
Leoni tertawa, "Percuma tampan jika ia memiliki hati seperti setan," sindir Leoni.
"Kau tidak menginginkannya," Amelia memastikan ucapan Leoni.
"Tidak! Aku tegaskan, tidak!" sahut Leoni tegas.
"Kalau begitu anda pasti lega. Karena, dia tidak mencintai Anda. Dia sudah berjanji kepadaku, Louis menikahimu karena ingin kekuasaan. Tapi, akulah yang menjadi pemu**asnya," sahut Amelia tanpa beban.
"Oh..." sahut Leoni. Sebenarnya dia sudah tahu siapa wanita di depan dia ini. Karena, Leoni mengetahui kebiasaan seorang mafia yang suka bermain wanita. Leoni juga tahu Louis tidak memiliki sepupu wanita.
"Hanya itu yang anda kata,'kan? Jika iya, silakan keluar dari kamarku." Leoni merasa sudah gerah dia ingin sekali memberi wanita itu pelajaran.
"Belum." tegas Amelia.
"Cepat selesaikan lalu tinggalkan kamarku, segera!" perintah Leoni. Suaranya mulai naik satu oktaf karena semakin lama Amelia bicara mulai kemana-mana.
"Kita tidak perlu menjadi musuh, anda dan aku. Jika, anda tidak menginginkannya maka anda tidak keberatan jika aku memilikinya." ucap Amelia.
"Aku tidak keberatan. Silakan ambil saja dia, dan kau boleh keluar dari kamarku, sekarang!" perintah Leoni.
Amelia dapat merasakan amarah Leoni. Gadis lebih tua Leoni empat tahun itu bergegas keluar dari kamar Leoni.
Namun, di depan pintu, Amelia bertemu dengan Valencia. Ibu tiri Leoni itu bergegas masuk, dia mengabaikan tatapan Amelia.
"Apa kau tahu, gadis itu, simpanan tuan Louis?" tanya Valencia saat ia berdiri didepan Leoni.
"Jika tadi tidak tahu, aku pasti berterima kasih padamu karena sudah memberitahu," sindir Leoni.
Valencia memilih mengabaikan sindiran Leoni, " Ayo...Papamu sudah menunggu untuk mendampingimu. Dan suamimu sudah ada di altar," ucap Valencia.
"Ayo berangkat aku sudah siap," sahut Leoni. Gadis itu berdiri dari sofa siap diantar ke Altar. Membuat Valencia bingung dengan keberanian Leoni.
__ADS_1
Leoni di gandeng Valencia dan Megan melangkah keluar kamar. Wiliam sudah menunggu didepan pintu kapel, ya kapel kecil itu dibuat Louis di dalam hotel itu juga di kapel itu Leoni dan Louis akan mengucap janji sehidup-semati.
Di atas altar pria yang mengenakan setelan jas hitam itu sangat tampan meskipun wajahnya ditumbuhi bulu-bulu halus namun tidak mengurangi kadar ketampanan mafia itu. Sesekali dia mendoangakkan kepala menanti kedatangan Leoni.
Amelia duduk di bangku paling depan tatapannya tidak lepas dari Louis. Namun, Louis sama sekali tidak memperdulikan kehadiran Ameli.
Pria itu tidak sabar untuk bertemu Leoni, gadis yang sedang berdiri di depan pintu kapel, siap digandeng Wiliam menuju altar.
Wiliam meraih tangan putrinya dan mengapitnya, walaupun Leoni menolak menatapnya sama sekali. Di dalam kapel itu Leoni melihat bangku-bangku dipenuhi tamu. Dan, di altar Leoni melihat sesosok pria bertubuh tegap terlihat samar. Tangan Leoni berkeringat ketika ayahnya menuntunnya menelusuri lorong menuju altar.
"Leoni...jika kau membutuhkanku..." ucap Wiliam. Namun, Leoni menyela ucapan Wiliam, " Kau sudah menunjukkan bagaimana aku bisa bergantung padamu, Papa," desis Leoni, " Kau menyerahkanku pada penjahat berbahaya ini. Jangan tunjukkan lagi kasih sayang dan perhatianmu, kumohon."
"Leoni..."
Ada luka dari ucapan Wiliam. Panggilan itu membuat jantung Leoni seperti ditusuk sembilu. Akhirnya, Wiliam dan Leoni telah sampai di depan altar. Leoni sedikit gugup berdiri disamping Louis.
"Menjijikan...!" gerutu Louis dalam hati.
