
"Non... Apakah anda tahu? Wanita yang dulu meminta anda pergi dari mansion tuan, dia masih tinggal di paviliun ini bersama para pelayan." ucap Wilda seraya mengeringkan rambut Leoni dengan hair dryer.
"Apakah kau yakin wanita itu dia? Kau melihatnya sendiri? Ada berapa banyak wanita yang tinggal di paviliun itu?" tanya Leoni. Istri Louis itu meragukan ucapan Wilda karena kemarin malam dia dan Louis berbicara banyak hal. Dan suaminya sama sekali tidak membahas wanita-wanita penghiburnya.
"Saya melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Non. Tadi pagi hanya melihat wanita itu saja dan saya berharap tidak ada lagi selain wanita gila itu." harap Wilda karena dia tidak ingin melihat majikannya tersiksa lagi.
"Apakah dia memanggil kau dan Megan Lagi?" tanya Leoni meyakinkan.
"Tidak non. Hanya saja saya tidak menyukai tatapannya, dia seperti harimau lapar yang siap menerkam mangsanya." Wilda meletakkan hair dryer di atas meja . Lalu ia mulai memoles make up di wajah Leoni.
Leoni masih berusaha tenang dia tidak ingin terpancing dengan sesuatu hal yang dia sendiri belum lihat dengan mata kepalanya sendiri. Tapi, tatapan matanya tidak bisa menyembunyikan bahwa saat ini ia sedang cemburu.
"Dan lebih menakjubkan lagi non. Tadi pagi tanpa sengaja saya mendengar percakapan anak buah tuan di depan paviliun mereka bercerita bahwa. Sekarang tuan tidak bergabung dengan kelompok manapun. Lebih mengerikan lagi tiga hari lalu tuan menyerang salah satu kelompok di California hanya bersama Andre." Wilda bercerita panjang lebar.
"Bagaimana caranya dia hanya berdua dan menyerang kelompok di California. Aku masih ingat kemarin malam dia tidak memiliki bekas luka apapun. Apakah dia memiliki markas dan anak buah di California juga. Mustahil jika hanya berdua dan dia pulang dalam keadaan selamat tanpa bekas luka apapun." Leoni meragukan kehebatan Louis. Karena, Dia berkaca pada diri sendiri sehebat apapun dirinya tetap Leoni selalu mengajak anak buah dan beberapa kelompok lagi untuk menyerang musuhnya.
Wilda mengedikan bahunya, " Memangnya harus butuh banyak orang untuk menyerang satu kelompok? Apakah Nona..." Wilda tidak berani melanjutkan ucapannya.
"Ya aku tahu...aku tahu..." sela Leoni tidak sabar. . Pikirannya sedang kacau memikirkan Amelia yang masih berada disekitar dia dan Louis. Di tambah lagi Louis yang bisa menyerang satu kelompok hanya berdua seberapa hebat Louis? Memiliki ilmu bela diri apa?
Wilda memilih mengabaikan ucapan Leoni. Karena dari tatapan matanya Leoni sedang menahan amarah.
"Non...waktunya anda mengenakan dress." ujar Wilda. Wanita itu menyimpan lagi makeup dengan rapi diatas meja.
Leoni berdiri dari kursi meja rias. Dia siap dipakekan dress di tubuh cantiknya. Wilda membantu Leoni mengenakan dresnya.
Leoni mengenakan dres berwarna anggur dari wol. Dress itu terbelah di samping hingga menampakkan pakaian bagian dalam biru gelap dibawahnya dan lengannya yang melebar dihiasi banyak sulaman perak di sekeliling kerahnya yang tinggi. Korsetnya yang terpasang longgar di pinggang, terbuat dari kawat perak dan jatuh sampai ke lututnya.
Leoni membiarkan rambut pirangnya tergerai dan beberapa helai rambut sengaja ia jatuhkan diatas bagian buah Cherrynya. Perhiasan rambut dari emas di letakan mengelilingi kepalanya. Leoni pun mengenakan sepatu high heels berwarna biru dipadu dengan stoking wol biru.
