
Seketika ruang makan dan sekitarnya berubah menjadi sunyi dan hening. Tidak ada yang berani bersuara kecuali Amelia dan Muray. Para pelayan perlahan berjalan mundur ke dapur.
Tatapan Leoni bak burung elang yang ingin menerkam anak ayam. Tatapannya menatap tajam Amelia yang sedang asyik bercerita dengan Murray. Wanita simpanan Louis itu menunjukkan bahwa dia baru saja bersenang-senang dengan suami Leoni.
Leoni mengepal hingga buku-buku tangannya berubah menjadi warna putih urat-urat di tangan mulus keemasan itu bermunculan. Langkahnya pasti mendekati meja makan dimana sang suami hanya tersenyum dingin menunggu dirinya.
Louis melihat amarah istrinya masih sama seperti tadi di kamar, dia tidak menyukai itu. Louis ingin sekali mengusir Leoni tapi dia menahan diri karena banyak mata yang melihat mereka. Sepertinya Leoni akan melanjutkan pertengkaran mereka dan itu membuat Louis jengkel.
"Ternyata kau di sini," lanjut Leoni seraya menarik kursinya dan duduk berhadapan dengan Louis.
Mafia itu meletakkan cangkirnya lalu, menatap Leoni," Ternyata kau bisa bersuara juga." sindir Louis.
Leoni mendelik, memberi isyarat dirinya tidak butuh pertanyaan melainkan jawaban.
"Aku tadi ada urusan sebentar dengan Andre," jawab Louis lagi.
Leoni melirik ke arah Amelia serta tersenyum kemenangan. Amelia yang melihat senyum Leoni sangat marah namun dia terus berpura-pura tidak tahu karena ia sedang bahagia, di tambah lagi Murray terus mengajak dirinya bercerita.
Mafia cantik itu tahu cara memainkan dramanya meskipun hatinya belum memaafkan perbuatan Louis dan Amelia.
"Aku pikir kau sudah berangkat," sahut Leoni.
"Pukul tujuh malam nanti. Andre masih menyiapkan beberapa keperluan untuk di bawa," jawab Louis.
Wilda yang mengintip dari balik di dinding pembatas mengelus dadanya, " Syukurlah wanita ular itu sudah pergi dari meja makan." gumam Wilda. Lalu ia menarik napas dan berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan makan siang majikannya.
"Malam nanti panggil Wilda dan Megan untuk menemani kau di kamar kita," ucap Louis.
"Aku mengerti." sahut Leoni.
Wanita itu sangat pintar menyimpan perasaannya dia tidak ingin masalah dalam kamarnya dibawa sampai di luar tapi Wilda tahu Leoni sedang menahan emosinya.
"Akan aku siapkan beberapa pakaianmu," Leoni hendak berdiri.
Namun, dengan cepat Louis mencegah, " Temani aku makan siang. Setelah itu barulah kita berdua ke kamar bersama. Aku akan menunjukkan pakaian apa saja yang harus di bawa." tawar Louis.
"Baiklah." Leoni kembali duduk di kursi. Dia kembali menoleh ke arah Amelia yang duduk tidak jauh dari ruang makan.
"Sial**an..." gerutu Amelia dalam hati.
__ADS_1
Amelia dan Murray akhirnya memilih pergi dari tempat mereka duduk tadi ke paviliun. Itu sangat menguntungkan Leoni agar dia bisa bebas berbicara dengan Louis.
Wilda dan beberapa pelayan membawakan makanan ke ruang makan. Namun, saat Monalisa hendak meletakkan soup daging di atas meja tiba-tiba tanpa sengaja mangkok berisi kuah itu tumpah. Dan hampir saja mengenai Leoni, untung saja wanita itu cepat-cepat berdiri dari kursi.
Brakk...
Louis memukul meja makan dengan sangat kasar.
"Apa kau tidak bisa hati-hati?" Louis menatap tajam pelayan itu.
Kemudian ia menatap ke arah Leoni. Wajahnya menunjukkan bahwa ia sangat mengkwatirkan Leoni. Louis tidak bisa menjamin Monalisa hidup atau mati jika sedikit saja kuah panas itu mengenai tubuh Leoni.
Leoni kaget dengan sikap Louis ," Apakah anda selalu keras terhadap mereka?" tanya Leoni.
Louis menatap tajam Leoni," Karena mereka selalu ceroboh. Apa kau tidak sadar kuah itu hampir saja mengenai kulit putih keemasamu?" balas Louis. Mafia itu mengerjap berulang kali menarik napas menahan dirinya untuk tidak melakukan kesalahan.
Monalisa ketakutan pelayan itu menunduk siap menerima hukuman apa saja karena dia menyadari kesalahannya barusan.
Leoni memilih mengabaikan ucapan Louis. Dia tidak ingin membawa perasaan dengan ucapan sang suami. Tetapi, saat ini yang ia pedulikan adalah melihat pelayan itu semakin ketakutan.
"Kau bisa membawa mangkok itu dan pergi dari sini. Jangan takut tuanmu tidak akan menghukummu," perintah Leoni.
