
saat Brian dan Tanti sedang larut dalam dunianya, terdengar tepuk tangan dari wartawan yang membuat mereka tersadar .
Tanti tersipu malu sementara Brian hanya tersenyum pada Tanti, mereka kemudian duduk kembali ,menjawab semua pertanyaan wartawan.
setelah semuanya selesai Mereka kembali ke tempatnya masing - masing, beda dengan Tanti yang sekarang selalu menempel pada Brian setelah mendengar pengakuannya.
Brian memaklumi sikap Tanti, karena Brian juga merasakan hal yang sama seperti Tanti.
setelah kemarin bangun dari pingsan sebenarnya Brian sudah mengingat semua masa lalunya, dia hanya sedang menjaga perasaan Mei sia, pasalnya mau bagaimanpun Mei sia tidak mungkin langsung bisa menerima itu semua.
Brian sekarang di ruangan Tanti.
Tanti sudah tidak memperdulikan pekerjaannya lagi, dia memeluk lengan Brian sambil tersenyum - senyum sendiri.
" sayang.. jangan begini, kamu selesaikan pekerjaan kamu dulu !" Brian berbicara dengan lembut.
Tanti menggeleng " gak mau.. aku masih kangen sama kamu !"
Brian mendesah tidak berdaya, kemudian dia berkata lagi " hmmm... tapi nanti jika di rumah jangan seperti ini, aku mau pelan - pelan menjelaskan pada Mei sia, kamu tidak keberatankan sayang ?"
Tanti mendongak menatap suaminya " tapi.. nanti malam kamu harus tidur sama aku yah ?" Tanti berkata dengan senyum penuh arti.
Brian tersenyum kecut, pasalnya bagaimana caranya dia tidur di kamar Tanti, jika Mei sia juga tinggal di rumah itu.
Setelah seharian mengurus perusahaan mereka kemudian pulang ke rumah.
saat sampai rumah Sindi sudah menunggu di depan gerbang bersama anaknya, pasalnya Sindi melihat berita di internet tentang konferesi pers tadi siang.
mobil yang di tumpangi Brian dan Tanti berhenti di depan gerbang. Brian dan Tanti keluar dari mobil.
Brian menghampiri Sindi dan memeluknya " maafkan aku sayang .."
Sindi menggeleng " aku tidak pernah menyalahkanmu !"
Brian melapskan pelukannya kemudian mengambil Krisna dari gendongan Sindi " Anak ayah sudah besar, maafin ayah karena tidak bisa melihat tumbuh kembangmu nak "
Krisna yang di gendong cuma tersenyum memperlihatkan gigi yang masih ompongnya.
Dari dalam gerbang Mei sia memperhatikan kedekatan mereka, Air matanya menetes, dia sudah mengira jika suaminya sudah mengingat masa lalunya lagi.
Mei sia langsung masuk ke Vila dengan air mata bercucuran , dia pergi ke kamarnya langsung mengemas barang - barang miliknya.
sambil menggendong anaknya Mei sia berjalan ke luar dari kamar .
__ADS_1
saat sampai di Aula Bu Risma menghentikannya dengan mencekal lengannya " kamu mau kemana nak..?"
Mei sia menjawab sambil air matanya bercucuran " saya tidak pantas tinggal di sini , lebih baik saya tidak mengganggu keluarga kalian !, hiks ..hiks hiks "
Brian yang sudah masuk ke Vila , saat dia melihat Mei sia berbicara dengan ibunya ,dia memberikan krisna pada Sindi dan bergegas menghampiri Mei sia.
" nak.. kamu juga sudah jadi keluarga kami ." Bu Risma menggenggam tangan Mei sia dengan erat.
" ibu benar.. sayang jangan seperti ini !" Brian menghampiri Mei sia.
Mei sia menatap suaminya " untuk apa aku tinggal di sini lagi, kamu sudah ingat semuanya !, aku.. aku bukan siapa - siapa untukmu..!"
Mei sia diam sebentar kemudian melanjutkan " hiks..hiks..hiks .., kita bertemu karena kebetulan, jika kamu tidak hilang ingatan mungkin kamu tidak akan menikahiku Zan long !" suara Mei sia bergetar ,air mata terus bercucuran membasahi pipinya.
Brian mendekap tubuh Mei sia dan anaknya " sayang .. sudah tiga tahun kita bersama, susah senang kita lewati bersama, walaupun aku sudah ingat semuanya ,tetapi aku tidak akan melupakan semua yang telah kita jalani bersama !, aku ingin melihatmu bahagia percayalah..!"