"Apakah aku sudah terlihat cantik dan menjadi pasangan yang serasi dengan suamiku?" tanya Leoni menatap dirinya dari pantulan cermin meja rias. Bibirnya tersenyum manis. Ia berharap suaminya hadir di ibadah pagi.
"Anda sangat cantik. Aku pikir dres ini anda akan kenakan di waktu pernikahan anda, Nona. Anda terlihat seperti pengantin baru." goda Wilda. Pelayannya itu sangat bahagai sudah berperan membuat majikannya terlihat sangat cantik.
"Kalau begitu kita jangan berlama-lama lagi. Kita harus segera pergi karena mungkin mereka sudah menunggu kita di kapel. Aku juga tidak sabaran melihat respon wanita itu." Leoni tersenyum sinis.
Sekarang Wilda tahu mengapa Leoni memaksa diri mengenakan dress ini ternyata untuk bersaing dengan Amelia.
♥️♥️♥️
Tadi sebelum masuk ke kamar mandi Leoni meminta Wilda menyiapkan dress terbaiknya yang ia pesan langsung dari Inggris. Dres itu sangat istimewa karena terbuat dari kain sutra.
"Siapkan dres yang dipesan dari Inggris." ujar Leoni sebelum menutup pintu kamar mandi.
"Bukannya itu anda persiapkan untuk pernikahan anda," ujar Wilda.
__ADS_1
"Aku tahu. Aku tidak berpikir upacara pernikahanku cukup istimewa, tapi sekarang aku ingin memakainya."
♥️♥️♥️♥️♥️
Leoni dan Wilda berjalan keluar kamar. di depan pintu Megan sudah menunggu untuk mengawal Leoni ke kapel. Ya, Megan dan Wilda di tugaskan paman Roy untuk selalu menjaga Leoni kwatir terjadi hal yang tidak diinginkan jika Leoni hanya sendiri tinggal bersama Louis di mansion suaminya itu.
"Non...mari lewat koridor ini," Megan mengarahkan Leoni.
"Jangan berlebihan berjalanlah di sampingku seperti biasanya saja aku yakin suamiku Pun tidak ingin aku celaka disini." ujar Leoni.
Dalam perjalanan menuju Kapel Wilda melihat Monalisa sedang mengganti bunga di vas bunga. Pelayan itu berjalan lebih dekat dengan Leoni.
"Non...apakah anda mengenal pelayan itu?" tunjuk Wilda.
"Tidak." sahut Leoni.
" Dia pelayan yang dulu bekerja dimansion The mafia?" jelas Wilda.
"Aku tidak mengingatnya. Tapi aku akan senang jika bisa bertemu dia disini," sahut Leoni.
"Saya akan menyampaikan itu kepadanya.Tadi pagi Monalisa bercerita bahwa selama Nona pergi dari Mansionya. Tuan tidak pernah datang di mansion ini. Tuan juga tidak pernah lagi mendekati wanita-wanita penghiburnya." cerita Wilda.
Leoni tidak menjawab lagi wanita itu dilema hendak marah Louis tapi dia juga merasa bersalah? Cemburu karena Leoni menganggap pembicaraan mereka berdua kemarin malam hanya bualan Louis untuk mendapatkan perhatian Leoni lagi. Tapi di sisi lain Leoni merasa bersalah karena dia, suaminya itu tidak pernah pulang.
🤍🤍🤍🤍🤍
Leoni menginjakkan kakinya di kapel. Semua mata tertuju ke arah Leoni. Mafia cantik itu benar-benar menjadi pusat perhatian semua yang hadir di kapel itu tidak terkecuali Amelia.
"Sialan... wanita itu siapa? Tapi dia di dampingi dua pelayan bodoh itu, artinya dia, Leoni. Istri dari kekasihku." geram Amelia dalam hati.
