
Leoni membenci nama yang diambil Louis. Leoni mulai gelisah dengan panggilan lembut dan tatapan Louis. Memang benar Louis, suaminya tapi satu hal yang Leoni takuti adalah saat ini Louis sedang tidak mengenal dia atau sedang bermain-main dengan dia. Leoni masih ingat kejadian dikebun binatang itu dimana Louis melakukan penembakan buta hingga warga yang tidak bersalapun ikut terluka.
Leoni ketakutan, ia melangkah mendekati Louis, dengan kepala tertunduk menanti di hadapan Louis.
Louis menarik lembut tangan Leoni lalu mendekapnya dengan mesra. Leoni tidak menyangka Louis menariknya dengan lembut. Louis mengusap lembut rambut pirang Leoni. Wanita itu memejamkan matanya seandainya dia bisa jujur kalau dia adalah Leoni apakah Louis masih selembut itu kepadanya? Karena sejak dia pergi dari mansion Louis, pria itu banyak sekali melakukan kejahatan bahkan dia tidak segan menyerang langsung markas Leoni.
Namun, disaat Leoni masih terbuai dengan perlakuan lembut dari Louis. Wanita itu sudah di gendong Louis ke ranjang. Pria itu membaringkan Leoni dengan hati-hati diatas ranjang lalu ia duduk di tepi ranjang. Louis tersenyum matanya menatap dalam wajah Leoni, menikmati setiap inchi wajah Leoni seraya tangannya membelai rambut Leoni, jemarinya mulai turun membelai pipi lembut wanita itu.
Leoni tidak ingin membuka matanya, dia terus memejamkan mata menikmati setiap sentuhan lembut dari Louis. Perlakuan seperti ini yang Leoni impikan sewaktu ia belum menikah. Itu impian dulu.
Louis menatap tajam Leoni. Leoni yang sesekali membuka matanya mencuri pandang Louis merasa tubuhnya mulai kaku saat bola mata coklat itu menatap tajam dirinya, dan di saat Louis memandangnya Leoni terkesiap bibir Louis menyentuh bibirnya. Leoni merasakan banyak kupu-kupu terperangkap di dalam dirinya mencoba melarikan diri dari perutnya karena sepertinya bagian perutnya tiba-tiba dipenuhi sensasi yang aneh.
Louis memperdalam cium**annya, membuat Leoni refleks membuka mulutnya lalu kedua lidah sudah saling bertaut di dalam sana, wanita yang sedari tadi hanya pasrah dan memejamkan matanya seketika membuka matanya dan dia melihat pria yang sedang menciu**mnya adalah suaminya.
Leoni yang masih awam belum seberapa paham berusaha menyeimbangkan permai**nan Louis. Karena, Leoni cukup pintar membalas pemanasan Louis, membuat mafia itu berpikir Leoni sangat menginginkannya.
Louis menegakkan tubuhnya, napasnya terengah-engah. Pria itu melepas paksa gaun hijau tua yang dikenakan Leoni. Louis yang kesusahan melepas br**a yang dikenakan Leoni. Pria itu mengeluarkan belatih yang terselip di pinggangnya dan memotong tali br**a itu lalu membuangnya ke sembarangan arah.
"Aww..."pekik Leoni.
Louis kaget mendengar suara pekikan Leoni.
"Kenapa? Apakah aku menyakiti kau? Jangan marah karena ketidak sabaraku," ujar Louis cemas.
Leoni tidak menjawab dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya seraya menggelengkan kepalanya.
"Sayang...aku berjanji aku kan membeli ganti tali itu dua kali lipat," janji Louis.
Leoni menggigit bibir bawahnya, dia bukan sedih karena tali br*anya dirusak Louis tapi Leoni tidak suka cara Louis melepas b**ranya.
__ADS_1
Melihat belatih itu Leoni masih trauma dengan kejadian malam pertama Keduanya, di hotel.
Air mata Leoni membasahi pipinya membuat Louis merasa bersalah. Dia mengusap air mata Leoni dan berkata, "Apakah tali itu sangat berarti untumu? Sehingga aku menawarkan yang barupun kau masih saja menangis?" bisik Louis di telinga Leoni.
Louis merasa bersalah dengan sikap dia yang tidak sabaran. Dan karena perbuatannya Leoni jadi sedih.Louis mengusap kasar wajahnya dengan gelisah.
"Aku memiliki tali br**a tapiaku masih trauma dengan belatih." Akhirnya Leoni bisa menjawab pertanyaan Louis.
Louis tersenyum seraya melayangkan satu kecupan di kening Leoni," Aku minta maaf, atas kesalahanku ini. Baiklah untuk menebus kesalahanku, kau boleh melakukan hal yang sama kepadaku." Louis meletakan belatih ditangan Leoni. Pria itu tersenyum seraya mengangguk kepalanya meminta Leoni memotong celana yang dia kenakan.
