Menikahi Musuhku (The Mafia)

Menikahi Musuhku (The Mafia)
Bab 49.


__ADS_3

Andre berhasil menemukan alamat rumah David.


"Alamat rumahnya sudah dapat." Andre mendekatkan layar ponselnya ke wajah Louis, dia menunjukkan alamat rumah David.


"Kita kesana," Louis membelokkan mobilnya ia memacukan mobilnya menuju rumah David. Louis tahu cara untuk mencegah David pergi. Tidak menunggu lama mobil berhenti di depan rumah David.


Andre dan Louis belum turun mereka masih mengamati situasi rumah itu masih ada orang atau tidak. Andre tersenyum saat mendengar ada yang membuka pintu pagar.


"Target kita keluar." ujar Andre.


"Lakukan tugasmu," suruh Louis.


Louis memajukan mobilnya sedikit jauh dari rumah David. Andre sudah keluar dari mobil, pria tua itu sedang bersembunyi di balik tembok pagar.


"Jangan bergerak atau bersuara sedikitpun jika kau masih sayang nyawamu!" ancam Andre saat ia berhasil menangkap istri David yang hendak membuang sampah. Dia membekap mulut wanita itu kira-kira berusia tiga puluh delapan tahun bukan hanya membekap mulut wanita itu tetapi Andre juga meletakkan pisau di leher istri David.


"Tu__an.Ka__si__han anak saya sendirian di dalam rumah." wanita itu terbata-bata ia berusaha menolak ikut bersama Andre. Wanita itu terus melihat ke arah rumahnya.


"Kau tenang saja, aku pasti akan membawa anakmu juga . Tapi, kau harus bekerja sama dengan kami." Andre memasang wajah pembunuh.


Wanita itu hanya bisa menangis sembari mengangguk kepala tanda ia setuju dengan syarat yang di ajukan Andre barusan.


Andre sudah membawa wanita itu masuk ke dalam mobil. Kedua tangan Indri di borgol ke belakang bak seorang penjahat, mulutnya di sumbat dengan kain. Andre menarik paksa Indri untuk ikut bersamanya ke mobil.


"Masuk!" perintah Andre saat ia sudah membuka mobil. Wanita itu mengangguk dia masuk ke mobil tanpa melakukan perlawanan sama sekali.


"Aku masih mengambil anaknya." Andre berkata seraya menutup pintu mobil lagi.


"Cepatlah!" sahut Louis.


Setelah Andre pergi mengambil kedua anak David lagi. Louis menoleh ke belakang, ia menatap tajam Wanita itu, Indri benar-benar ketakutan dengan tatapan Louis. Mafia itu seakan ingin menelan dirinya hidup-hidup.


"Kau sudah tahu mengapa kau di bawa ke mobilku, bersama kedua anakmu di perlakukan seperti di culik? Aku tidak akan melukai kau dan anakmu jika kau mau bekerja sama dengan kami," Louis tersenyum misterius.


Wanita itu atau yang sering di panggil Indri menganggukkan kepala artinya dia setuju dengan Louis.


Andre sudah berada di dalam rumah Indri, di sana ia menemukan dua anak David. Salah satu anaknya masih bayi dan satu lagi anak cewe kira-kira berusia tujuh tahun sedang menjaga adiknya.


"Hallo anak manis. Yuk kita om kita pergi bertemu dengan ibumu," ujar Andre seraya mengangkat bayi itu dari box bayi. Tempat ia berbaring tadi.


Anak yang berusia tujuh tahun itu kaget melihat adiknya sudah di dalam gendongan Andre.


"Turunkan adikku. Ibu....ada penc"""ulik," teriak anak itu seraya menangis.


"Sssttt....jangan berteriak!"


Andre meletakkan jari telunjuknya di bibirnya meminta anak itu tidak berteriak lagi.

__ADS_1


"Jangan berteriak. Ayo ikut paman aku akan membawa kau dan adikmu ke ibumu." Andre mengulurkan tangannya ke arah anak itu.


Anak kecil itu pun menurut karena Andre sudah berjanji akan membawa dia menemui ibunya. Hanya air matanya saja yang mengalir diam-diam membasahi pipinya. Andre tersenyum ketika ia melihat anak itu sudah mengompol di celananya. Namun dia mengabaikan itu, pria tua itu menarik tangan putri David menuju mobil.


Andre membuka pintu mobil, " Lihat itu ibumu bukan?" seru Andre.


"Mommy...." Cindy. Nama putri David itu.


Indri tidak bisa menjawab karena mulutnya masih di sumbat kain. Cindy dibantu Andre masuk ke mobil sementara bayinya masih di gendong Andre. Setelah semuanya sudah berada di mobil Louis melajukan mobilnya menuju airport.


Akhirnya setelah setengah jam dalam perjalan Louis membelokkan mobilnya ke arah airport. Sesampainya di area parkir Louis memarkirkan mobilnya mesin mobil ia matikan lalu Louis segera keluar dari mobil, Andre menatap Louis, " Bagaimana dengan bayi ini?" tanya Andre polos.


