
Amelia duduk di bangku panjang di samping Leoni. Leoni tersenyum sinis melihat penampilan Amelia. Mafia itu berhasil menyembunyikan kekagetannya. Ternyata suaminya memiliki selera rendah.
"Ada apa kau kemari?" tanya Leoni sinis.
"Eits...jangan ngegas dulu. Aku belum ambil napas, kau main serang saja," balas Amelia dengan tersenyum.
"Siapa yang ngegas?" tanya Leoni tersenyum.
Amelia tidak bisa membohongi dirinya. Wanita yang duduk di sampingnya ini nyaris sempurna. Amelia tidak bisa berpaling dari wajah Leoni. Ya tadi memang dia sudah melihat Leoni di kapel, tapi itu hanya sekilas dan berjauhan. Sekarang, Amelia duduk berdekatan langsung dengan Leoni. Kecantikannya benar-benar tidak membosankan.
Amelia yang dulu percaya rumor bahwa Leoni menderita luka-luka, mencoba mencari bekas luka di wajah dan tangan Leoni, tapi dia sama sekali tidak menemukan bekas luka itu.
Amelia semakin khawatir dengan posisinya. Dia juga meragukan ucapan Louis sebelum menikahi Leoni bahwa dia tidak mencintai Leoni. "Hanya lelaki bodoh yang mengabaikan wanita secantik Leoni," batin Amelia.
"Untuk alasan apalagi Louis membawa kembali gadis ini pulang? Jika bukan karena dia menyukainya? Gadis ini sangat cantik, kulitnya putih keemasan. Pria mana yang menginginkan simpanan jika punya istri seperti dia?" batin Amelia yang menunduk membandingkan warna kulit kuning Langsatnya dengan warna kulit putih keemasan Leoni.
Amelia panik. Pernyataannya tentang bayi berhasil mengelabui Louis. Awalnya, wanita itu berencana dua bulan kemudian untuk mengatakan kepada Louis bahwa dia keguguran, tetapi jika Leoni tidak ada di mansion ini, tapi sekarang wanita itu tinggal di mansion, berarti tidak sulit bagi Amelia. Dan Amelia yakin jika ia sudah keguguran, hubungan dia dan Louis akan kembali dekat seperti dulu.
Leoni yang melihat Amelia hanya diam dan tidak berpaling dari dirinya merasa risih. Istri kecil Louis itu berusaha mengalihkan perhatian dengan memandangi ikan-ikan koi yang berenang kesana-kemari seakan mengajak dirinya bicara.
"Jika kau tidak berbicara apapun, aku akan kembali ke kamar. Aku tidak ingin suamiku pulang tidak mendapati aku di kamar," kata Leoni sengaja memanas-manasi Amelia.
Amelia mengerjap, dia meremas ujung dressnya. Rasanya dia ingin menampar Leoni jika mereka sama-sama wanita penghibur Louis.
"Nona Leoni..." ucapnya.
"Ya...ada apa Amelia?" tanya Leoni dengan senyum sinis seraya mengedipkan mata ke arah Amelia.
Amelia tidak menjawab dan menarik napas.
"Benarkah nama anda Amelia? Ingatanku masih bagus," tanya Leoni.
"Sialan..." batin Amelia.
"Nona Leoni...saya harus akui tadi saya sempat tidak percaya wanita yang berjalan masuk ke kapel tadi adalah anda, istri Louis," puji Amelia. Namun dalam hati, dia ingin memotong lidahnya sendiri karena mulutnya berhasil memuji saingannya itu.
"Belakangan ini hal itu sering terjadi. Bukan hanya kau, tetapi suamiku sendiri mengakui hal itu," sindir Leoni halus.
__ADS_1
Amelia tersenyum semirik dari ucapan Leoni barusan. Wanita itu tidak menyukai Louis memiliki wanita selain dirinya. Ini kesempatan Amelia untuk membuat Leoni marah.
"Ehem..." Amelia tersenyum.
Leoni mengambil makanan ikan yang ada di dekatnya dan memberi makan ikan. Wanita itu memilih mengabaikan deheman Amelia.
"Saya minta maaf karena tidak menyambut kedatangan anda kemarin," kata Amelia sambil tertawa. Dia merapikan rambutnya yang menutupi matanya ke samping telinganya.
"Aku ketiduran. Karena banyak sekali yang harus aku kerjakan memindahkan barang-barangku. Louis tidak memberi aku banyak waktu, dan aku harus memindahkan semuanya dengan cepat dari kamarnya. Aku pikir jika kau ada dalam posisiku, pasti akan mengalami kelelahan yang sama," ujar Amelia dalam hati. Dia berhasil memancing amarah Leoni.
Leoni kaget dengan pengakuan Amelia. Suaminya berbohong lagi. Ternyata, selama ini dia dan wanita ini tidur di kamar dan ranjang yang saat ini dia dan Louis gunakan?
Lalu, bagaimana dengan ucapan Monalisa tadi, suaminya tidak pernah di mansion, lalu mengapa Amelia justru mengatakan hal sebaliknya?
