Menjadi Kaya

Menjadi Kaya
bab 95


__ADS_3

Brian kemudian Meninggalkan tempat tersebut. dia kembali Ke Axel Energy untuk melihat bagaimana kinerja para teknisinya.


Saat Brian datang semua Teknisi bekerja dengan canggung, Brian yang melihat itu menghela napas.


Brian mencoba bersikap Normal, dia tidak ingin menakuti para bawahannya.


Brian bertanya pada kepala Teknisi " Bagaimana ,apa hampir selesai ?"


Kepala Teknisi menjawab " Kemungkina besok bisa bekerja normal lagi Tuan "


" oh.. baguslah... " Brian menepuk bahu kepala Teknisi dan meninggalkannya.


Brian kemudian mengecek yang lainnya juga, dia bertanya pada Ali perkembangan para pekerja.


Ali mengatakan jika semuanya sudah bekerja dengan baik.


Brian mengangguk mengerti , Dia kemudian meninggalkan mereka , Kepali Teknisi menghampiri Ali setelah kepergian Brian " Tuan Ali Kenapa anda tidak bilang tentang masalah ini kepada Tuan Axel ?"


Ali menghela napas " Buat apa aku biliang, jika Tuan Axel sudah mengetahuinya !"


kepala Teknisi tersebut terkejut " Jika Tuan Axel Sudah mengetahui semuanya, mengapa Beliau tidak menegur kami ?!" Teknisi bertanya kebingungan.


" Tidak semua orang menyelesaikan masalah dengan kekerasan, Tuan Axel bukan Tuan Husen, Yang bisa menghancurkan Musuhnya begitu saja, yang aku dengar cabangnya di inggris juga mengakuisisi perusahaan Saingannya dengan cara bekerja sama, aku juga tidak mengerti jalan pikirannya , Kalian jangan khawatir Tuan Axel pasti memberi jalan keluar buat kalian !" Ali menjelaskan dengan tegas.


Kepala Teknisi tercengang ,dia tidak menyangka jika Brian tidak akan menghukum mereka, padahal mereka sudah bersiap dengan kemungkinan terburuknya.


yang membuat mereka bersalah, karena mereka telah menyabotase proyek dengan merusak Mesin pengeboran yang berdampak pada kinerja seluruh bagian dari proyek tersebut.


Tapi Brian malah Membiarkan mereka dan tidak memberi mereka teguran, Hati kepala Teknisi sedikit tergerak.Karena kebaikan Brian.


pasalnya dia belum pernah melihat pengusaha seperti Brian yang mementingkan Karyawannya , dari pada Memecat mereka karena telah membuat kesalahan yang telah di perbuat mereka.

__ADS_1


Kepala teknisi berpikir seperti itu karena dia tidak tahu jika prinsip Brian adalah mengambil hati musuh dan menggerakannya, maka niscaya mereka tidak akan menghianatinya kelak.


Contohnya Leonardo Black Company, dulu dia sangat terobsesi menghancurkan Brian, tapi dia sekarang menjadi Pion yang setia.


Green graham saja menggelengkan kepalanya saat melihat kinerjanya Leonardo untuk Axel Capital, dia berubah total, dari Pria yang Arogan menjadi Pria yang penuh Ambisi tapi rendah Hati.


Itu semua karena Brian memberi keleluasaan pada Leonardo untuk memegang Kendali Black Company dengan penuh.tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun.


...----------------...


Di tempat Tuan Husen ,Beliau sedang bertemu dengan Tuan maher Di ruangannya.


Tuan Maher yang tiba - tiba di undang jelas saja bingung, tapi dia tidak bisa menolak ,dia kemudian bertanya " Ada apa Tuan Husen mengundang saya kemari ?"


Tuan Husen Yang menyenderkan Tubuhnya di kursi kemudian duduk tegap " Bukan masalah penting, sya cuma ingin mengundang anda makan malam Besok, di IMPERIAL Resto !"


" Makan Malam ?, Tuan Husen..., kalau anda ingin bertanya di sini saja ,tidak usah terlalu Formal " Ucap Tuan Maher sambil tersenyum.


Tuan Maher yang melihat itu ,menelan ludah, pasalnya walaupun dia orang nomor dua di Qatar, tapi jarak antara nomor satu dan Dua bagaikan mendaki gunung tertinggi di dunia.


untuk Itu Tuan Maher tidak berani menyinggung Tuan Husen " baiklah, saya akan datang besok malam !"


Tuan Husen mengulas sebuah senyum, Tuan maher kemudian meninggalkan tempat tersebut , Sat di dalam mobil dia bergumam " Sial.. cepat sekali mereka tahu !"


Tuan Maher bukan orang yang bodoh, dia sudah tahu Kemana arah pembicaraan tadi , Tapi Tuan Maher sedikit heran.


" Jika Tuan Husen sudah tahu aku yang menyabotase Axel Energy, kenapa dia tidak menyerangku langsung ?, apa ada alasan Lain Tuan Husen mengundangku Ke Imperial Resto ?" Tuan Maher bertanya - tanya di benaknya.


Tuan Maher sudah tahu betapa menakutkannya Anak buah Tuan Husen, Mereka bisa menghancurkan dirinya kapanpun mereka Mau.


Tetapi Tuan Maher tidak mau berandai - andai, fokus dia sekarang ingin mengetahui apa di balik rencana Tuan Husen mengajaknya Makan malam dengan seseorang.

__ADS_1


Keesokan malamnya Brian yang sudah di beritahu oleh Tuan Husen, dia berangkat Ke Imperial Resto bersama Tuan Husen.


Mereka tiba lebih Dulu Di Imperial Resto sebelum Tuan Maher.


Brian dan Tuan Husen Berbincang - bincang sebentar sambil menunggu kedatangan Tuan Maher.


setelah beberapa menit menunggu , Tuan Maher akhirnya datang ke tempat tersebut.


Tuan Maher terkejut setrlah melihat Brian, dia tifak menyangka jika orang yang dimaksud Tuan Husen adalah dirinya.


melihat Tuan Maher yang masih berdiri terpaku, Tuan Husen menegur " selamat datang Tuan Maher, silahkan duduk !" Tuan Husen Menunjuk Kursi yang sudah di siapkan.


Tuan Maher mengangguk dan menduduki Kursi tersebut.


Ketegangan mulai terasa antara Tuan Maher dan Brian, Mereka saling menatap layaknya sedang Berbicara Lewat mata.


Tuan Husen kemudian Berdehem " Ehem..!!, Lebih baik kita nikmati hidangannya dulu, sebelum berbicara lrbih lanjut !"


Pelayan yang dari tadi membawa hidangan sengaja diam karena takut mengganggu orang - orang besar yang sedang duduk di depannya.


Pelayan menjalankan Troli hudangan setelah Tuan Husen menyuruhnya untuk menyajikan hidangan tersebut.


Mereka bertiga kemudian mulai menyantap hidangan tersebut tanpa ada yang bicara sedikitpun.


Mereka seolah sedang menebak pikiran masing - masing, hanya Tuan Husen yang menikmati hidangan dengan santai, tanpa memiliki beban sedikitpun.


setelah selesai menyantap hidangan, Tuan Husen membuka pembicaraan " Brian... aku sudah memenuhi permintaanmu, sekarang bicaralah !"


" tunggu.. jadi yang mengundang saya ke sini dia, dan bukan anda Tuan Husen ?!" ada sedikit nada tidak terima di ucapan Tuan Maher.


Tuan Husen menjawab dengan santai " Ya benar. apa ada masalah !" Tatap Tuan Husen dingin pada Tuan Maher.

__ADS_1


__ADS_2