Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 51.


__ADS_3

Leoni akhirnya menoleh karena penasaran mengapa semua diam. Namun saat melihat ke belakang matanya bertemu dengan mata Louis, kedua bola mata itu saling mengunci sesaat, ga""irah Louis terhadap istrinya yang sudah lima hari ia pendam semakin membesar dengan panas dan kuat mengejutkan Louis.


Begitupun dengan Leoni ketika ia melihat Louis, jantung Leoni berdegup semakin kencang. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya karena Louis semakin mendekatinya dengan wajahnya yang dingin dan menegang. Perut Leoni terasa melilit, Leoni pikir Louis marah karena ia merubah aturan di mansion Louis. Namun, ia merasakan perasaan berbeda dan aneh darahnya mengalir semakin cepat tetapi Louis sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Leoni sedetikpun, mafia itu tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya, juga tidak melihat Amelia di meja makan bersama Leoni atau para pelayan yang sedang menikmati masakan Leoni.


Bagi Louis ruangan seluas itu hanya ada dia dan Leoni. Dan wajah Leoni berubah menjadi merah merona karena Leoni baru menyadari mengapa Louis menatap tajam dirinya.


Cepat-cepat Leoni menunduk dan berpaling ketika suaminya mendekati meja makan. Leoni tidak menghiraukan Louis bahkan tenggorokannya tiba-tiba kering.


Para pelayan melihat kearah Louis mereka pikir Louis akan mendekati Amelia. Wanita itu sudah tersenyum bahagia, tanpa sadar Amelia menjatuhkan lobster dari tangannya.


"Dia semakin tampan," batin Amelia. Dia melirik kearah Leoni yang terus menunduk, Amelia semakin percaya diri bahwa Louis akan menghampiri dirinya.


Namun, Louis tidak peduli dengan banyak pasang mata yang melihat ke arahnya kecuali yang ia lihat hanya Leoni ya Leoni. Bukan Amelia!


Wilda dan Megan menahan diri berulang kali saling mencubit, "Semoga Tuan Louis tidak memarahi nona di ruang makan ini." bisik Wilda di telinga Megan.


Megan membalas cubitan Wilda dengan tatapan mematikan, " Kau bisa tenang nggak jangan menambah suasana semakin tegang lagi." balas Megan.


Amelia yang tadi terlihat baik kepada Leoni gagal menyembunyikan kebencian dari matanya, meskipun tidak ada yang memperhatikan karena pertemuan tuan dan Nyonya mereka membuat perhatian semua orang terpaku.


Leoni terkesiap ketika kursinya di tarik dari meja, "Aww... lepaskan aku!" pekik Leoni. Ketika Louis menggendongnya ala bridal style, lalu tanpa mengatakan apa-apa, Louis berjalan menuju tangga kakinya begitu cepat menaiki anak tangga satu persatu tanpa merasa beban berat sang istri.


Leoni terkejut juga malu hingga ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Louis. Sementara, Amelia melempar garpu dan pisau di atas meja dengan kasar lalu ia berjalan meninggalkan ruang makan dengan kesal ke arah paviliun dengan menghentakkan kaki di lantai begitu keras.


"Si**alan!" gerutu Amelia seraya membanting pintu kamarnya dengan kasar.


Plak...


Semua pelayan tertawa karena merasa aneh juga lucu dengan kecemburuan Amelia. Andre mengambil alih di meja makan dia yang sangat lapar mulai menikmati masakan Leoni tanpa menghiraukan Amelia.


"Ayo teruskan makan kalian. Ngapain bengong? Kenapa heran dengan wanita tidak tahu malu itu atau penasaran dengan kejadian selanjutnya di kamar majikanmu?" Andre memang seperti itu mulutnya selalu tidak pernah di filter kalau bicara. Pria tua itu sudah mendapatkan jawabannya mengapa Louis membatalkan jadwal mereka di Paris.


Leoni merasa semakin malu ketika Louis membuka pintu kamar lalu kembali menutupnya tidak lupa ia mengunci pintu kamar mereka dari dalam. Suara-suara yang tadi berisik di ruang makan perlahan tidak terdengar.

__ADS_1


Dengan perlahan dan tanpa melepaskan Leoni, Louis berbaring diranjang tanpa melepaskan Leoni dari pelukannya.


"Teganya kau!" pekik Leoni seraya menggeliat di dalam pelukan Louis.


Louis terus menahan Leoni dari dalam pelukannya seraya berkata, " Apa yang sudah kulakukan selain membawamu ke tempat yang kuinginkan?"


"Semua orang tahu persis apa yang ingin kau lakukan!" seru Leoni, tidak peduli pada apapun selain rasa malunya.


Louis terkekeh mata coklatnya bersinar hangat.


"Kau selalu berlebihan, sayang. Mereka mungkin berpikir aku membawamu ke sini untuk memukulmu. Apakah kau akan merasa tenang jika kembali ke ruang makan dengan mata lebam?" Louis tersenyum semirik.


