Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 75.


__ADS_3

Matahari semakin panas Bella pun selesai berenang. Leoni akhirnya memutuskan kembali ke mansion. Mafia cantik itu berdiri dari bangku tempat ia duduk tadi lalu berjalan melewati taman bunga dengan dikawal Megan dari belakang.


"Non...anda daripagi belum sarapan." ucap Megan.


"Aku sama sekali tidak merasa lapar, Megan. Setelah ini aku mau istirahat di kamar. Jika ada yang mencariku katakan saja aku tidak bisa di ganggu." ucap Leoni.


"Setidaknya minumlah susu hangat," saran Megan lagi.


"Baiklah. Tolong suruh Wilda bawakan susu dan roti gandum, ke kamarku." sahut Leoni. Dia akhirnya mengalah karena Megan terus memintanya sarapan.


Leoni dan Megan berjalan melewati koridor. Di ruang keluarga ada Amelia yang duduk sembari menonton televisi. Megan yang melihat Amelia seperti ratu, mendekatikan mulutnya ke telinga Leoni.


"Non...lihat wanita ular itu!" bisik Megan.


"Abaikan saja,"balas Leoni.


Keduanya pun melewati Amelia menuju kamar tanpa menyapa Amelia sama sekali.


"Dasar penjahat!" gerutu Amelia. Ketika ia lihat Leoni dan Megan sama sekali tidak menganggap dia ada diruang keluarga itu.


Leoni mendengar ucapan Amelia ia melirik kearah Megan lalu tersenyum sinis. Kesal karena Leoni mengabaikan dirinya Amelia berdiri dari sofa lalu kembali ke kamarnya. Padahal dia duduk di ruang keluarga itu tujuannya ingin menghasut Leoni tetapi mafia itu mengabaikan dirinya.


"Wanita itu kenapa sama sekali tidak pergi? Aku sudah berusaha membuat dia tidak nyaman di sini bahkan aku juga berhasil menghasut Louis hingga Louis sampai membenci dia lalu mengapa dia tidak pergi dari mansion ini?" Amelia duduk tepi ranjangnya sembari memikirkan rencananya untuk menyingkirkan Leoni.


****


Leoni membuka pintu kamar dia melangkah masuk ke kamarnya sebelum beristirahat Leoni memilih membersihkan diri terlebih dahulu di kamar mandi karena tubuhnya yang lengket terkena keringat saat ia berkebun tadi. Setelah tiga puluh menit membersihkan diri Leoni keluar dari kamar mandi wanita itu mengganti pakaiannya dengan kaos oblong dan celana pendek lalu berjalan ke arah ranjang. Dia membaringkan tubuhnya di di ranjang sembari memeriksa ponselnya.

__ADS_1


Tok...tok...tok...


"Masuk!" sahut Leoni.


"Non.. sarapannya." ucap Wilda. Pelayan itu melangkah masuk ke kamar Leoni seraya membawa susu dan roti gandum yang tersusun di atas Napan.


"Letakan disitu aja nanti aku minum," sahut Leoni.


"Baiklah. Segera diminum susunya Non keburu dingin," ujar Wilda sebelum ia keluar dari kamar Leoni.


"Baiklah." Leoni pun menuruti Wilda dia beranjak dari ranjang menuju sofa untuk menikmati sarapan paginya.


🐰🐰🐰🐰🐰


Setelah tiga hari keadaan Louis semakin memburuk Andre bingung. Ia berusaha menghubungi dokter pribadi Louis yang saat ini berada di Jerman meminta dokter itu segera kembali ke Spanyol karena kondisi Louis semakin memburuk namun dokter berkaca mata tebal itu tidak bisa karena saat ini ia sedang melakukan uji praktek spesialis organ manusia.


"Tidak, ini tidak benar." gumam Andre. Lalu ia berdiri teli ranjang dan berjalan keluar dari kamar menemui anak buah yang berjaga di depan pintu.


"Kau tolong panggilkan Nona Leoni. Katakan padanya tuan Louis sedang mencari dia" perintah Andre.


"Tapi..."sela anak buah itu karena awal Louis tertembak dia meminta Leoni tidak boleh menjenguk dirinya.


"Jangan takut aku yang bertanggung jawab," Andre meyakinkan anak buah itu.


Karena Andre mengatakan dia yang akan bertanggung jawab anak buah itu pun pergi mencari Leoni di ruang makan. Namun, di sana ia tidak menemukan Leoni.


"Maid...apakah anda tahu keberadaan Nona Leoni?" tanya anak buah kepada Wilda.

__ADS_1


"Ada perlu apa anda mencari majikanku?" Wilda memasang wajah kesal.


"Tuan Louis meminta Nona segera ke kamarnya." jawab anak buah itu.


"Baiklah.Kau kembali saja dan berjaga di depan pintu kamar tuanmu. Biar aku yang menyampaikan kabar ini kepada Nona," sambung Wilda.


Anak buah itu menghela napas lega karena Wilda mau membantu dirinya. Wilda berlari ke arah kebun karena Leoni sedang memetik buah di kebun kecilnya.


"Non..."panggil Wilda


"Ada apa? Kenapa kau tergesa-gesa sekali?" Leoni meletatakkan keranjang buahnya dibawah.


"Anda dicari tuan Louis." ucap Wilda antusias.


"Mengapa? Bukannya dia melarang aku menjenguknya?" sahut Leoni heran. Wilda menaikkan kedua bahunya. "Saya hanya diperintahkan begitu saja." jawab Wilda.


"Baiklah." Karena ingin cepat melihat keadaan suaminya Leoni bergegas kembali ke Mansion. Sebelum ke kamar Louis, Leoni mengambil beberapa obat yang sudah ia beli dua hari lalu untuk mengobati luka Louis di kamarnya.


Ketika Leoini memasuki kamar Louis bersama Wilda dan Megan. Andre tampak sangat malu ia lebih banyak menundukkan kepala tidak ingin menatap Leoni kecuali dipanggil atau ditanya Leoni.


"Katanya bisa merawat suamiku nyatanya keadaan suamiku semakin memburuk." gerutu Leoni seraya menempelkan tangannya di kening Louis.


Andre mengernyit ketika mendengar gumaman Leoni.


"Mengapa kau tidak memanggilku lebih awal?" tanya Leoni seraya menatap tajam Andre, " Lihat...luka bekas tembakan ini, jahitannya tidak benar dan bahunya masih ada peluru yang belum keluar, kau bisa membunuhnya!" bentak Leoni.


Dia tidak peduli Andre lebih tua darinya. Karena yang Leoni pikirkan saat ini adalah keselamatan Louis. Andre hanya diam dia sama sekali tidak membantah ucapan Leoni karena ia sadar semua ini karena kesalahannya dan Louis.

__ADS_1


"Maafkan saya," sahut Andre menunduk malu.


__ADS_2