
Tetapi saat Leoni sampai di depan pintu kamar itu artinya dia sudah kembali ke Louis, ketenangannya lenyap. Dia tidak ingin berdiri berlama-lama di depan pintu wanita itu bergegas membuka pintu kamar lalu ia melangkah masuk membawa makanan Louis yang di susun rapi di dalam napan.
Louis sudah selesai mandi dan tengah duduk di kursi di samping perapian. Menyadari pintu di buka Louis memindahkan kursi itu menghadap pintu, dan menatap Leoni ketika wanita itu berjalan masuk.
Louis mengenakan piyama berwarna kuning terbuat dari sutra. Pakaian itu membuat matanya terlihat cokelat muda. Louis membiarkan kancing bagian atasnya terbuka hingga menampilkan bulu-bulu hitam lebat di dadanya. Mata Leoni langsung tertuju di bulu dada Louis dan wajahnya berubah merah padam ketika Louis menangkap basah dirinya.
"Ini makanannya," ucap Leoni malu-malu karena tertangkap basah Louis.
"Ya. Aku akan ke sana," sahut Louis.
Pria itu berdiri dari kursi dekat perapian lalu berjalan ke arah sofa. Leoni memilih duduk di sofa singel sembari membuka cangkang lobster untuk Louis. Karena, ia tahu jika duduk di sofa panjang maka Louis tidak akan makan lobster tetapi dirinya lah yang akan di makan Louis.
"Wah..lobster." seru Louis seraya duduk di sofa. Seperti anak kecil yang senang melihat mainan baru, Leoni tersenyum ternyata suami dinginnya bisa juga girang.
Leoni tidak menjawab dia terus fokus membuka cangkang lobster. Louis meraih garpu lalu menyuapkan daging lobster ke mulutnya.
"Siapa yang masak?" tanya Louis.
"Kenapa nggak enak?" Leoni mengangkat wajahnya, ia balik bertanya menunggu jawaban Louis dengan cemas.
__ADS_1
"Ini enak bangat aku perlu kasih bonus untuk koki yang masak makanan lezat ini," sahut Louis.
"Syukurlah. Kokinya ngga butuh di bonus," batin Leoni.
Leoni tersenyum bangga, lalu ia kembali fokus membuka cangkang lobster dan membiarkan Louis menikmati lobster dengan tenang.
"Tolong ambilkan aku wine satu botol, Leoni." suruh Louis.
Leoni menatap Louis, wanita itu ingin sekali protes. 'TIDAK'. Tapi, daripada ribut lagi Leoni akhirnya mengalah lalu ia berdiri dan pergi mengambil wine untuk suaminya.
Louis memperhatikan langkah Leoni bibirnya tersenyum, istrinya itu sangat cantik.
"Terima kasih. Mau gabung?" tawar Lousi seraya membuka tutup botol wine.
"Tidak. Aku sudah berhenti sejak menikah denganmu," jujur Leoni.
"Hmm..tapi belum berhenti melawan musuh, 'kan?" Louis tersenyum licik.
"Uhuk..." Leoni tiba-tiba batuk. Tenggorokannya kering dan dia susah menelan salivanya. Dia takut suaminya tahu ia pergi ke red Tiger dan melawan Rey.
__ADS_1
"Minum," Louis memberi cangkir berisi air kepada Leoni.
"Terima kasih," ucap Leoni sembari menerima cangkir
berisi air lalu meneguknya hingga tandas.
Mafia itu mengabaikan ucapan Leoni. Dia kembali meneguk wine di cangkir miliknya hingga tandas. Kemudian ia kembali menikmati lobster itu. Leoni masih duduk di sofa menemani Louis makan hingga ia terlihat seperti istri penurut.
Setelah satu jam menemani Louis makan akhirnya mafia itu selesai menghabiskan lobster dan winenya. Leoni meringkas alat makan bekas Louis makan lalu membawanya kembali ke dapur.
"Aku akan membawa alat makan ini kembali ke dapur," izin Leoni. Sebelum ia keluar dari kamar.
Louis yang sudah berdiri dari hendak ke kamar mandi menatap Leoni, "Tapi aku akan lebih senang jika kau kembali ke sini lebih cepat," ucap Louis.
Leoni menarik napas seraya menatap Louis, "Aku tidak lama," sahutnya malas.
"Kau masih mencari alasan padahal kau tahu aku begitu tersiksa membiarkan kau pergi tadi." usai mengatakan itu Louis pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya sementara Leoni tersipu malu.
Wanita itu berjalan ke luar menuju dapur. Ia berharap setelah ia kembali ke kamar Louis sudah tidur. Sementara yang di harapkan tidur baru saja keluar dari kamar mandi usai membersihkan tangannya.
__ADS_1
Louis kembali duduk di kursi dekat perapian karena cuaca Spanyol sangat dingin saat ibi Spanyol sedang turun salju.