
Brian sengaja menunjukan Wajah sedikit marah, untuk memperdalam aksinya, karena dia tidak mau di berondong berbagai pertanyaan.
Ketiga istri Brian berdiskusi saat Brian ke kamar Mandi, sindi buka suara pertama " apa kita tidak terlalu berlebihan seperti ini ?"
Mei sia menjawab " menurutku tidak ,biar dia sedikit mengerti !"
" saudari Mei sia benar, kalau di biarkan kita bisa memiliki selusin saudari !" ucap Tanti.
Sindi menghela napas " aku juga tahu itu, tapi apa kalian tidak kasihan, dia masih lelah dari perjalanan jauh, setidaknya kita biarkan suami kita istirahat dulu kita bahas lagi besok, lihatlah wajahnya tadi, Brian sepertinya tidak senang dengan kita, bukannya menyambut dia agar lelahnya hilang, kita malah begini ."
Sindi mencoba menenangkan kedua saudarinya, pasalnya kalau bukan dia yang menasehati mereka siapa lagi .
setelah Brian keluar dari kamar Mandi, Sindi menghampirinya " sayang maafkan kami yah, kami cuma tidak mau ada wanita lain yang memiliki kamu "
Brian tidak bicara ,dia diam seribu bahasa sambil berjalan menghampiri lemari pakain untuk ganti baju.
setelah ganti baju Brian keluar dari kamar dan melangkah ke kamar anaknya, dia melihat Krisna sudah tertidur, Brian membelai puncak kepala dan mencium keningnya sebelum dia berbaring dan tidur di ranjang anaknya.
Ketiga istrinya yang mengikuti dari belakang menghela napas , Sindi berkata " dia benar - benar lelah , tetapi kita tidak peka sama sekali ."
" Kamu benar Sin, harusnya kita tunggu besok untuk menanyakan hal itu " ucap Tanti.
Mei sia menatap Brian dengan sendu " maafkan aku zan long "
Mereka kemudian memasuki kamar ,menyelimuti Brian dan bergiliran mencium kening suaminya.
setelah selesai mereka pergi dan kembali ke kamarnya masing - masing.
di ruang tamu Viona yang sudah lelah menyenderkan tubuhnya pada sofa, Bu Risma yang melihat itu tersenyum .
Bu Risma kemudian memanggil pelayan " Rahayu !"
__ADS_1
setelah beberapa saat Pelayan yang bernama Rahayu tergopoh - gopoh menghampiri Tuannya " iya nyonya ?"
" kamu antar Nona Viona ke kamar Tamu !" Ucap Bu Risma lembut.
" Baik nyonya, silahkan Nona Viona " Rahayu menunjukan kamar untuk Viona.
Setelah Viona pergi pak Seto menghela napas " semakin kesini kenapa anak kita semakin banyak yang menyukai yah bu ?"
" Ibu juga heran pak, apa sih yang mereka cari dari Brian, kalau hanya sekedar Bisnis ,dia tidak mungkin datang ke rumah kita " jawan Bu Risma.
" sudahlah bu.. biar mereka yang jalani, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung, toh Brian juga sudah dewasa dia pasti tahu yang terbaik buat dirinya." kata - kata khas seorang bapak keluar dari mulut pak seto.
Bu Risma juga setuju dengan pendapat suaminya, karena Brian memang sudah dewasa, dia juga sudah memiliki semuanya, mau istri berapapun pasti dia sanggup mencukupi kebutuhannya.
Tetapi yang di khawatirkan Bu Risma jika Brian tidak bisa menafkahi Batin istri - istrinya, bisa - bisa rumah tangga mereka akan berantakan.
Ke esokan harinya di ruang makan ,ketiga istri Brian sedang menata makanan untuk suaminya, para pelayan sengaja mereka suruh untuk melakukan pekerjaan lainnya.
tetapi mereka terkejut saat Viona tiba - tiba membantu mereka .
Viona sengaja memasang alarm jam 4 pagi, dia sudah berencana ingin melihat bagaiman ketiga istri Brian melayaninya.
saat dia mendengar suara ketiga istri Brian ,dia langsung menghampiri mereka tanpa di beri persetujuan oleh ketiganya.
Saat Tanti dan Mei sia mau menegur, Sindi menggelengkan kepala, dia mengingatkan mereka agar tidak membuat suaminya lebih Marah lagi.
tetapi saat mereka masak bersama, mereka tampak lebih akrab, pasalnya Viona selalu membuka pembicaraan yang menyenangkan.
Mei sia yang awalnya paling benci dengan Viona sedikit demi sedikit mulai luluh, dia merasa jika Viona bukan orang yang jahat.
Tanti dan Sindi juga berpikiran sama dengan Viona, mereka mulai bercanda bersama layaknya sudah bersahabat lebih lama.
__ADS_1
Brian turun dari kamar dengan menggendong Krisna, saat dia sampai di ruang makan Brian mengerutkan keningnya ketika melihat Viona begitu akrab dengan ketiga suaminya.
Brian berdehem mengalihkan pembicaaran mereka ber empat " ehem !"
sontak mereka ber empat langsung menengok ke arah Brian, Sindi kemudian tersenyum " eh..sayang, kamu sudah bangun ?"
Sindi menghampiri Brian san mengambil alih menggendong Krisna " anak ibu sini, biar ayah makan dulu , Krisna sama ibu oke !" Krisna tersenyum.
Brian duduk di kursi yang sudah di siapakan, dia masih menatap wajah Mei sia dan Tanti dengan heran, pasalnya perubahan sikap mereka ke Viona 90 derajat.
" jangan heran sama kami, Nona Viona orang yang baik, kami kemarin seperti itu karena belum saling mengenal saja " Ucap Sindi yang duduk memangku Krisna.
Tanti menimpali " iya sayang, kami kemarin cuma salah paham saja , iyakan Mei ?"
Mei sia mengangguk " maaf yah Zan long "
Viona kemudian bicara " sudahlah .. ayo makan dulu keburu dingin gak enak "
Brian tidak mengerti dengan pemikiran perempuan, kemarin seperti itu, sekarang seperti ini.
Mereka semua kemudian makan bersama dengan di selingi obrolan ringan, sementara orang tua Brian sengaja tidak mengganggu mereka dan menyuruh pelayan menyiapkan sarapannya di dalam kamar.
Siang harinya Brian mendapatkan telepon dari Martin, Martin mengabari jika proyek agro bisnisnya semakin banyak yang berminat.
Martin tidak lupa memberi tahu Brian jika modalnya harus terus di kucurkan ,jangan sampai berhenti di jalan ,pasalnya jika sampai berhenti di jalan semua akan sia - sia belaka.
apa lagi proyek tersebut memiliki jangka waktu yang begitu panjang untuk menyetabilkannya.
tapi bukan tidak mungkin jika sudah stabil akan menghasilkan Deviden yang lebih besar asal bisa mengelolanya.
Brian sudah memikirkan itu semua, karena sekarang jangkaunnya tidak terbatas, dia juga berencana bekerja sama dengan Tuan Husein untuk mengimpor hasil pertanian yang sedang mereka kerjakan.
__ADS_1