Hingga Louis sama sekali tidak mendengar ucapan Romo. Dia terus memperhatikan Leoni, Ia menyesal karena melihat wanita disampingnya itu. Selain Karena mengenakan pakaian tertutup Louis merasa wanita ini bukan Leoni.
Gadis yang dijuluki mafia arogan itu terlihat seperti anak kecil berdirinya saja hanya sampai di dada Louis.
"Aku harap tidak ada konspirasi dalam pernikahan ini?" batin Louis lagi.
Louis berpikir mereka menukar Leoni dengan gadis lain untuk menikah dengannya. Karena, yang Louis bayangkan Leoni itu bertubuh tinggi. Ya itu dinilai dari kepemimpinan di kelompok Red Tiger dan kekejamannya yang selama ini Leoni lakukan.
"Atau karena menolak menikahiku, dia menolak makan? Baru kali ini aku melihat seorang gadis yang menolak menikahiku. Apa dia tidak tahu banyak wanita cantik di luar sana yng tergila-gila karena ketampanan ku?" batin Louis tidak percaya.
Upacara pernikahan di mulai namun Louis masih tenggelam dalam pikirannya. Sementara, Leoni terus menunduk, Ia hanya mengangkat kepala saat mengucap janji pernikahan lalu kembali menunduk gadis itu enggan menatap Louis sama sekali.
__ADS_1
Usai mengucap janji pernikahan. Romo meminta Leoni dan Louis untuk menyematkan cincin di jari pasangan.
Louis meraih benda berbentuk lingkaran yang ia pesan dari pengrajin berlian terkenal di Spanyol itu. Lalu, dengan kasar menyematkan di jari manis Leoni.
Leoni merasakan jarinya hampir saja putus karena cincin yang disematkan Louis begitu kasar. Begitupun, Leoni. Dia meraih cincin lalu menyematkan di jari Louis.
Kemudian, sebagai bukti Leoni sah menjadi suami Louis. Pria itu harus memberikan ciuman dikening Leoni sebagai tanda gadis itu sudah sah menjadi istrinya di mata hukum dan agama.
Biasanya mempelai pria mengangkat kerudung yang dikenakan mempelai wanita untuk di cium keningnya. Namun, berbeda dengan Louis, pria itu enggan mengangkat kerudung Leoni. Bahkan, tangan Louis enggan menyentuh kerudung itu.
Louis hanya mencium sekilas di kerudung bagian kening Leoni.
"Kali ini kau terjebak, tuan jahat!" batin Leoni. Dia senang. melihat Louis yang jijik dengan dirinya. Ini yang Leoni inginkan.
Upacara pernikahan pun selesai. Leoni dan Louis melangkah keluar dari kapel. Keduanya sama sekali tidak bersentuhan.
Mafia cantik itu merasa senang karena upacara pernikahan selesai itu artinya dia tidak berada di dekat Louis lagi. Namun, dugaan dia salah ternyata tanpa istirahat pesta pernikahan di langsungkan saat itu juga ia dan Louis di arahkan ke ballroom.
Leoni hanya pasrah dia harus duduk berdekatan dengan Louis lagi untuk menyambut tamu yang akan memberikan ucapan selamat atas pernikahan mereka. Satu persatu tamu undangan datang memberi ucapan selamat.
"Selamat ya atas pernikahan kalian," Amelia memberi ucapan selamat. Ia bersalaman dengan Leoni lalu beralih ke Louis.
"Aku harap kau tidak menyentuh dia," bisik Amelia di telinga Louis. Membuat Leoni mengepal. Sementara Louis mendorong tubuh Amelia menjauhi dirinya.
Ucapan selamat selesai, Leoni menarik napas. Dia menjatuhkan tubuhnya diatas sofa karena betisnya hampir patah.
Semua tamu undangan menikmati hidangan makanan yang disajikan. Megan datang meminta Louis dan Leoni untuk turun dan duduk di meja yang disediak khusus untuk mempelai.
"Tuan, Nona... silakan duduk di meja bagian depan." Megan membagi Leoni berdiri. Louis berjalan mengikuti Leoni. Keduanya duduk bersama satu meja.
Leoni melihat ke arah ayahnya yang sibuk menikmati alkohol. Begitupun Louis, pria yang baru beberapa jam menjadi suaminya itu mulai menikmati wine juga. Leoni ingin sekali minum namun Louis sama sekali tidak menawarkan wine kepada Leoni.
__ADS_1