Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 65.


__ADS_3

Leoni masuk ke kamar ia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Usai membersihkan diri, Leoni berjalan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk kimono. Wanita itu tidak menyadari suaminya sudah berada di kamar.


Louis sedang duduk di sofa sembari memandangi Leoni dengan tatapan aneh.


"Kau sudah disini? Padahal aku mencarimu di kebun," tanya Louis.


"Matahari mulai panas dan aku kwatir kulit cantikku ini akan terbakar," sahut Leoni seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk putih kecil.


Louis merasa aneh sejak kapan istrinya bisa memuji diri-sendiri?


"Hmmm...Malam nanti aku akan berangkat lagi ada urusan di markas." Louis berdiri ia hendak membantu Leoni melepaskan handuk dari tubuh ramping itu.


Leoni merasa tidak nyaman ia berusaha mencegah Louis tidak menye"""ntuh bagian tubuhnya, " Maafkan aku suamiku. Aku bisa melepaskan handukku, sendiri," tolak Leoni halus. Wanita itu menarik kursi di depan meja rias lalu mendudukkan pantatnya di kursi itu.


"Aku ingin membantu apa yang menjadi tugasku," sahut Louis masa bodo.


"Tapi aku sedang datang bulan suamiku," tolak Leoni.


Louis tertawa ia merasa heran dengan sikap Leoni dua hari terakhir ini. Biasanya apa yang ia lakukan Leoni tidak pernah protes tetapi setelah ia kembali dari red Tiger Louis merasakan ada perubahan dari istrinya itu.


Leoni lebih banyak menjaga jarak di antara mereka ia pun berbicara seperlunya. Karena tidak ingin berdebat Louis akhirnya mengalah ia kembali ke sofa tetapi matanya sama sekali tidak terlepas dari Leoni.


Louis juga mulai mencari di laman internet apa gejala wanita datang bulan, entah mengapa tangannya tiba-tiba menscrol layar ponselnya hingga ia mengetik topik yang ingin dicarinya.


"Ouh...pantas saja dia berubah karena mau datang bulan?" Louis mengangguk-angguk kepalanya. Ia juga heran akhir-akhir ini dia sering sekali mencari kebiasaan wanita.


"Aku akan menyiapkan pakaianmu," sahut Leoni. Wanita itu sudah selesai mengenakan pakaiannya. Ia mengambil koper kecil lalu memasukan pakaian Louis ke dalam koper itu tanpa bertanya Louis akan ke markas mana.

__ADS_1


Louis tidak menjawab ia hanya mengangguk karena mata dan pikirannya masih fokus di laman internet.


"Lucu bangat ya..."batin Louis. Saat ia melihat gejala awal wanita hamil. Mencari laman topik kehamilan Louis baru menyadari di mansionnya ada seseorang yang hamil.


"Semoga dia tidak mengatakan itu pada Leoni. Aku tidak ingin Leoni kabur lagi," batin Louis menghela napas. Karena dia juga bukan pria bodoh akhir-akhir ini Louis sedang meminta seseorang menyelidiki sebuah kasus.


"Pakaiannya sudah aku simpan di dalam kopermu. Jam berapa berangkatnya? Aku akan membuatkan cake dari buah yang aku petik tadi dari kebunku. Aku ingin sebelum kau berangkat nikmati dulu cake buatanku." ucap Leoni.


"Aku berangkatnya malam. Aku pasti akan makan masakan dari istriku. Apalagi buahnya juga dari kebun istriku sendiri," sahut Louis bangga.


Pria itu benar-benar mengikuti saran dari laman internet. Jika seorang istri sedang datang bulan, suami harus pandai mengambil hati sang istri, contohnya memuji, atau memakan makanan apa saja yang di masak sang istri.


"Baiklah, aku ke dapur dulu." pamit Leoni. Ia ingin ke dapur untuk membuat cake Cherry. Leoni memang pintar memasak selain jago menembak. Usai berpamitaan pada suaminya Ia keluar dari kamar bergegas ke dapur di sana sudah ada Wilda yang menunggu Leoni di dapur.


"Kenapa tiduran di meja? Kau tidak istirahat?" tanya Leoni seraya menyiapkan bahan kue yang ia butuhkan.


"Ssst..jangan kencang-kencang nanti ularnya benaran dengar." Leoni tidak bisa menahan tawanya.