Mei sia melepaskan pelukan Brian,dia menatap Tanti dan Sindi " Apa kamu bisa bahagia tanpa mereka ?!"
Brian terlonjak kaget saat mendengar ucapan Mei sia " apa maksudmu sayang !"
" seharusnya aku yang bertanya padamu, siapa mereka ?, kenapa kamu begitu dekat dengan mereka ?!" Mei sia berkata dengan sedikit emosi.
" kami berdua istrinya !" Tanti yang dari tadi diam buka suara.
Mei sia tersenyum sinis di sela tangisnya " Zan long.. jika kamu ingin membahagiakanku , aku ingin kamu meninggalkan mereka dan pergi dari sini !"
Brian terdiam ,dia tidak bisa berkata - kata, pasalnya Brian tidak bisa meninggalkan salah satu dari mereka .
Mei sia mendengus " sudah ku duga ,kamu pasti lebih memilih merekakan ?, terus buat apa aku tinggal di sini !"
Zan long tergagap " bu..bukan seperti itu sayang "
" sudahlah aku lebih baik pergi dari tempat ini ! " Mei sia mengibaskan tangan Brian.
Brian membentak " cukup Mei sia !!!, aku tidak ingin berdebat denganmu !"
Meisya tertawa " hahaha.. ternyata aku benar !, tiga tahun kita bersama kamu tidak pernah membentakku Zan long, sekarang setelah ingatanmu kembali ... Terima kasih Zan long !!!"
Mei sia langsung bergegas pergi meninggalkan mereka, Brian berlari mengejar Mei sia tetapi Tanti mencekal lengan Brian.
" sudahlah sayang .. biarkan dia pergi !" Tanti masih memegangi tangan Brian.
Brian menatap muka Tanti " lepaskan !! " dia meraung.
__ADS_1
Tanti tersentak kaget, tetapi dia masih memegang lengan Brian.
" aku bilang lepaskan !!!" Brian mengibaskan tangan Tanti.
Bu Risma dan Sindi yang melihat itu hanya bisa terpaku, pasalnya mereka tidak pernah melihat Brian semarah itu.
saat Mei sia sampai di gerbang kebetulan David mengantar Mei terumi pulang , David menghentikan mobilnya saat melihat Mei sia menggendong anaknya sambil menangis.
Mei terumi bergegas keluar dari mobil dan bertanya " kakak kenapa ?"
David menimpali " Nona Meisa tidak apa - apakan ?"
Mei sia menjawab pertanyaan David " tuan David tolong antar aku pergi jauh dari rumah ini !"
" Tapi nona..? sela David bingung.
" aku mohon Tuan David !" Mei sia memohon dengan air mata terus berlinang.
Melihat Mei sia yang seperti itu ,David tidak tega, dia langsung membuka pintu dan membawa mereka pergi dari herbang Vila.
Setelah berdebat dengan Tanti Brian bergegas keluar dari Vila, saat dia keluar Mei sia sudah tidak ada di sana, dia berlari ke luar gerbang melihat kanan, kiri mencari keberadaan Mei sia.
sayangnya Brian tidak tahu jika beberapa menit yang lalu David sudah membawa Mei sia pergi.
" arghhh.. sial !!!" Brian berteriak kencang.
di dalam mobil David.
David menatap spion dalam mobil dan bertanya " kita mau kemana nona Mei sia ?"
" Tuan David tolong antar kami kemana saja ,yang penting jauh dari Zan long !" Mei sia berkata dengan sendu.
David sudah paham jika Mei sia pasti tidak menerima keadaan keluarga Brian.
dia memahami jika wanita ,tidak semuanya mau di madu, Walaupun suaminya kaya ,mereka cenderung ingin memilikinya sendiri.
David menghela napas, dia kemudian membawa Mei sia dan adiknya di komplek perumahan kota tetangga.
dia sengaja menyewa rumah itu ,agar Mei sia bisa menenangkan diri dulu. begitulah yang ada di pikiran David.
setelah semua selesai di urus ,David tidak lupa memberi mereka sebuah kartu ATM " ini untuk kehidupan sehari - hari nona Mei sia , jika butuh sesuatu telepon aku saja !"
Mei sia mengagguk " terima kasih Tuan David !"
__ADS_1
David kemudian berpamitan dan meninggalkan mereka di rumah tersebut.