Leoni tersenyum sinis, melirik kearah Amelia.
"Akan ku siksa kau dengan penampilan ku yang luar biasa. Aku akan melihat seberapa bertahan kau disini." batin Leoni.
Amelia yang duduk bersebelahan dengan Leoni tidak bisa menahan dirinya lagi untuk menghampiri Leoni dan berbicara memanasi Leoni. Sementara Leoni sesekali melemparkan senyuman kepada pelayan dan anak buah Louis yang melihat ke arahnya.
****
Akhirnya ibadah pagi selesai. Sesuai permintaan Leoni, Wilda memanggil Monalisa untuk menemui dia di depan kolam ikan tepat di samping kapel itu.
"Nona..." Monalisa datang menghampiri Leoni. Pelayan itu berdiri di depan Leoni duduk.
"Ya. kau Monalisa?".tanya Leoni.
"Benar, Non. Saya dulu bekerja di tempat tuan. Tapi hanya setahun. setelah Nyonya Rayani pergi saya pun memutuskan berhenti dari tempat tuan." cerita Monalisa.
__ADS_1
"Ya. Saya bisa mengerti kenapa kau berhenti dari sana." sahut Leoni.
Leoni tahu banyak pelayan yang kabur dari mansion ayahnya. Setelah Wiliam menikah dengan Vanesa, mansion the mafia berubah jadi tempat kerja paksa. Vanesa bertindak sesuka hatinya apalagi Wiliam yang selalu mabok-mabokan karena tidak bisa move dari Rayani.
Kesempatan itu di manfaatkan Vanesa untuk menguasai mansion dan bertindak seperti ratu di mansion itu. Dan kebanyakan pelayan memutuskan berhenti kerja di mansion The mafia.
"Duduklah di sampingku," Leoni menepuk bangku panjang itu. Meminta Monalisa duduk di sebelahnya.
Monalisa pun datang duduk di samping Leoni.
"Sudah berapa lama kau bekerja di sini?" tanya Leoni. Wanita itu menatap Monalisa.
"Sudah hampir tiga tahun Non." sahut Monalisa.
Leoni menganggukkan kepalanya itu artinya Monalisa bekerja setahun lebih dulu sebelum dia menikah dengan Louis.
Monalisa menelan salivanya kasar dia kwatir Leoni menanyakan hal-hal yang aneh.
"Apakah benar suamiku jarang tinggal di sini?" tanya Leoni.
"Benar. Sejak Nona pergi tuan lebih banyak menghabiskan waktu di luar sana, dia juga tidak membawa wanita datang di mansion ini lagi. Bahkan, tuan juga sama sekali tidak menyentuh nona Amelia lagi." cerita Monalisa.
Leoni mengerjap, sekarang dia sudah tahu jawabannya seberapa penting dirinya bagi Louis.
"Terus...apa lagi yang kau tahu tentang majikanmu?" tanya Leoni lagi.
"Tuan itu... selalu bekerja sendiri dan dia...."
Belum juga Monalisa selesaikan bicaranya.
"Ngapain kau duduk santai di sini? Apakah kau lupa siapa dirimu?" bentak seorang wanita yang datang menghampiri Leoni dan Monalisa.
Leoni dan Monalisa menoleh kebelakang. Leoni tersenyum ke arah Monalisa dan berkata ," Jangan takut ada aku di sini. kau aman berada di sampingku. Aku jamin dia tidak akan menyakiti kau dengan tangannya atau pun dengan perkataannya." Leoni menenangkan Monalisa yang mulai ketakutan.
Pelayan itu ketakutan jika Amelia mengadu kepada Louis.
Monisa berdiri dari bangku yang tadi ia duduk, " Nona...maafkan saya. Saya permisi ke dapur dulu," ucap Monalisa sopan.
"Baik. Jangan takut." Leoni tersenyum kepada Monalisa.
"Terima kasih non,"
"Sama-sama. Pergilah kerjakan tugasmu." ucap Leoni.
__ADS_1