
Brian berniat untuk melihat langsung bagaimana proyeknya berjalan.
dia berencana menemui Niko yang memang di tugaskan untuk mengawasi proyek tersebut.
sebelum berangkat Brian berpamitan dengan ketiga istrinya " sayang .. aku mau mengecek proyek agrobisnis sebentar lagi "
Tanti langsung menjawab " aku ikut yah sayang " Tanti tersenyum manis.
" bagaimana kalau kita ikut semua, lagi pula kita sudah lama tidak jalan bareng kan ?" Sindi memberikan ide.
" saudari Sindi benar, aku juga ikut !" Mei sia juga ingin pergi bersama suaminya.
sementara Viona hanya tersenyum, Karena Viona tahu jika terburu - buru dalam mengambil tindakan itu tidak baik.
Brian sengaja tidak mengajak Viona, dia rencananya ingin Martin yang menemani Viona , tetapi ketiga istri Brian malah mengajaknya.
tentu saja Viona langsung mengangguk mau, tapi Brian tidak kehilangan akal, dia mencoba untuk menahan Viona " sayang.. tapi kan mobilnya cuma muat kita ber empat saja ?"
Tapi Sindi menghancurkan harapa Brian " kamu tenang saja sayang, Kami bertiga kemarin memveli Mobil Limousine, untuk berjaga - jaga jika kita pergi rame - rame "
" iyah Zan long, Aku sih sebetulnya tidak tahu merk mobil itu, tapu setelah Sindi memperlihatkannya aku juga setuju untuk membelinya, jadi waktu kamu pergi ke inggris kami sepakat untuk membeli mobil itu " Mei sia menjelaskan dengan senyum manisnya.
Brian tidak tahu harus tertawa atau menangis, niat hati ingin menjauh dari Viona ,tapi istrinya malah membuatnya tidak bisa lepas dari Viona.
Brian menghela napas " baiklah.. terserah kalian saja !"
Mereka kemudian bersiap - siap untuk ikut Brian ke proyek tersebut.
Tanti menyuruh sopir pribadinya untuk menyiapkan mobil Limousine yang akan mereka Naiki.
Brian kemudian menelpon Niko, saat telepon di angkat , Brian lansung memberi tahu ke intinya " Niko siapkan orangmu aku dan Istriku akan kesana !" tanpa menunggu jawaban dari Niko Brian langsung mematikan ponselnya.
beberapa menit kemudian semua wanita sudah turun dengan pakain Rapi, mereka seperti mau pergi ke pesta.
Brian mendesah " sayang .. kalian tahu kan kita akan kemana ?"
Mereka semua mengangguk.
__ADS_1
" terus kenapa kalian berpakaian seperti ini, kita mau pergi ke area persawahan, bukankah lebih baik memakai ,pakaian biasa saja ?" Brian bertanya.
" hihihi.. yang mau survei kan kamu sayang, kami kan cuma mau melihat dari jauh, setelah kamu selesai kita jalan - jalan, iyakan Sind , Mei ?"
Sindi dan Mei sia mengangguk kompak.
Lagi, lagi Brian di buat tidak berdaya, dia hanya bisa mengiyakan kemauan istrinya " ya sudah, ayo kita berangkat !"
Mereka memasuki mobil , Brian duduk di tengah, dengan Tanti yang selalu menempel padanya, Sementara yang lain duduk dengan tenang, sesekali mengobrol.
Viona yang menyaksikan itu ,tambah kagum dengan Brian, pasalnya ketiga istri Brian tidak ada yang egois.
apa lagi setelah Viona mendengar tentang Tanti dari Sindi, jika Tanti di berikan tempat kusus untuk lebih dekat dengan Brian, agar dia cepat memiliki momongan menyusul Sindi dan Mei sia.
tanpa membuat Mei sia dan Sindi Iri ,karena mereka ingin berbagi Brian dengan adil.
tentu saja Viona bisa merasakan kehangatan keluarga tersebut, dia jadi tambah bersemangat ingin masuk ke harem Brian.
setelah setengah jam perjalanan, Mobil mulai masuk di area Persawahan yang Axel Capital kelola.
Telihat tanah yang terbentang luas yang di tanami bawang Merah.
Mobil Brian berhenti di ujung jalan yang di aspal, karena tidak mungkin mobil Limousin memasuki jalan yang masih tanah yang di urug batu krosok.
Niko dan anak buahnya menyambut, Brian turun di ikuti ketiga istrinya dan Viona.
Niko yang melihat empat wanita cantik itu membatin " ternyata isu tentang tuan Axel yang memiliki banyak wanita cantik memang benar "
Brian kemudian bertanya pada ketiga istrinya " kalian mau di sini saja atau ikut ?"
Tanti langsung memeluk lengan Brian " aku ikut sayang "
Sindi " aku juga ikut "
Mei sia " aku juga ikut Zan long."
Brian menghela napas " kalau kalian mau ikut ,kenapa harus memakai pakain seperti itu, lihat tuh para petani menatapi kalian semua "
__ADS_1
" sudahlah sayang.. sekali - kali berbagi keindahan kami dengan yang lain" Tanti bicara dengan genit.
Brian mencubit pipi Tanti " kamu ini !"
" Niko , apa tidak ada payung ?" Sindi bertanya pada Niko yang dari tadi terpatung.
Niko Memerintahkan bawahannya " lakukan tugas kalian !"
Para bawahan Niko langsung memayungi semua Wanita Brian, begitupun Viona.
saat mereka berjalan menyusuri jalan setapak di Area persawahan ,tentu saja menarik perhatian para petani yang sedang bekerja.
Dasmun " ayu - ayu kabeh, dadi bojo lorone aku gelem kyeh !"
Tomo " ngaca Dasmun, go mangan be angel, pengen mbojo karo wong ayu !"
Wirjo " Dasmun, Dasmun, kon ngerti ora wong wadon kue kabeh sapa ?"
Dasmun " Emange sapa jo ?"
Wirjo " kae bojone Bos Axel kabeh paham !"
Dasmun " edan ah.. ,ari wong sugih kue bebas yah !"
orang - orang yang kebetulan sedang istirahat di saung terpana dengan empat ke indahan yang berjalan melewati saung tersebut.
Mei sia yang du seorang petani ,menghampiri ibu - ibu yang sedang menanam Cabai, dia berjongkok kemudian bertanya " ibu.. kalau boleh tahu itu tanaman apa yah ?"
Sang ibu menjawab " ini cabe neng ."
Brian dan yang lain juga berhenti memperhatikan Mei sia yang antusias bertanya dengan ibu - ibu tersebut.
Mei sia bertanya dari awal tanam , pemupukan hingga siap panennya kapan. sang ibu tentu menjawab pertanyaan Mei sia, pasalnya Niko membisikan pada ibu tersebut, jika Mei sia istri bosnya.
setelah Brian berkeliling, dan memastikan tidak ada kendala di situ, Brian mengajak istrinya untuk pulang.
saat Brian akan pergi, dia memberikan amplop Coklat pada Niko yang isinya uang " Niko .. bagi rata uang ini untuk petani, anggap saja sebagai bonus agar mereka semangat bekerjanya "
__ADS_1
Niko mengangguk mengerti, Brian kemudian menyuruh sopir untuk menjalankan mobilnya.