
"Ya Tuhan...Tidak mungkin dia istriku." Louis yakin wanita itu bukan istrinya. Pria itu berulang kali mengusap wajahnya, meyakinkan diri dengan wanita yang berdiri di depan dia.
Leoninya memang cantik, namun yang ada di depan Louis sekarang, wanita itu sangat cantik. Louis tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekati wanita itu.
Mafia itu melangkah lebih dekat lagi untuk melihat lebih seksama, ia tercengang melihat kecantikan wanita itu.
Louis belum pernah melihat wanita dengan kulit seputih itu, bibir semerah itu, hidung kecil yang mancung, dan dagu oval yang manis. wanita itu tidak memiliki pipi merah. Tetapi, kulit wanita itu berwarna gading seperti mutiara tanpa bercak menodai permukaannya yang halus. Bulu mata panjang keperakan menyembunyikan matanya yang tertunduk. Padahal Louis ingin melihat warna bola matanya.
Mafia itu tercengang, ia tidak bisa berkata-kata tangannya gemetar ingin sekali menyentuh tangan indah wanita itu. Louis berharap wanita itu mendoangakkan kepala menatap dia sekali saja.
Louis seperti orang bodoh, diam dan matanya terus memandangi wanita itu.
Siapa dia, wanita cantik itu? Dia tidak terlihat seperti pelayan. Dia jelas sudah cukup umur untuk menikah. Apakah wanita itu Leoni, Istri Louis?
Wanita itu mulai resah, *******-***** jemarinya dengan gugup dan Louis sadar dia sudah membuat wanita itu tidak nyaman.
Louis sangat menginginkan wanita itu, tiba-tiba mafia itu merasakan gairahnya bangkit lagi, "Aneh! Padahal selama ini banyak wanita yang sudah merangsang dia tidak berdiri lalu kenapa begitu dekat wanita ini aku menginginkannya?" Meskipun Louis tahu jika wanita itu Pelayan berarti Leoni majikannya dan dia adalah tuannya. Lalu, bagaimana dengan gairah yang sudah menggebu-gebu ini?
Louis tidak peduli dengan status sosial lagi. Yang ia mau wanita itu harus menjadi miliknya harus dia miliki meskipun hanya sebagai simpanannya saja.
"Tenanglah bunga kecil," ucap Louis lembut, " Aku tidak bermaksud jahat," sambung Louis lagi.
Leoni tidak menyangka Louis bisa selembut ini dengan wanita. Mafia cantik itu menaikan satu sudut bibir atasnya, " Pantas saja dia memiliki banyak wanita simpanan ternyata dia pintar merayu, dia juga bisa selembut tadi jika bersama wanita. Dasar laki buaya nggak bisa lihat cewe bening lewat udah lupa diri, dia." Leoni meremas ujung gaunnya. Wanita itu ingin sekali mengambil alat pertaniannya dibawah tanah untuk menghantam kepala Louis biar suaminya itu sadar bahwa wanita yang membuat dia lupa diri adalah istrinya sendiri.
Wanita itu mulai memainkan perannya, "Benarkah?" suara Leoni memang sangat lembut semakin membuat Louis tergila.
Louis menyukai suara wanita itu, lembut dan menyerupai bisikan, " Apakah aku memberimu alasan untuk merasa takut?" sahut Louis. Pria itu menelengkan kepalanya berusaha menatap wajah cantik yang bersembunyi dibalik penutup kain kepala usang itu.
Akhirnya Leoni mendoangakkan kepalanya lalu cepat-cepat menunduk lagi. Leoni sudah lupa betapa tampan suaminya itu. Pria itu sangat berantakan, rambut hitamnya acak-acakan membuat Louis terlihat seperti kekanakan. Sikap diam Louis membuat Leoni resah, tetapi entah mengapa suara lembut Louis tetap membuat Leoni ketakutan.
__ADS_1
"Kenapa kau seperti orang bisu? Kau membuatku resah." ucap Leoni.
"Maafkan aku, Nona. Aku masih berpikir bagaimana aku memanggilmu? Nona atau..." sahut Louis bingung.
Ya karena keduanya sama-sama diam. Leoni pun tidak ingin mengatakan bahwa dia adalah Leoni, istri dari pria mata keranjang didepan dia ini. Wanita itu justru membiarkan Louis terperangkap dalam rasa penasarannya sendiri.
"Aku punya nama. Tetapi, jika kau ingin memanggilku dengan sebutan lain itu hak kau," sahut Leoni.
Wanita itu tidak bisa menahan tawanya lagi. Dia heran mengapa suaminya tidak bisa mengenal dirinya sementara keduanya sudah berdiri berdekatan.
