak bisa menelan roti di dalam mulutnya. Dan sisa potongan roti yang ia pegang jatuh begitu saja dari tangannya.


"Kau?" sahut Leoni.

__ADS_1


__ADS_2