
Leoni lalu memakai sarung tangan steril. Dia melihat ke arah Megan meminta orang kepercayaannya itu membantu melepas kancing baju Louis. Setelah kancing baju Louis dilepas Megan. Leoni memperhatikan perban didada Louis, betapa kagetnya Leoni ketika melihat perban itu tidak pernah diganti.
"Kenapa perban ini seperti ini?Lihat...ini bisa aja ada kotoran di dalam luka Louis, bisa membunuhnya! Apa kau tidak tahu jika kotor seperti ini mempermudah bakteri masuk ke dalam lukanya!" Leoni menunjuk ke luka Louis.
"Aku tidak pernah mengganti perbannya. Jadi aku belum melihat lukanya," sahut Andre.
Leoni memejamkan matanya berusaha mengontrol emosinya yang hampir mau meledak, " Seharusnya kau menggantinya! Kau sudah kuperingatkan bahwa orang yang kau sebut dokter muda itu akan lebih menyakitinya daripada menyembuhkannya." Leoni mengerti Louis tidak suka dirawat di rumah sakit karena menjaga identitas dirinya. Makanya setiap kali ia tertembak atau mengalami luka Louis selalu memanggil dokter pribadinya ke mansionnya untuk melakukan pengobatan di mansion saja. Tetapi, ini sudah kelewat karena terpengaruh hasutan Louis bisa saja meninggal.
Andre mengabaikan amarah Leoni, "Bisakah kau menyembuhkannya? Aku dengar kau adalah salah satu dokter hebat di universitas Harvard sebelum kau terjun ke dunia hitam," tanya Andre penuh harapan semoga Leoni tidak menolak permintaannya.
Leoni melihat luka di dada dan bahu Louis yang mulai bernanah dan berkata, " Aku benar-benar tidak tahu. Ini sudah tiga hari dan aku harus memperhatikan dengan baik apa yang menyebabkan sampai dia demam seperti ini . Aku tidak bisa berjanji tapi aku akan berusaha semampu aku. Dan kau harus ingat jika aku gagal dan terjadi sesuatu hal buruk dengan suamiku itu artinya kau juga harus bernasib sama dengan suamiku, bukan hanya kau saja tetapi orang-orang yang terlibat didalam konspirasi ini akan aku habisi dengan tanganku sendiri, karena aku tahu semuanya." ancam Leoni.
"Aku bersedia di hukum mati." sahut Andre pasrah. Andre pikir untuk apa dirinya hidup jika bosnya meninggal? Lebih baik dia juga tiada daripada hidup hanya menyiksa diri.
__ADS_1
"Semoga Tuhan membantunya," timpal Leoni.
Wajah Andre pucat pasi, kepasrahan dalam sikap Leoni mengatakan semua yang perlu di dengar Andre, sambil berdoa Andre berjalan mendekati ranjang dan mengamati Leoni.
Leoni mengambil obat dan memaksa Louis meminum obat itu. Suami Leoni itu tidak menolak, meskipun dia setengahh sadar ia pun membuka mulutnya meski harus dipaksa Leoni, Andre melihat Louis menelan obat berupa cairan itu dengan baik, ia mulai merasa bersalah kepada Leoni.
Leoni kemudian mengeluarkan jarum dan melakukan injeksi di bahu Louis. Ia memberikan obat bius lokal untuk mengurangi rasa sakit yang akan dirasakan Louis selama proses tindakan dimulai.
Andre yang melihat itu merasa tenggorokannya tiba-tiba kering. Ia berusaha menelan salivanya. Ketika Leoni mengeluarkan pisau kecil dari kotaknnya yang dibawa Megan, Andre dengan cepat mencengkram pergelangan tangan Leoni.
Leoni kaget dan balik menatap pria tua itu, " Luka Louis harus dibuka lagi agar aku bisa mengetahui apa penyebab dari demam Louis di dalam tubuhnya atau apa kau bisa melakukannya sendiri?" tanya Leoni dengan sorot mata tajam. Andre menggeleng dan melepaskan pergelangan tangan Leoni."Maaf atas kelancanganku ini," Andre menunduk malu.
Mafia cantik itu berdecih lalu kembali fokus pada pisau dan luka Louis. Leoni membuka perban itu dengan hati-hati kemudian Dia mulai menusuk bagian lukanya, membersihkannya, suasana berubah jadi hening dan tegang hingga beberapa jam lamanya. Lalu Leoni memekik kaget.
__ADS_1
"Aku akan membunuh dokter yang kau sanjung itu," Leoni melotot kepada Andre seraya meletakan peluru yang berhasil ia keluar dari bahu Louis itu dikotak kecil dengan kasar. Andre benar-benar merasa bersalah atas keadaan buruk yang dialami Louis saat ini.
"Kau lihat peluru masih bersarang di bahu suamiku dan lihat lukanya sampai mengeluarkan nanah dan berbau busuk. Ini yang menyebabkan dia demam dan untung saja suamiku termasuk orang yang kuat kalau nggak dia pasti sudah meninggal dua hari lalu. Semua ini karena kebodohan kau! Aku pikir kau melarangku masuk ke kamar ini, karena kau bisa mengatasi luka suamiku tapi ternyata kau juga pria bodoh! Oh Tuhan...aku sempat berpikir sebelum suamiku sadar kau harus ku pecat! Sayangnya... aku tidak sekejam seperti yang kau pikirkan tentangku selama ini." Setelah puas mengomeli Andre. Leoni kembali fokus membersihkan luka suaminya, ketika darah segar akhirnya mulai mengalir keluar. Leoni mende""sah lega. Dengan luka yang sudah dibersihkan ia mulai mengolesi obat dan membiarkan luka itu terbuka untuk membiarkan darah selama ini tertahan bisa keluar semua.
Akhirnya selesai semua luka di obatin sembari menunggu darah selesai mengalir Leoni menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang, ia duduk bersandar seraya melirik ke arah Andre yang masih berdiri di dekat ranjang. Ekspresinya tidak lagi cemas seperti tadi.
"Darahnya harus dibiarkan mengalir dari luka itu sampai demamnya turun. Agar kita tahu penyakitnya sudah hilang. Aku tidak akan menjahit lukanya sampai darahnya benar-benar bersih. Dia akan lebih lemah karena pendarahan ini tapi aku tidak berani menghentikannya sampai yakin lukanya benar-benar bersih. Aku punya obat untuk mengatasi demamnya. Aku juga akan memberikan cairan infus untuk menambah tenaganya." jelas Leoni.
Andre tidak banyak bicara dia hanya mengangguk setuju.
"Aku juga akan memberikan obat untuk mengatasi nyerinya, " lanjut Leoni lagi. Andre hanya mengangguk lidahnya keluh untuk berkata yang ada dalam hatinya hanya penyesalan mendalam telah menuduh Leoni, wanita jahat.
Melihat Andre hanya diam saja, Leoni bertanya, " Apakah kau akan mengizinkanku tinggal di kamar ini untuk mengawasi kemajuan Louis dan merawat Louis dengan baik?" Leoni menaikan sudut bibir atasnya menunggu jawaban penolakan dari Andre.
__ADS_1
"Dia sudah terlepas dari bahaya?" tanya Andre lirih.