"Kau jangan salah paham, Nona. Aku ingin memanggilmu dengan namamu sendiri__Jika kau ingin memberitahuku siapa namamu,"
Leoni melebarkan matanya, dia pikir tadi Louis hanya berpura-pura tidak mengenal dia tapi sekarang Louis pun melupakan namanya?
Leoni mendongakkan kepalanya, "Kau ingin aku memberitahumu, namaku?" Leoni mencebik rasanya dia ingin menarik telinga pria ini. Tadi sebelum melihat dirinya Louis seperti orang kehilangan arah merindukan dirinya bahkan tanpa malu dia mengungkapkan rasa rindunya kepada Leoni di kebun itu meskipun Louis yakin Leoni tidak ada di kebun itu.
Louis menarik napas, pria itu dengan sabar menanti jawaban Leoni, " Itu sangat membantuku," sahut Louis
"Atau aku sudah tidak berarti untuk dia? Lalu apa artinya ucapan dia tadi? Sampai dia melupakan namaku!" Leoni merasa dipermainkan Louis.
Keduanya diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Leoni menghela napas berusaha tidak terpengaruh dengan permainan Louis atau mungkin itu kenyataannya?
Leoni menegakkan tubuhnya, " Apa artinya sebuah nama?" ucap Leoni. Suaranya bergetar, menahan sakit di dadanya.
Louis takjub melihat mata abu-abu keperakan itu berubah gelap. Entah mengapa dia sudah membuat wanita itu kesal. Louis, akhirnya mengalah dia tidak mempersoalkan identitas lagi, Louis pikir wanita itu ingin merahasiakan identitasnya, itu tidak masalah bagi Louis.
"Baiklah...karena kau suka menanam bunga. Kau akan ku panggil bunga kecil' aku pikir sudah cukup buatku," ucap Louis seraya melangkah satu langkah lebih dekat dengan Leoni.
__ADS_1
Louis menatap bola mata abu-abu itu, "Aku ingin berbicara sesuatu denganmu, di tempat yang lebih pribadi." lanjut Louis lembut.
"Pribadi?" Leoni melangkah mundur berusaha menjauh dan melihat ke sekeliling kebun. Leoni heran bicara pribadi seperti apa yang diinginkan Louis?
"Maksudmu?" tanya Leoni ketakutan.
"Ke tempat kau tidur, bunga kecil." sahut Louis. Pria itu tidak bisa lagi menunda apa yang dia inginkan.
Mendengar kata 'tempat ia tidur' Leoni merasa ngeri, meskipun wajahnya merona tapi Leoni masih ingat ucapan Amelia bahwa Louis tidak mencintai dirinya.
Leoni juga tidak menyangka ternyata tujuan Louis hanya ingin tidurnya hingga membawa dia sampai ke mansion milik Leoni. Wanita itu ingin sekali menolak jika Lousi bukan suaminya tapi Pria mesum ini adalah suaminya itu artinya Leoni harus menerimanya. Setelah melewati beberapa pertimbangan Leoni menarik napas.
"Jika....Jika...kau bersedia ikut denganku." Leoni terbata-bata.
Kakinya berat untuk melangkah dan butiran bening itu sudah penuh di pelupuk matanya. Entah rasa haru atau rasa sakit semua bercampur aduk menjadi satu.
Louis tersenyum sinis dia tidak menyangka wanita itu dengan mudah menyetujui permintaannya, " Mungkin dia sering melakukan itu? Bisa jadi karena suaminya tidak peduli dengan dia? Atau suaminya lebih tua. Entah siapapun pria itu dia akan menyesal telah menyia-nyiakan wanita cantik ini," batin Louis.
Louis dengan semangat berjalan mengikuti Leoni dari belakang. Keduanya berjalan melewati paviliun membuat Louis sedikit kwatir karena disini ada istrinya.
Louis berharap Leoni tidak mengetahui dirinya sedang menggoda wanita lain. Dia tidak ingin istrinya semakin menjauh darinya lagi.
"Kita sudah sampai," ucap Leoni.
"Ouh...cepat sekali," sahut Louis kaget. Dia memperhatikan ke sekeliling kamar Leoni.
Kamar yang mewah tidak pantas untuk seorang pelayan, " Siapa wanita ini? Apakah Loeni memiliki sepupu yang aku tidak tahu?" batin Louis.
Leoni menutup pintu, Louis terus memperhatikan wanita itu, bagaimana cara wanita itu berjalan, wanita itu tersenyum semua samar-samar dalam ingatan Louis.
__ADS_1
Leoni berdiri memberanikan diri menatap Louis, " Aku tahu sebenarnya anda tidak ingin membicarakan apa-apa," tanya Leoni.
Louis kaget, dia pikir ucapan Leoni tadi adalah godaan. Pria itu tersenyum dan menggeleng," kemarilah bunga kecil."