Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 23.


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul empat pagi Louis mengerjap. Dia menggaruk kepalanya, ada apa dengan dirinya yang menginginkan Leoni lagi? Padahal setiap kejahatan Leoni tercatat rapi di dalam otak dan pikirannya.


"Tidak ...ini tidak boleh terjadi aku harus segera pergi menjauh dari wanita ini. Ini bukan rencanaku menikahi wanita ini." Louis menyibak selimutnya ia turun dari ranjang lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Sementara Leoni masih meringkuk di bawah selimut, ia sama sekali tidak menyadari pria itu sudah bangun dan sekarang suami tampannya itu tengah bersiap-siap.


Usai mengenakan pakaian Louis meletakkan dua buah pistol di pinggang kiri-kanannya.


Sebelum Louis melangkah keluar ia berdiri di tepi ranjang mengamati setiap inci wajah Leoni. Ada anak rambut nakal menutupi wajah Leoni dengan cepat Louis menyingkir anak rambut dari wajah Leonis seraya tersenyum, " Manis," Lagi-lagi kata itu lolos begitu saja dari mulutnya.


Lalu tidak ingin tergoda lagi, Louis bergegas keluar dari kamar dan meminta Andre mengeluarkan mobil dari ruang bawah tanah tempat parkir mobil.


"Louis...kau mau kemana? Harusnya kau masih tidur bersama istrimu. Jangan membuat Nona Leoni tersinggung dengan perbuatanmu ini." ucap Andre seraya memasang sabuk pengamannya.


"Ke markas!" sahut Louis seraya mengusap kasar wajahnya.


Andre melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju markas Black wolf.


"Aku bingung tidak bisa mengatasi hasr**atku sendiri." gerutu Louis dia sangat malu menceritakan ini kepada Andre.


"Puff...apakah itu menandakan kau sudah mencintai dia?" Andre tertawa sembari memukul stir mobil.


"Tidak! Aku tidak akan pernah mencintai dia. Aku tidak bodoh mencintai wanita yang selalu menghalangi rencanaku. ck!" decak Louis.


"Ya...ya...ya... Kau tidak mencintai dia tapi menginginkan dia. Betul begitu?" ledek Andre.


"Hais...kau ini!" Louis menatap tajam Andre.


Keduanya sudah tiba di markas. Louis bergegas keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam markas. Di sana banyak anak buahnya berjaga di depan pintu masuk dan di dalam markas.


"Selamat pagi, tuan." mereka bingung ada apa dengan Louis? Biasanya dia akan ke markas untuk mengintrogasi musuh yang di tangkap tapi pagi ni tidak ada musuh yang di sekap di markas mengapa Lousi datang sepagi ini?


Louis tidak menjawab dia bergegas menuju bar mini yang ia bangun di dalam markasnya . Ya Louis membutuhkan Alkohol untuk menenangkan hati dan pikirannya. Karena, hingga saat ini Louis terus menginginkan Leoni. Walaupun ia terus membantin membenci Leoni namun perasaannya bertolak belakang dengan ucapan Louis.


"Aku pikir kau akan mengajak aku ke markas Leoni." goda Andre. Pria tua itu menjatuhkan tubuhnya di sofa samping Louis duduk.


"Untuk apa aku ke markas Leoni ?" tanya Louis. Louis meneguk wine di cangkirnya dahinya mengernyit saat ia menelan cairan berwarna merah itu.


"Benar firasatku dulu, kau pasti akan lupa dengan misi awal menikahi Leoni." goda Andre.


"Baiklah ayo sekarang kita serang markasnya," Tidak terima dengan pernyataan Andre. Louis meletakan cangkirnya dengan sangat kasar diatas meja dia berdiri dari sofa tempat ia duduk tadi.


Andre tertawa, "Kau akan di tangkap karena melanggar aturan mafia," tegur Andre.

__ADS_1


"Ayo berangkat aku hanya melewati markasnya saja," ujar Louis.


Lousi berjalan lebih dulu di susul Andre dari belakang. sesampainya di depan markas Louis menatap Andre, "Biar aku yang menyetir," ucap Louis.


Andre pun mengeluarkan kunci dari kantong celananya lalu memberikan kepada Louis.


Keduanya pun berangkat ke markas Leoni. Satu jam dalam perjalanan akhirnya mobil Louis memasuki area Red Tiger.


Anak buah Leoni yang berjaga di depan pintu markas kaget melihat mobil berwarna hitam dengan bendera segitiga bergambar serigala hitam terpasang dibagian depan mobilnya.


"Kau tetap jaga disini. Aku akan melaporkan ini kepada tuan Roy." ucap salah satu anak buah Leoni.


"Baiklah. Cepatan aku belum mau mati," sahut salah satu anak buah itu.


Tanpa menjawab temannya lagi anak buah itu sudah berada di perapian.Tempat Roy dan beberapa anak buah duduk.


"Tuan, mobil tuan Black Wolf sedang berada di sekitar markas Nona." lapor satu anak buah Leoni.


"Apa? Bukannya dia baru saja menikah?" sahut Roy. Dia pun berdiri dari perapian dengan membawa senjata laras panjang menuju depan markas.


"Apakah dia akan melakukan serangan setelah dia menikahi Leoni? Ataukah Leoni saat ini sedang di kurung di tempat tersembunyi?" batin Roy. Langkahnya semakin dekat dengan pintu depan markas.


Brem..brem..brem...


Louis sengaja menaikkan gas mobil.


"Aku harap Leoni tidak salah menikahi anak TK," gumam Roy heran.


Louis tidak keluar dari mobil namun ia mondar-mandir dengan mobilnya di depan markas Leoni.


Roy tidak bisa menahan emosinya lagi dia ingin sekali melepas tembakan tapi dia masih menghargai Leoni.