"Kau menyepelekan masalah," kata Leoni marah, "bahkan binatang pun menunjukkan rasa hormat kepada pasangan mereka. Aku hanya akan tenang jika aku kembali ke bawah dengan segera."


Louis mengabaikan kemarahan istrinya. Mafia itu mencium Leoni begitu kasar hingga pikiran wanita itu buyar seperti bayangan abstrak menghilang begitu saja dari benaknya.


Ketika Louis menyelesaikan ciumannya dengan gair""ah, Leoni begitu pusing hingga tidak sadar kalau Louis sudah menurunkan dirinya ke lantai.


Leoni merapikan rambut dan gaunnya, " Kau sungguh-sungguh?" Leoni sangat kesal.


"Aku menginginkanmu, tapi jika kau kesal karena aku menahanmu di sini...Pergilah sekarang, sebelum aku berubah pikiran." Louis mengedipkan mata kirinya sembari menji""lat bibir bawahnya.


Leoni menundukkan mata, suaranya bergetar, " Terima kasih suamiku," Rasanya dia ingin muntah melihat kelakuan suaminya.


"Suamiku?" ulang Louis jijik dan mende"s"ah, " Selesaikan makan malammu dan tolong bawakan bagianku ke kamar. Tapi, sebelum kau ke bawah tolong siapkan air panas di bathtub aku ingin berendam," Louis tersenyum jahil.


Leoni tidak berkata lagi dia segera ke kamar mandi untuk menyiapkan air panas di bathtub karena jika ia berlama-lama di dekat Louis.Ia takut jantungnya tidak aman karena perasaan aneh yang terus mendesak dirinya.


Usai menyiapkan air panas di bathtub Leoni melangkah keluar dari kamar mandi dia menyempatkan menatap wajahnya di meja rias. Leoni mende""sah ketika melihat bibirnya bengkak.


"Ternyata di Mansion ini ada tawon gede," sindir Leoni seraya melangkah menuju pintu kamar.


Louis terkekeh melihat tingkah lucu istri kecinya. Amarah satu Minggu lalu ia lupakan begitu saja. Leoni menarik gagang pintu ia baru mau melangkah keluar dengan cepat Louis memanggil. Leoni menghentikan langkahnya, ia memejamkan mata berusaha mengontrol emosi yang sebentar lagi meledak.

__ADS_1


"Dan, Leoni suruh pelayanmu ke sini untuk mengemasi barang-barang mereka sekarang kembali ke paviliun karena aku sudah kembali. Tapi kau harus kembali ke sini dalam satu jam atau kau akan kembali mendapat alasan untuk menyebutku binatang."


Tanpa menjawab ucapan Louis, ia bergegas pergi ke ruang makan. Mendengar perintah yang diberikan Louis, membuat Leoni nyaris seperti istri sejati dan herannya ia melakukan dengan bangga tanpa melakukan penolakan.


"Kemana Amelia?" tanya Leoni. Ia menarik kursi duduk berhadapan dengan Andre yang sedang menikmati makan malamnya.


"Dia ke kamarnya karena tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Aku heran ada wanita tidak tahu diri seperti Amelia itu," Andre menggelengkan kepalanya.


Leoni tersenyum sinis, " Aku pikir wajar jika dia cemburu." Leoni tidak merasa lapar lagi dan makanan yang lezat di atas meja itu sudah tidak menarik bagi Leoni.


"Kau wanita hebat," sahut Andre seraya menuangkan wine di cangkir.


"Aku hanya berusaha menjadi tegar," lirih Leoni.Tanoa ia sadari telah mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendamkan seorang diri.


"Wine?" tawar Andre seraya memberikan satu cangkir berisi wine untuk Leoni.


"Tidak. Aku sudah berhenti sejak menikah dengan dia."sahut Leoni.


Lalu ia melihat ke arah Megan dan Wilda, "Kemasin barang-barang kalian dinakmr dan bawah kembali ke paviliun." suruh Leoni.


"Baik, Non. Tapi, di sana ada tuan?" tanya Megan takut.


"Masuk saja dia sedang berendam," jawab Leoni.


Leoni berdiri dari kursi dia segera menyiapkan makanan lalu disusun dnegen rapi di atas napan.


"Untuk Louis?" tanya Andre.


"Ya. Dia malas ke ruang makan." jelas Leoni seraya membawa makanan suaminya ke kamar.


Andre setuju dengan pernyataan Leoni barusan karena selama ia dan Louis di Paris Mafia itu benar-benar tidak istirahat dia terus bekerja tanpa memikirkan wanita sama sekali.


Melihat Leoni sudah menghilang dari tangga Andre berkata," Aku yakin rumah tangga kalian akan berakhir..." Lalu ia melanjutkan minumnya.

__ADS_1


__ADS_2