
Louis bergegas keluar dari mobil kedua tangan membawa pistol siap menembak, namun saat ia hendak menutup pintu mobil ia mendengar percakapan yang digunakan beberapa pria dengan bahasa asing yaitu bahasa Inggris bukan Spanyol. Sejenak ia berhenti berusaha memahami percakapan itu seraya mencari keberadaan suara tapi ia tidak menemukan keberadaan mereka. Louis akhirnya mengerti siapa yang memiliki anak buah kebanyakan berbahasa asing.
"Da""""m'n it!" maki Louis.
Louis hendak berlari masuk ke dalam mansion karena pikirannya hanya keselamatan istrinya karena ia melihat ada asap mengepul dari belakang mansion berarti itu di paviliun itu artinya musuh sudah masuk di dalam mansion. Tetapi baru saja ia melangkah belum juga kakinya menginjak anak tangga masuk mansion tiba-tiba ada seorang wanita yang menutupi wajahnya dengan kain hanya memperlihatkan matanya saja melepaskan tembakan tepat di lengan dan dada Louis hingga ia terjatuh dan menjerit kesakitan.
"Awww...Siapa kau berhenti!" teriak Louis. Ia masih berusaha mengejar namun tubuhnya linglung. Louis tersungkur di tanah.
Tetapi wanita itu tidak berhenti ia berlari secepat kilat melewati pintu depan mansion dalam hitungan detik wanita itu menghilang begitu saja, namun cara lari wanita dan bentuk tubuh bagian belakang wanita itu tidak asing bagi Louis. Dia memegang bahu dan dadanya untuk menahan supaya tidak mengeluarkan banyak darah. Anehnya setelah Louis tertembak para musuh itu pun pergi, Louis masih berusaha menebak sosok wanita itu.
Anak buahnya sudah tiba, mereka berteriak memanggil nama Louis ketika melihat tubuh Louis sudah terkapar di tanah, gegas mereka mengangkat tubuh besar itu masuk ke dalam mansion.
Kini ia paham maksud dari ucapan Andre di mobil tadi. Leoni mendengar keributan di depan mansion ia berlari ke depan. Wanita itu terpaku melihat suaminya sedang di gotong anak buahnya dan ia melihat suaminya bersimbah darah. Cairan merah pekat itu terus mengalir dari bahu dan dadanya.
"Bawa aku ke kamar kosong lantai bawah!" perinta Louis ia masih sadar. Mafia itu tahu istrinya sedang panik dan berdiri di depan pintu. Louis memalingkan wajahnya tidak ingin menatap wanita yang tengah mencemaskan dirinya.
Leoni yang sudah terbiasa dengan darah sama sekali tidak takut. Walaupun kali ini darah Louis sangat banyak. Ia sudah terbiasa mengobati banyak luka, anak buahnya sering ia obatin sendiri. Tetapi ketika ia berpikir mengobati Louis, ia hampir histeris.
Mata keduanya bertemu ketika Louis di bawa masuk ke kamar, masih dalam keadaan sadar tatapan Louis membuat Leoni membeku. Ada amarah dalam tatapan itu, tuduhan penuh emosi.
"Kenapa?" batin Leoni.
__ADS_1
"Nona?" Wilda dan Megan yang berdiri mendampingi Leoni menatapnya penuh cemas.
"Ya?" sahut Leoni tetapi pikirannya masih ingat tatapan amarah Louis.
Wilda berkata, "Tuan Andre ingin memindahkan tuan Louis ke kamarnya bukan ke kamar anda. Apakah anda ingin menemuinya?"
"Apakah dia ingin bertemu denganku?" suara Leoni bergetar ada sesak di dalam dadanya yang tersembunyi tidak ingin orang lain tahu hanya ia dan suaminya yang memahami tatapan itu.
Wilda tidak ingin menatap mata sendu Leoni, ada air mata tertahan di sana, " Dokter sudah datang untuk mengobati Tuan, anda jangan terlalu mencemaskan dia." Megan mengusap punggung Leoni berusaha menenangkan wanita itu.