Setelah Monalisa pergi. Leoni mengambil makanan lalu meletakkan ke piring Louis. Wanita itu tidak menatap Louis sama sekali karena tidak ingin mafia itu melihat matanya yang berkaca-kaca. Leoni tidak bisa berbohong perhatian Louis barusan sudah membuat jantungnya berdetak semakin kencang.
"Bisakah kau mengangkat wajahmu? Sepertinya sopan santunmu sudah kau lupakan," ucap Louis saat menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Tidak. Sopan santun akan dibalas saat di terima," balas Leoni.
Louis menggerutu mengabaikan kenyataan bahwa dia sendiri juga sering mengabaikan sopan santun itu.
"Jadi kau menyusulku ke ruang makan karena ingin mengkritikku? Akan lebih baik jika kau diam." salak Louis.
Leoni meletakan garpu dan pisau di atas piringnya, mata abu-abunya menatap dalam Louis, " Aku tahu pendapat aku tidak berarti bagimu, suamiku. Tapi, apakah kau lupa? Kau adalah pemimpin di mansion ini itu artinya kau harus menunjukkan sedikit saja kesabaran, meskipun kau yang berkuasa. Mereka hanya gugup melihat wajah dinginmu," timpal Leoni.
"Apa aku harus bersikap lembut kepada mereka? Lalu untuk apa aku membayar mahal mereka?" Louis pun tidak kalah dia meletakkan garpu dan pisaunya dengan sangat kasar diatas piringnya.
"Jangan beranggapan uang dapat membeli segalanya termasuk harga diri mereka. Jika, kau tidak bisa bersikap lembut setidaknya lihat mereka sebagai manusia. Percuma saja kau membangun sebuah kapel di mansionmu dan beribadah setiap hari tapi kau tidak menjaga sikap dan perbuatanmu untuk mereka yang bekerja denganmu?" Leoni menggeser kursi dia ingin pergi dari ruang makan karena selera makannya sudah hilang.
"Aku menggunakan akal sehat," sela Louis.
__ADS_1
"Aku akui berdebat denganmu tidak akan menang. Tapi aku masih berpendapat anda terlalu keras terhadap orang-orang yang sudah melayani kau. Setidaknya miliki sedikit kesabaran ." Leoni membalikkan tubuhnya untuk melangkah kembali ke kamar.
"Kau menganjurkan aku kesabaran terhadap pelayanku. Tapi, bagaimana dengan dirimu sendiri?" Louis menaikkan satu alisnya.
Leoni menghentikan langkahnya, ia menoleh menatap suaminya itu dan menjawab dengan suara yang lembut nan manis, " Apa aku sudah menyinggung anda, Suamiku?" Leoni membalas senyum sinis.
Louis mengusap kasar wajahnya dia merasa benar-benar tidak di hargai Leoni. Istrinya itu menganggap remeh amarahnya.
"Apa saranmu?" sela Louis. Dia pun berdiri dari kursi dan berjalan bersama Leoni menuju kamar mereka.
"Ubah pikiran anda!" jawab Leoni cepat.
"Tidak bisa diterima." sahut Louis.
"Kalau begitu belajar bersabar, suamiku!" Leoni menaikan satu sudut bibirnya.
"Kesabaran tanpa penghargaan itu tidak ada gunanya," gertu Louis.
Leoni mengernyit penghargaan seperti apa yang diharapkan Louis?
Tetapi, bagi Louis ini peringatan dia berharap sang isteri mau memahami maksudnya Louis berharap jika dia belajar bersabar berarti Leoni pun harus bisa menerima semua yang ada pada dirinya.
"Penghargaan akan diberikan kepada mereka yang layak mendapatkan penghargaan itu." Leoni sadari maksud dari penghargaan sang suami.
"Maksudmu aku tidak layak?" Louis bergegas menahan pintu kamar dia pun melangkah masuk mengikut Leoni.
"Berpikirlah dengan hati nuranimu, suamiku." sindir Leoni.
"S,**ial... apa hubungannya masalah ini dengan hati nurani?" Louis menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Sementara Leoni membuka lemari.
"Hati nurani ku bersih," lanjut Louis lagi.
"Sudah pasti." balas Leoni Seraya mengeluarkan beberapa mantel dan celana milik Louis dari lemari.
Louis membuang napas kasarnya. Dia berjalan ke arah nakas lalu meraih sebotol wine yang selalu ada di atas nakas lalu meneguk langsung dari botolnya.
Leoni menghela napas menyaksikan sikap Louis itu, pria itu tidak bisa berdiskusi secara baik-baik. Leoni mengutuk dirinya harusnya sejak tadi ia tidak perlu berbicara dengan suaminya, Jika pembicaraannya di abaikan seperti saat ini.
Karena menurut Louis tidak ada yang salah membiarkan wanitanya tinggal ditempat yang sama dengan istrinya. Bagi Louis seorang pria berselingkuh itu hal yang wajar namun terkutukkah jika seorang istri yang berselingkuh maka wanita itu tidak pantas mendapatkan maaf dari sang suami.
__ADS_1