Leoni tidak terima dia berbagi ranjang dan kamar dengan wanita itu setelah pernikahan dia dan Louis. Leoni menatap tajam Amelia, sementara Amelia tertawa santai seakan tidak terjadi apa-apa.
Namun karena gengsinya yang besar, Leoni berusaha menyembunyikan rasa cemburunya.
"Lalu... sekarang kau tinggal di mana?" tanya Leoni.
"Tapi, Nona Leoni, di mana lagi saya harus tinggal?" tanya Amelia sedih.
"Anda sendiri tahu aku tanggung Louis," lanjut Amelia.
"Aku tahu siapa dirimu," sela Leoni.
"Oh..." Amelia mengangkat bahunya.
"Aku sudah berusaha memohon kepada Louis. Kalau anda pasti keberatan dengan kehamilanku ini. Aku berusaha membujuk Louis sebaiknya bayi ini digugurkan saja agar tidak menimbulkan masalah di antara hubungan kau dan Louis. Namun, apa dayaku. Louis tetap bersikeras mempertahankan bayinya. Louis berkata tidak peduli apakah anda mau menerima anak kami atau tidak. Louis tetap menginginkan anak kami lahir sebagai pewaris tunggal," kata Amelia yang tertawa girang dalam hati.
Leoni yang berdiri di samping kolam melangkah mundur satu langkah, wanita itu hampir saja jatuh ke dalam kolam. Untung saja, dia bisa mengendalikan dirinya.
"Hamil? Anak suamiku?" tanya Leoni dengan sorot mata yang menatap tajam Amelia.
"Ya, Nona Leoni," jawab Amelia yang mengusap perutnya dengan lembut.
"Lalu, apa masalah anda menemui aku di sini?" tanya Leoni.
__ADS_1
"Aku menemuimu untuk memberitahu anda tentang kehamilanku. Tetapi akan lebih baik bagi Anda jika tidak perlu menanyakan kehamilanku ini kepada Louis. Dia adalah pria yang tidak suka dicemburui," tutur Amelia lagi.
"Cemburu?" Suara Leoni tercekat.
"Ya, Anda belum melihat bagaimana Louis marah. Sangat menakutkan untuk dihadapi!" kata Amelia bergidik ngeri.
"Aku tidak akan menghindar jika dia marah, karena aku tahu dia tidak akan memarahi aku. O ya, apakah Anda lupa bahwa Anda pernah mengatakan, 'Louis tidak akan mengganggu aku'?" Leoni mengangkat sudut bibirnya.
"Tapi sekarang dia berubah dan menyukai Anda. Tapi aku yakin dia akan kembali ke pelukanku jika ia melihat anaknya lahir nanti," Amelia menarik napas panjang. Drama mereka sangat menarik, Amelia berperan sebagai wanita paling terluka.
Namun, meskipun Amelia berperan sebagai wanita tersakiti, Leoni sama sekali tidak mengasihi wanita itu.
"Katakan padaku, siapa istri dari pemilik mansion ini?" tanya Leoni.
"Aku! Tapi aku harus menuruti perintah Louis karena itu sementara waktu kamu yang akan menggantikan posisiku. Karena aku harus fokus pada kehamilanku. Kau tahu, seorang ibu hamil dilarang kelelahan, jadi kamu lah yang harus mengurus Louis," Amelia tertawa seraya menutup mulutnya dengan tangannya.
"Akan?" Ulang Leoni tidak terima.
"Megan... apakah suamiku sudah pulang?" Leoni menatap Megan yang berdiri sekitar lima meter dari tempatnya dan Amelia duduk. Leoni ingin sekali menanyakan semuanya kepada Louis.
"Dia sementara melihat sales mengirimkan mobil baru. Mobil itu hadiah untuk kehamilanku. Aku juga meminta dia untuk memarkirkan mobil itu sebelahan dengan mobilmu," sela Amelia.
Wanita itu semakin merasa di atas angin.
Mendengar ucapan Amelia, Leoni bertekad.
"Aku akan memastikan kau akan pergi dari sini tanpa membawa apapun yang kamu inginkan," tegas Leoni.
"Anda salah, Nona Leoni. Justru aku sudah menegur dia untuk jangan terus-terusan memberikan aku hadiah, karena aku tidak ingin Anda cemburu. Tapi menurut Louis, tidak perlu memikirkan perasaan Anda," Amelia berkata seperti itu dan berdiri dari kursi.
Namun, ia tidak menyadari ucapan barusan tidak dihiraukan oleh Leoni karena Leoni sudah pergi ke taman bunga di belakang kapel. Leoni berdiri memunggungi sinar matahari membiarkan vitamin D menembus tulang punggungnya.
Leoni memejamkan matanya, berusaha melupakan semua ucapan Amelia barusan. Wanita itu tidak ingin hasutan Amelia mempengaruhi pikirannya.
Namun, Leoni hanya wanita biasa dan ia juga bisa merasakan cemburu ketika mendengar pengakuan langsung dari wanita penghibur Louis. Padahal, Leoni sudah yakin apakah dia dan Louis akan mulai lembaran baru, tetapi kenyataannya, Louis sebentar lagi akan memiliki anak.
"Lagi, lagi, aku menemukan kebohongannya lagi," gumam Leoni.
__ADS_1