
Mata Louis mengikuti Leoni ketika wanita itu berjalan masuk ke kamar mereka, "Kemarilah kenapa kau melewati aku?" tanya Louis saat Leoni melewati dirinya menuju kamar mandi.
"Aku mau ke kamar mandi, perut sakit," sahut Leoni terus melangkah tanpa melihat ke arah Louis.
"Cepatan...jangan sampai ketiduran di dalam sana," ledek Louis. Leoni memutar mata malas karena kesal ia menutup pintu kamar mandi sedikit lebih kasar.
Mafia itu tersenyum sembari menaikkan kaki kiri di atas kaki kanannya. Dia tidak sabar lagi menunggu Leoni keluar dari kamar mandi berulang kali ia melihat ke pintu kamar mandi namun wanita itu belum juga keluar. Karena bosan Louis menghitung dalam hati sampai hitungan keberapa istrinya itu keluar dari kamar mandi, " Satu...dua...ti..." Belum juga hitungan ketiga Leoni membuka pintu kamar mandi.
Louis tersenyum menatap ke arah Leoni, istrinya itu sangat wangi. Pria itu menarik kursi meminta Leoni duduk di sampingnya.
"Kemarilah duduk di sini bersamaku. Hangatkan tubuhmu sebentar udara sangat dingin," Louis menepuk kursi disampingnya. Tanpa menolak Leoni pun datang dan duduk di samping Louis.
"Hmmm..." Louis menarik napas ia menghirup aroma tubuh Leoni yang berbeda dari biasanya.
"Apakah kau sengaja menarik perhatianku? Lihat saja kau begitu segar dan aroma tubuhmu. Oh..Ya Tuhan Leoni apakah kau ingin menggodaku," Kali ini Louis mendekatkan hidungnya ke arah leher jenjang Leoni, ia menghirup aroma tubuh Leoni begitu dalam.
Wanita itu berusaha menghindar karena merasa risih dengan sikap Louis.
__ADS_1
"Aku tidak menggoda kau, suamiku. Tapi badanku gerah karena itu aku memilih membersihkan tubuhku sebentar," sahut Leoni.
Louis menarik kursinya lagi lebih dekat dengan kursi Leoni, " Berapa harga sabunmu?" tanya Louis penasaran. Karena, Mafia itu tadi melihat sabun berbeda dari sabun Leoni biasanya. Sabun tadi sangat harum dan khas aromaterapi.
"Tidak mahal hanya mahal masalah waktu membuat sabun itu," sahut Leoni tersenyum hangat.
Louis tertawa karena ia merasa istrinya sedang mempermainkan dirinya.
" Kau berbohong lagi," sahut Louis.
"Tidak suamiku. Aku membuatnya sendiri untuk menghilangkan kejenuhanku," sahut Leoni.
"Tidak. Aku membuatnya juga untukmu karena aku ingin menghilangkan aroma-aroma tidak sedap dari tubuhmu yang dulu. Aku ingin menggantikan aroma wangi tubumu dari sabun buatan tanganku sendiri," sindir Leoni.
Louis mengangkat sudut bibir atasnya, ia tau tujuan Leoni sekarang.
" Kalau begitu aku senang kau telah membuatnya untukku. Karena itu aku harus membayar sabun itu, bukan? Misalnya membuktikan kepadamu betapa wangi sabun itu karena tadi aku pun menggunakan sabun buatanmu. Apa kau tidak ingin mencium aroma tubuhku yang sekarang?" sahut Louis suaranya semakin dalam.
__ADS_1
Leoni tidak punya jawaban untuk itu. Louis menatap ya dengan cara yang menambah kegugupan hingga Leoni berdiri dari kursi dan melesat ke tempat tidur.
Wanita itu sengaja mengganti seprei yang lama dengan yang baru begitupun dengan selimut tugas yang biasanya dilakukan Wilda kini di kerjakan sendiri oleh Leoni sembari mengganti seprei Leoni berdoa dalam hati ia berharap dapat mengalihkan perhatian Louis. Tetapi, saat Leoni mengambil selimut baru dan hendak meletakan diatas ranjang selimut itu sudah di tarik Louis.Entah sejak kapan pria itu berdiri di belakang Leoni wanita itu tidak menyadarinya.
Leoni pasrah tidak ada lagi yang dapat ia kerjakan selain duduk diam di tepi ranjang.
"Tetap duduk manis seperti itu Nyonya Black Wolf," Louis mengedipkan mata seraya mengangkat seprei dan selimut lama tadi dan menaruhnya di keranjang tempat menaruh baju kotor.
Leoni berusaha mengalihkan pandangannya tidak ingin melihat ke arah Louis yang semakin mendekati dirinya. Pria itu terlalu maskulin, otot yang keras, wajahnya dingin ketampanan yang menggoda semua diselimuti kepercayaan diri.
Leoni berusaha menelan salivanya, perutnya seperti melilit takut. Ia memejamkan matanya tetapi hal itu tidak mencegah Louis untuk datang dan berdiri di hadapannya.
"Biar kubantu melepaskan pakaianmu." Louis tidak suka jika saat berada di tempat tidur masih mengenakan pakaian.
"Aku bisa melakukannya," Leoni berbicara perlahan. Louis mendes""ah kesal karena Leoni menolak dirinya.
"Apa kau masih marah, Leoni?" Louis mengacak pinggangnya.Dia berusaha untuk berbaikan tetapi Leoni selalu mencari celah untuk bertengkar.
__ADS_1
"Aku tidak marah, aku tidak pernah marah.Hanya anak kecil yang biasanya marah. Aku bukan anak kecil!" Leoni berkata napasnya terengah, berjuang melepas dress yang ia kenakan tadi, memang sedikit sulit jika melepaskan sendiri. Louis masih tetap berdiri di depan Leoni dengan sabar, memperhatikan Leoni yang kesulitan melepaskan dressnya. Karena, kesal Louis langsung menarik dress itu hingga sobek. Kemudian, ia membuangnya sembarangan ke lantai hingga menyisakan pakaian dalam yang sangat tipis berwarna krem. Pakaian itu begitu tipis sampai Louis bisa melihat puncak p"ay"""ud""ara Leoni. Louis menaha napas.
Istrinya ini memang luar biasa cantiknya, bahkan pada saat keduanya bertengkar hebat hingga mafia itu memilih pergi tapi ia tidak bisa membohongi dirinya kalau ia selalu memikirkan Leoni ketika mereka berpisah, bayangan Leoni menjadi mimpi yang nyata, melihat mata Leoni berkilat-kilat seperti nyala api perak, atau lembut karena kebingungan polos. Rambutnya seperti cahaya yang indah, menghantui Louis selagi membayangkan membelai kelembutan perak itu. Tubuh Leoni, lekukannya yang menawan, kini ada di hadapan Louis lengkap dengan seluruh keindahannya__bukan lagi mimpi. Wanita cantik di depannya ini pernah menyerah padanya satu kali. Apakah malam ini Leoni akan menyerah lagi?