
Leoni mengangguk, "Aku yakin begitu,"
"Kalau begitu tetaplah di kamar ini, Nona Leoni." Sahut Andre bersemangat. Sumpah, demi apapun jika Leoni adalah seorang pria dia pasti sudah mengangkat tubuhku kecil itu seraya berlari keliling mansion. Atau jika tidak di kamar dia akan berteriak sekencang mungkin untuk meluapkan rasa bahagianya. Tapi, ia sadar Leoni wanita dan istri dari majikannya. Dan juga dia dan Leoni tidak begitu akrab.
Namun berbeda dengan Leoni meksipun sudah mendapat izin dari Andre tapi dia masih ragu, karena belum tentu suaminya mau menerimanya di kamar ini.
"Bagaimana jika dia cukup sadar dan melihatku disini, dia pasti tidak menyukainya." Leoni benar. Karena, hari pertama Louis tertembak dia sudah membenci Leoni apalagi jika dia sadar dan orang pertama yang dia lihat adalah Leoni?
"Biarlah dia tidak menyukainya." jawab Andre. Dia tidak peduli reaksi Louis nantinya tetapi ini untuk tanda terima kasih Andre kepada Leoni yang sudah menyelamatkan nyawa Louis dan menyelamatkan dia dari perasaan buruk sangka.
"Baiklah." Leoni menghela napas panjang. " Tapi aku ada syarat, yaitu jangan pernah memberitahunya mengenai tindakanku ini." Leoni meluruskan otot tangannya.
"Mengapa tidak?" sahut Andre heran.
"Aku tidak mau dia marah apalagi sampai kepikiran selama dia dalam masa pemulihan diri. Biarlah dia berpikir DOKTER MUDA itu yang telah menyembuhkannya seperti seharusnya." jawab Leoni lirih.
__ADS_1
Sejujurnya Leoni tidak membutuhkan pengakuan atau pujian bahkan ucapan terima kasih dari siapapun tetapi yang dia inginkan adalah kejujuran dan kesetiaan Louis dalama rumah tangga mereka.
Andre menggeleng, " Aku tidak akan berbohong kepada Louis."
"Kau tidak perlu berbohong.Kau hanya tidak perlu mengatakan apa-apa." Leoni memejamkan matanya, "Aku akan pergi sebelum dia sadar," suaranya tercekat. Tetapi Andre masih bisa mendengar ucapan Leoni.
Andre menggeleng dia heran dengan pikiran Leoni. Padahal jika itu Amelia pasti wanita itu mengharapkan pengakuan dan pujian.
💜💜💜💜
Leoni mengabaikan tatapan Louis, ia terus fokus menyelesaikan mengforban luka Louis. Lalu bergegas keluar dari kamar itu begitu saja. Andre yang berbaring di sofa itu bangun ketika mendengar bunyi pintu tertutup. Ia berjalan mendekati ranjang.
"Akhirnya kau kembali bersama kami." ucap Andre penuh syukur. Karena sejak kemarin Leoni mengambil tindakan, Louis belum sadarkan hingga tadi pagi Leoni mengganti forban itu.
"Memangnya aku pergi ke mana?" jawab Louis. Suaranya masih lemah.
__ADS_1
Andre tersenyum pada Louis, "Kau hampir saja mati." Ia menghela napas lega, mengucap syukur atas kembalinya Louis.
Louis memutar bola mata malas, "Hanya karena tembakan itu?"
"Ya hanya tembakan itu penuh penyakit karena peluru baru berhasil dikeluarkan kemarin itu artinya tiga hari peluru bersarang di bahumu dan sebelum peluru itu di keluarkan kau mengalami panas tinggi." jelas Andre.
"Lupakan itu! Apa yang dilakukannya di sini? Apakah begini caranya kau menjagaku?Dengan membiarkan orang yang paling bertanggung jawab__"
"Tenanglah, Louis." sela Andre. " Kurasa dia tidak bersalah dalam hal ini." Andre mengangguk. "Ya Aku yakin dia tidak bersalah. Kau sudah termakan hasutan ularmu itu."
"Sudah kukatakan padamu apa yang ku lihat. Dan kau tahu Amelia pasti lebih mengetahui dari kau." sahut Louis kesal.
Louis percaya ucapan Amelia karena dia pikir Amelia dan Leoni setiap hari bersama di mansion. Jadi, apa yang dilakukan Leoni pasti di ketahui Amelia.
"Ya itu memang buruk__tetapi tidak meyakinkan." ujar Andre keras kepala. Pria tua itu menarik napas berusaha menahan emosinya. Dia berharap semoga Louis cepat sembuh dan akan menghajar Louis sepuasnya hingga mafia itu sadar apa yang dia tuduh dan dia dengar semua itu fitnah.
__ADS_1