"Kau seperti baru kerjasama dengan aku. Bawa saja bayi itu masuk ke airport. Dua orang ini biarkan mereka di dalam mobil."ucap Louis seraya menutup pintu mobil. Lalu ia berjalan ke pintu belakang. Louis membuka pintu itu matanya menatap tajam Indri dan Cindi.


"Kau tau apa akibatnya, jika kau berusaha kabur atau berteriak minta tolong. Itu artinya selamanya kau tidak akan bertemu dengan bayimu lagi. Apa kau mengerti?" tanya Louis. Wajah dinginnya menunjukkan bahwa dia tidak main-main dengan ucapannya.


Wanita itu mengangguk. Sementara Cindi, sangat ketakutan dia menyembunyikan wajahnya di lengan ibunya.


Usai memberi peringatan kepada Indri dan Cindy, Andre pun keluar dari mobil membawa bayi David. Keduanya berjalan masuk ke airport mencari keberadaan David. Karena, Louis sudah mengutus dua orang anak buahnya untuk mengawasi gerak-gerik David.


Louis berbicara melalui earphone kepada salah satu anak buahnya.


"Segera tangkap dia dan bawa ke lobby bandara." perintah Louis melalui sambungan telepon.


"Baik." sahut anak buahnya.


"Argh ..." David terjatuh ia memegang kakinya yang tertembak.


"Ikut kami!" bentak anak buah Louis.


David pasrah dia terus merintih karena kakinya masih mengeluarkan darah.


"Dia sudah datang," ucap Andre saat melihat David di gotong dua anak buah Louis keluar dari airport.


"Bawa dia ke mobil." perintah Louis.


"Baik, tuan."


Melihat Louis, David berusaha kabur namun ia kembali pasrah ketika Andre mencoba menjatuhkan bayinya ke lantai. David menggelengkan kepalanya.


"Jangan sakiti dia!" ucap David.


"Makanya jangan melawan ikut kami ke mobil." Louis berbisik di telinga David.


"Kau tahu aku tidak mungkin membiarkan kau kabur dengan selamat." Louis tersenyum semirik.


"Maafkan aku tuan. Aku akan bertanggung jawab tapi aku mohon jangan sakiti bayiku." Mohon David lagi.

__ADS_1


"Semua tergantung kerjasamanya." sela Louis.


David di masukkan ke kap mobil. Indri ingin berteriak melihat suaminya berdarah dan di paksa masukkan ke kap mobil.


"Daddy..." teriak Cindy.


Louis memejamkan matanya karena suara pekikan Cindy sayang mengganggu pendengarannya.


"Diam!" bentak Louis.


Cindy ketakutan, anak itu langsung diam. Berbeda dengan bayi yang di gendong Andre, anak itu kaget dengan suara bentakan Louis. Bayi itu histeris hingga Andre kewalahan mendiamkan bayi itu.


"Sepertinya dia butuh air," tanya Andre melirik ke arah Louis yang sedang menyalakan mesin mobil.


"Minumkan air." suruh Louis.


Andre tersenyum dia heran sejak kapan bayi diminumkan air? Tapi akhirnya dia pun menurut mengambil air di dasbord mobil dan meminumkan kepada bayi itu, benar saja bayi itu langsung diam.


"Benarkan apa kataku, dia haus." ucap Louis, Tatapannya tetap fokus ke depan jalan.


Setelah satu jam dalam perjalanan, mobil Louis sampai di markas miliknya yang ada di Paris. Louis keluar dari mobil, anak buahnya yang berjaga di depan pintu segera membuka pintu mobil dan membawa David, Indri dan Cindi ke ruang tahanan.


David menangis melihat istri dan anaknya ikut ditangkap.


"Jangan lupa beri mereka makanan." suruh Louis kepada anak buahnya.


"Baik tuan."


Selesai makan Lousi masuk ke ruang tahanan dia menemui David yang sudah di ikat di kursi pesakitan. Sementara istri dan anaknya duduk di kursi menghadap ke arah David.


"Jawab dengan jujur kenapa kau berani mencuri uang perusahaan ku?" tanya Louis.


Mafia itu membawa kabel yang sudah di sambungkan dengan arus listrik.


David menangis, " Tuan, uangnya ada di koper, saya janji akan kembalikan semuanya dan berhenti dari perusahaan tuan. Tapi, saya mohon bebaskan kedua anakku dan isteriku, mereka tidak tahu masalah inj. Aku mohon," pinta David air matanya tidak berhenti mengalir.


"Bawa kopernnya ke sini," teriak Louis.


Salah satu anak buahnya membawa koper milik David ke ruang tahanan.


"Kodenya." teriak Louis.


"kosong, dua, tiga, lima." jawab David cepat.


Louis menekan kode yang di sebut David. Koper itu pun langsung terbuka uang milik perusahaan Lousi tersusun rapi di sana koper itu.


David sangat malu dia terus menunduk. Karena bukan hanya Louis yang kaget melihat banyak uang di dakam koper itu tapi istrinya juga kaget dengan uang sebanyak itu. Dan herannya mengapa David itu memberikan uang itu kepada Indri.

__ADS_1


__ADS_2