Leoni membulatkan matanya dia melirik ke arah belatih yang berada di tangannya, "Apakah kau bercanda? Mana mungkin aku bisa memotong celana dan pakaian mahalmu?" Leoni menatap dalam Louis.
"Kau harus membantuku melepaskan pakaianku tapi kau bisa memotong celana ku hingga hancur jika itu bisa menghapus air matamu," ujar Louis.
Ide Louis yang mengizinkan Leoni memotong pakaiannya itu membuat Leoni tersenyum. Wanita itu merasa lucu pemikiran Louis masih seperti anak kecil dimana kesalahan itu harus dibalas dengan kesalahan yang sama.
Keduanya tertawa bersama. Louis mengusap wajah Leoni menghapus jejak air mata yang masih menempel di pipi Leoni.
Louis tidak bisa menahan diri lagi, dia menatap Leoni," Mengenai ini?" Louis pikir keduanya sudah lama tertawa bersama namun adiknya sudah tidak sabar lagi. Pria itu tersenyum lebar, " karena sebenarnya ada seorang wanita cantik begitu menginginkanku sampai___" Louis berkedip nakal.
"Itu bohong!" sela Leoni seraya tertawa, " Mengapa kau memutar balik fakta. Bahwa yang sebenarnya kaulah yang menginginkanku," timpal Leoni lagi.
"Kau tau anak buahku selalu tidak percaya setiap kali aku melakukan itu dengan wanita. Mereka biasanya memeriksa lututku untuk memastikan kemana saja aku menghilang begitu lama?" Louis mulai mengarang cerita bebas.
"Kau berdusta. Tidak ada anak buah yang berani memeriksa majikannya." sela Leoni. Wanita itu pun tau batasan anak buahnya jadi dia tidak mungkin mau percaya ucapan Louis.
"Baiklah kalau begitu bisakah kau membantuku melepaskan pakaianku," tawar Loius. Pria itu tidak sabaran lagi, Louis membantu Leoni bangun dari ranjang.
Leoni mengangguk. Karena mendapat kesempatan bergerak dibelakang Louis. Ke tempat dimana Louis tidak bisa melihatnya. Louis nyaris membuat Leoni lupa bahwa tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun. Leoni tersipu ia membayangkan Louis juga akan sama halnya dengan dirinya setelah ia melepaskan pakaian pria itu.
__ADS_1
Leoni merasa bingung dengan dirinya, perasaan takut pada Louis sudah hilang karena sikap lembut candaan ringan dari pria itu.
Pria yang ia kenal dingin, kaku dan kejam bisa juga menampilkan sisi humorisnya.
"Oh my God semoga ini bukan tipuan dari dia." batin Leoni.
Wanita itu berusah melepas pakaian Louis namun karena postur tubuhnya yang pendek membuat Leoni kesusahan.
"Tidakkah lebih mudah bagimu untuk berdiri di depanku, sayang? tanya Louis.
Saat Leoni melingkarkan tangannya dari belakang ke pinggang Louis berusaha melepas rosleting celana Louis. Mafia itu merasa aneh, dia juga baru tau ada orang melepas rosleting dari belakang.
Dengan malu-malu Leoni berjalan ke arah depan Louis lalu wanita itu pun berhasil melepas celana dan pakaian yang dikenakan Louis semuanya sudah berserakan diatas lantai.
Tubuh Louis pun kini sudah polos tanpa sehelai benang. Leoni perlahan melepas ikat rambutnya membiarkan rambut pirang panjangnya tergerai. Wanita itu masih malu-malu itu yang membuat Louis gemas.
Louis menarik lembut tubuh Leoni lalu pria itu meletakkan tangannya di pinggul Leoni yang berlekuk, lalu naik ke atas buah Cherry Leoni yang penuh.
Leoni menggigit bibir bawahnya malu-malu, alisnya berkerut ia mencoba menunduk terlalu takut menatap mata Louis.
Louis menunduk dan bibirnya menempel di puncak buah Cherry Leoni yang sempurna, lida**hnya memb**elai kulit sehalus sutra itu. Louis merasakan Leoni kaget saat bibir Louis menyes*ap benda itu dan tepat saat itu terdengar ketukan pintu.
Tok...tok...tok...
Pintu terbuka dan Greysia memasuki kamar Leoni.
"Leoni, aku___oh! Ya Tuhan maafkan aku," Greysia menunduk malu wajahnya merah padam. Greysia keluar dari kamar Leoni.
Bibi dari Leoni itu benar-benar tidak tau jika Leoni sudah kembali dari kebun. Gresya ingin mengambil stempel di kamar Leoni namun yang ia dapatkan....
__ADS_1