Hatinya terasa sangat sakit ketika mendengar Louis akan dipisahkan ke kamar Andre. Padahal di mansion banyak sekali kamar yang kosong. Leoni tertunduk ia merasa lebih menyakitkan daripada tuduhan dimata Louis tadi.
"Jika itu yang diinginkannya," lirih Leoni.
Leoni menatap tajam Megan, lalu memalingkan wajahnya . Apakah ia salah memahami tatapan Louis, atau apakah itu suaminya benar-benar percaya dirinya berniat melukai?
Leoni menuruni anak tangga menuju kamar yang saat ini ditempati Louis. Ia melihat seorang pengawal di ruang penghubung mencegahnya masuk. Leoni mencoba melewati si pengawal namun pria berotot besar itu menghalangi jalannya.
"Maafkan saya, Nona," Pengawal itu membungkuk ia tidak berani menatap Leoni.
"Apakah suamiku memerintahkanmu untuk menghalangiku masuk?" tuntut Leoni.
__ADS_1
Pria itu menunduk ia memandangi kakinya tanpa berkata apa-apa.Itu sudah cukup untuk jawabannya.
"Apakah dokter sedang bersamanya, oh salah asisten dokter maksudku," tanya Leoni cemas. Dres yang ia pakai ikutan bergetar karena tubuh Leoni yang gemetaran akibat ia menahan emosi.
"Saya__,"
Belum juga selesai berkata, tiba-tiba ada suara barang pecah dari balik pintu yang tertutup. Leoni berubah pucat pasi, lalu rona merah kembali menjalari pipi ketika emosinya meledak.
"Aku bisa mencegahnya merasa sakit!" Dengan kesal Leoni menatap tajam anak buah yang berjaga di ruang penghubung itu. "Biarkan aku lewat sebelum dia lebih menderita." Leoni berusaha menarik tubuh anak buah itu. Namun, anak buah itu menyela Leoni.
"Maafkan saya, Nona. Tapi, anda tidak boleh__"
"Kau tidak lebih pintar daripada orang bodoh di dalam sana yang berani mengambil tindakan tanpa pengetahuan yang luas. Apa kau tidak tahu bedanya asisten dan dokter?" Leoni mendorong anak buah itu hingga terjatuh, ia berjalan mendekati pintu kamar yang dikunci dari dalam karena di dalam kamar ada Andre yang menemani Louis.
Leoni memasang mulutnya di lubang kunci seraya berteriak, "Jika kau sampai menyakiti atau melumpuhkannya karena kecerobohanmu, aku akan memastikan ibu jarimu digantung sampai putus! Dan jika dia mati, kau akan berharap ribuan kali bahwa kau juga mati!" Leoni lalu berputar ke arah anak buah itu, yang kini menatapnya dengan mata terbelalak. " Kau juga!" tunjuk Leoni tepat di biji mata anak buah itu.
Di dalam kamar, asisten dokter mendengar ucapan Leoni sangat jelas. Ia ragu sejenak selagi membalut luka di bahu dan dada Louis. Darah sudah berhenti dan dua butir peluru berhasil di keluarkan dengan baik. Asisten itu menghela napas lega karena keadaan di depan pintu sudah kembali tenang. Dan selama Louis pingsan ia bisa membalut lukannya dengan muda.
Tadi jatuhan alat medis di belakang pintu akibat Louis memberontak ia tidak mau di bius. Karena itu kaki panjangnya menyenggol alat dokter hingga terjatuh mengenai lantai.
Andre terus berjalan kesana-kemari, pria tua itu tidak habis pikir kenapa bisa ada yang berani menyerang mansion dan herannya mereka punya tujuan yaitu Louis.
__ADS_1
Suara Leoni terdengar sampai ke ruangan atas. Ia berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya tetapi sepanjang koridor ia bertemu dengan anak buah Louis. Mereka menatap Leoni dengan tatapan aneh. Leoni marah dan frustasi, ia mondar-mandir di dalam kamarnya. Megan dan Wilda yang terus menemani Leoni tidak berani mengajaknya berbicara.