
Sejak keberangkatan Louis, Leoni merasa gelisah, cemas, kwatir bercampur menjadi satu. Ia berulang kali menarik napas lalu menghembuskan perlahan. Ia juga sudah berusaha tidur tetapi hati dan pikirannya tidak mendukung.
Leoni meraih ponselnya di atas nakas ia ingin menghubungi Louis tapi gengsi. Karena, selama dua hari terakhir ini dia menjaga jarak dengan suaminya.
"Dia ke markas mana?" gumam Leoni.
Leoni beranjak dari ranjang ia berjalan ke arah sofa mencoba merebahkan diri di atas sofa seraya menonton film action,tetap saja tidak membuat ia merasa lebih baik. Akhirnya Leoni mengirimkan pesan pada Megan.
[Bawakan aku wine satu botol ke kamarku, sekarang!]
Usai mengirimkan pesan pada Megan. Leoni meletakkan ponselnya diatas meja sofa. Lalu mencoba berbaring di sofa panjang sembari memaksa memejamkan matanya namun tetap saja tidak bisa, ia kembali membuka matanya.
Tok...tok...tok...
"Masuk!" perintah Leoni.
__ADS_1
Karena sudah mendapat perintah, Megan membuka pintu ia melangkah masuk kamar Leoni seraya membawa satu botol wine dan cangkir di susun diatas napan sesuai perintah Leoni tadi.
"Non, mengapa anda ingin minum lagi? Bukannya anda sudah berhenti sejak menikah?" tanya Megan.Ia merasa cemas dengan majikannya. Bertahun-tahun bekerja dengan Leoni, Megan tahu pikiran Leoni sedang kacau tapi dia tidak tahu alasan yang membuat Leoni sekacau sekarang? Ia pikir mungkin Leoni dan Louis berselisih paham lagi hingga wanita itu terlihat gelisah seperti itu.
"Tinggalkan aku sendirian di kamar, Megan!" titah Leoni tanpa melihat ke arah Megan.
"Baiklah." Karena perasaan Leoni sedang tidak baik-baik saja Megan tidak ingin bertanya lebih banyak lagi. Ia pun keluar meninggalkan Leoni seorang diri di kamarnya.
Melihat Megan pergi, Leoni menarik napas ia menyenderkan kepalanya di senderan sofa sebentar lalu ia kembali duduk tegak tangannya meraih cangkir lalu menuangkan wine ke cangkir dan meneguknya hingga tandas hanya dalam sekali tegukan. Meskipun ia minum banyak alkohol Leoni sama sekali tidak merasa pusing, wanita itu masih bisa mengontrol dirinya. Leoni meraih ponselnya dia tahu ia harus menghubungi siapa? Leoni menggeser layar ponsel lalu mengetik nomor ponsel orang itu. Ia mulai melakukan panggilan setelah panggilannya terhubung.
"Baik, Nona." sahut orang itu.
Kemudian ia mengakhiri panggilan dan menghapus panggilan keluar.Leoni memang tidak pernah save nomor ponsel orang lain. Ia mampu menghapal banyak nomor dalam pikirannya. Jadi, wajar Louis sama sekali tidak menemukan nomor orang lain di daftar kontak ponsel Leoni.
Pria yang dihubungi Leoni bergegas mengecek dan ternyata ia menemukan Louis sementara menuju airport.
__ADS_1
Tidak menunggu lama pria itu menghubungi Leoni lagi,
["Tuan saat ini sedang dalam perjalanan menuju airport. Bagaimana kami mengawasi dia dari kejauhan atau melakukan sesuatu?"]
["Ikuti dia sekarang, awasi dia dari kejauhan. Jangan sentuh dia apalagi sampai terluka aku jamin kalian yang akan ku bunuh saat ini juga.] ancam Leoni. Wanita itu pun langsung mengakhiri panggilan tanpa mendengar jawaban orang itu.
"Huftt..." Leoni menarik napas lega akhirnya ia bisa tahu posisi Louis saat ini.
💜💜💜💜💜
Dalam perjalan menuju airport tiba-tiba Andre mendapat panggilan.
Louis masih mengabaikannya lirikan Andre. Tampak pria tua itu sangat emosi ketika ia melihat Louis masa bodo.
[Baiklah. Ambil tindakan usahakan markas jangan sampai di kuasai mereka.] sahut Andre dingin.
__ADS_1