"Ada apa dengan tuan Black wolf? Kenapa tingkahnya seperti anak kecil? Apakah dia sedang memancing amarah kita?" tanya Roy kepada salah satu anak buah yang berdiri di sampingnya.


"Saya tidak tahu, Tuan." jawab anak buah itu.


Andre yang duduk di samping Louis hanya bisa menunduk malu. Ini bukan Louis yang ia kenal selama ini, pria dingin itu sangat kejam dan sama sekali tidak melakukan aksi konyol seperti sekarang. Hanya karena ia ingin menghilangkan gair**ahnya bersam Leoni, Louis nekat melakukan hal konyol.


"Louis ayo pulang. Aku harus membawa kau ke dokter Elder untuk memeriksamu." ucap Andre.


Louis menoleh dia memacukan mobilnya lebih kencang lagi," Kau pikir aku sakit?" tanya Louis kesal.


"Lalu mengapa kau melakukan hal konyol ini? Apakah sekuat itu pesona Nona Leoni, hingga kau yang dulu selalu menganggap wanita rendah, sekarang kau begitu tergila-gila dengan Leoni? Oh Tuhan...tolong hentikan mafia bodoh ini!" keluh Andre seraya mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


Melihat pria tua di sampingnya ini telah frustasi Louis pun mengalah dia membelokkan mobilnya lalu melaju menuju mansionnya.


♥️♥️♥️♥️♥️


Alarm jam berdering Leoni mengerjap, matanya memandang ke arah ventilasi melihat mentari telah muncul di ufuk timur. Lalu, Leoni melirik ke sampingnya mencari keberadaan suaminya.


"Dia sudah bangun?" gumam Leoni.


Leoni menyibak selimunya ia hendak beranjak turun namun ia meringis karena seluruh tubuhnya sakit seperti habis di cambuk rantai, ditambah lagi area intinya yang terasa sangat perih.


Leoni menarik napas perlahan turun dari ranjang, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Hampir satu jam Leoni berada di kamar mandi akhirnya wanita itu berjalan keluar. Usai mengenakan pakaiannya, dan memoles wajah ya dengen make up.


Usai berdandan cantik Leoni melangkah keluar kamar, namun baru saja Leoni menarik gagang pintu Amelia sudah menunggu Leoni di depan pintu.


"Holla...apa tidurmu nyenyak, Nyoya Louis?" sapa Amelia seraya memutar bola mata malas.


"Tentu. Kan' aku ditemani suamiku." sahut Leoni sengaja memanasi Amelia.


"Hahaha...sayangnya, suami anda tadi sebelum berangkat ia berpesan kepada saya dan beberapa anak buah untuk mengantarkan kau kembali ke mansionmu. Dia tidak membutuhkan dirimu lagi setelah dia mendapatkanmu!" Amelia mendekati wajahnya dengan wajah Leoni kurang satu inci hidungnya sudah menempel dengan hidung Leoni.


Leoni yang tidak terima dirinya diperlakukan hina seperti itu dengan cepat menahan wajah Amelia lalu mendorong wajah wanita itu menjauh dari wajahnya, "Pastikan tidak bau mulut baru mendekati wajahku! Menjijikkan!" sindir Leoni.


"Sial**an," maki Amelia. Dia mengepalkan tangannya hendak menghajar Leoni.


Leoni hanya melihat dengan ekor mata lalu menaikan kedua bahunya.


"Aku tidak ingin membunuh kau disini. Tetapi, jika suamiku berpesan meminta aku pergi dari sini itu jauh lebih bagus. Kau tidak perlu mengantarkanku karena aku akan pergi sendiri bersama orang kepercayaaku dan pelayanku. Bukankah aku juga membawa mobilmu ke sini?" Leoni menatap remeh Amelia.


"Ya...segera pergi dari sini. Louis berpesan sebelum dia kembali ke mansion ini kau bersama kedua pelayanmu itu sudah tidak tinggal di mansion ini lagi. Cepatan...cepat pergi dari sini..hus...hus..hus..."Amelia mengusir Leoni dengan gaya menggerakkan tangannya seperti orang mengusir hewan.


Leoni mendorong tubuh Amelia hingga wanita itu terpental di bawah lantai, "Jangan halangi jalanku! Kamarku bersama suamiku jangan kau masuk ingat itu baik-baik. Karena, aku kwatir kau bisa jatuh pingsan melihat bukti percintaan kami." Usai mengatakan itu Leoni menemui Megan. Dia berbicara berberdua dengan orang kepercayaannya itu.


"Baik Nona." jawab Megan.


Tidak perlu menunggu lama Leoni sudah masuk ke dalam mobilnya. Meskipun anak buah Louis menahan Leoni, wanita itu tidak menghentikan dirinya untuk pergi dari sini. Para pelayan Louis menatap tidak suka kepada Amelia.


Bagi Leoni tidak ada satu orang pun yang berani menghina dirinya apalagi hanya seorang Amelia. Wanita rendahan yang menjual tubuhnya untuk mendapatkan uang.


Leoni duduk di samping Megan. Wilda pelayan Leoni duduk di kursi belakang kemudi. Megan segera memacukan mobilnya dengan kecepatan kencang menuju Manson red Tiger.


Setelah tiga puluh menit dalam perjalanan akhirnya mobil Leoni pun tiba di mansion red Tiger. Roy yang sedang duduk di ruang tamu mansion kaget melihat Leoni pulang bersama Megan dan Wilda sang pelayan.

__ADS_1


"Anakku...kenapa kau pulang?" tanya Roy kwatir.


"Paman... memangnya nggak boleh aku pulang ke mansionku sendiri?" jawab Leoni seraya duduk di sofa.


__ADS_2