Keduanya fokus membuat kue hingga tidak menyadari ada mafia bertubuh besar sedang berdiri di depan pintu, pria itu bersender seraya menatap istrinya mencampur bahan kue. Louis tersenyum ia merasa beruntung memiliki wanita itu. Tapi, terkadang dia merasa semakin ia mencintai semakin ia merasa Leoni menjauh darinya.


Kuenya mulai di masukin ke dalam oven, Leoni seperti biasa usai membuat kue, semua sisa bahan dan alat kue yang terletak di atas meja Leoni rapikan di bantu Wilda. dapur sudah kembali rapi Leoni dan Wilda duduk di kursi meja makan sembari menunggu kue matang keduanya bercerita bak saudara bukan pelayan dan majikan. Inilah yang disukai para pelayan disini Leoni orangnya pandai sekali bergaul tidak seperti nyonya Amelia.


"Tada...wangi sekali, 'kan kuenya?" seru Leoni tersenyum bahagia. Ia menunjukkan kue buatannya ke Wilda.


"Hmm..wangi bangat ya non." sahut Wilda seraya menghirup aroma kue buatan Leoni.


Leoni meletakkan kue itu di atas meja lalu memotong kue itu beberapa potong dan membawanya ke kamar. Leoni sangat puas dengan hasil kue buatannya hingga dalam perjalanan menuju kamar wanita itu tak hentinya mencium aroma wangi dari kuenya.

__ADS_1


Ceklek...


Leoni membuka pintu, di sofa Louis sedang bermain ponselnya.


"Cobain kue buatanku," ucap Leoni seraya meletakan piring berisi kue diatas meja sofa, ia pun duduk berhadapan dengan Louis.


"Sudah jadi? Wangi bangat aromanya." Louis meraih satu potong kue lalu menyuapkan ke mulutnya. Louis mengunyah menikmati setiap potongan kue perlahan dari tekstur hingga rasa semuanyg pas dan enak.


"Ini kue terenak yang aku makan," Puji Louis seraya tersenyum.


"Terima kasih," jawab Leoni.


"Sama-sama. Jika dikamar jangan terlalu kaku, panggil saja namaku Louis. Melihat sikapmu akhir-akhir aku yakin lama kelamaan kau bisa membuatku gila." ujar Louis.


Leoni tersenyum sinis, dia memilih berdiri dan berjalan ke arah meja rias merapikan rambut dan memperhatikan wajahnya.


"Bukan aku tetapi cara dan sikap kau yang sering membuatku merasa tidak berarti." sahut Leoni.


"Istriku, masalah apalagi yang tidak aku ketahui? Katakan jika itu yang membuat sikapmu berubah, sungguh aku tidak mengerti tentang ya g kau katakan. Kenapa selalu saja ada yang mau ributkan padahal hal itu sepele dan kau berusaha untuk membesarkan masalah itu." Kue ya g di tangannya tidak jadi ia suaokan dimulutnya. Louis menghela napas lalu meletakkan kue itu di atas piring lagi. Mafia itu berdiri dari sofa bejalan ke arah kamar mandi memilih membersihkan tubuhnya.


Karena ia pikir percuma saja jika berada di kamar itu Leoni sudah tidak nyaman melihat dirinya. Leoni hanya menghela napas menatapi punggung lebar itu yang semakin jauh dari tatapannya.


"Bagi kau hal itu sepele tapi tidak bagiku, suamiku. Jika kau memposisikan diriku sebagai aku semenit saja kau akan merasakan betapa sakit ya hati ini jika mihat kekasih simpanan suaminya hiduo bersama di satu atap ini." gumam Leoni.Ia memilih ke arah ranjang merebahkan tubuhnya yang lelah, menenangkan pikirannya yang kacau.Wanita itu berharap bangun nanti semua sudah selesai.


Namun, yang duga salah. Alarm ponsel berbunyi Leoni membuka mata, ia mengedarkan pandangannya di sekitar kamar namun ia tidak menemukan suami gantengnya. koper berisi pakaiannya pun tidak ada di atas meja.


"Sudah pergi tanpa pamit. Selalu saja menganggap masalah hati adalah hal sepele."gerutu Leoni.Ia kembali merebahkan dirinya diatas ranjang menutupi tubuh kecilnya dengan selimut. Tetapi bukannya tenang wanita itu justru merasa gelisah.

__ADS_1


__ADS_2