Menjadi Kaya

Menjadi Kaya
bab 50


__ADS_3

beberapa hari berlalu ..


" Braaakkk... !!"


" Praaangg..!!! "


Brian membanting apapun yang ada di hadapannya.


" apa gunanya aku membayar mahal gaji kalian !!, mencari dua orang wanita saja kalian tidak becus !!" Brian membentak David dan orang - orangnya.


David dan orang - orangnya hanya tertunduk ,mereka tidak berani mendongak ,menatap bosnya.


" sayang.. jangan seperti ini, mereka juga sudah berusaha mencari Mei sia ." Sindi yang ada di Vila mencoba menenangkan Brian.


semenjak kepergian Mei sia , emosi Brian sering tidak terkontrol, dia sering melampiaskannya pada anak buahnya sendiri.


Brian seakan lupa janjinya dulu yang tidak akan memperlakukan bawahan dengan semena - mena. sekarang dia menjadi orang yang sam sekali berbeda dengan yang dulu.


Brian terdiam saat Sindi menegurnya, Sindi kemudian mengedipkan mata pada David agar mereka segera pergi dari situ.


David yang mengerti itu langsung berpamitan " Tuan Axel.. kami undur diri dulu !"


Brian mengabaikan ucapan David. kemudian David bergegas membawa anak buahnya pergi.


Sindi menggenggam kedua tangan Brian " sayang.. kita pasti akan menemukan Mei sia, orang tuaku juga sudah menyuruh orang - orangnya untuk mencari Mei sia juga. kamu sedikit lebih sabar lagi yah "


Bria menatap istrinya ,Matanya berkaca - kaca " maaf.. aku selalu membuat kalian khawatir ."


Sindi menggeleng, dia memegang pipi Brian " aku tahu perasaan kamu sayang.., Mei sia juga istri kamu, jika aku yang ada di posisi Mei sia ,mungkin juga akan seperti itu. jadi.. aku mohon sama kamu bersabarlah sedikit , kita akan mencari Mei sia bersama ." Sindi mengulas sebuah senyum.


Air mata Brian seketika jatuh , sungguh beruntung dirinya memiliki Sindi yang punya toleransi tinggi, dia menerima apapun keputusan Brian. dia juga tidak mempermasalahkan apa yang di lakukan suaminya.


...----------------...


Axel Corporation Kalimantan..


Anisa yang mendengar Brian sudah di temukan dia begitu bersemangat, pasalnya dia sangat terpukul saat mendengar Brian mengalami kecelakaan pesawat dan menghilang.


Anisa yang sedang duduk di ruangan Denis berbicara " Denis aku mau ambil cuti !"


Denis mengerutkan keningnya " tumben kamu mau ambil cuti ?, ada masalah apa ?"


Anisa yang hidupnya berubah semenjak mengenal Brian, dia bertekad akan bekerja untuknya dengan sepenuh hati.


Anisa tidak pernah meminta cuti sekalipun semenjak bekerja untuk Brian kecuali hari libur.


" aku mau ke Jawa !" Anisa berkata dengan jujur.


" jangan bilang kamu mau menemui Tuan Axel ?!" Denis bertanya menyelidik.

__ADS_1


Anisa tersenyum kecut " emang tidak boleh aku menemuinya hah ?!"


" terserah kamu sajalah .." Denis menghela napas, dia tidak ingin berdebat dengan partner kerjanya itu.


setelah mendengar persetujuan Denis , Anisa langsung bergegas pulang untuk menyiapkan segala sesuatunya.


...----------------...


Axel Capital ,Ruangan Martin..


David sedang menggeretu di hadapan Martin, semenyara Martin hanya menghela napas " diamlah David !, dari tadi kamu berisik sekali !"


" Martin ayolah bantu aku, kalau begini terus aku lama - lama bisa gila melihat Tuan Axel marah - marah terus !" David memohon dengan mata memelas.


" bukannya aku tidak mau membantu , tetapi kamu tahu kan ?, aku juga sudah mengirim orangku untuk menyisir semua sudut kota ini, tetapi tidak ada hasilnya ! " Martin diam sebentar kemudian melanjutkan " David bukankah kamu bilang waktu itu habis mengantar nona Mei sia membeli ponsel ?"


" kamu benar, tapi ponsel nona Mei sia di tinggal di kamarnya , tunggu dulu..!" David teringat sesuatu.


Martin mengerutkan keningnya " ada apa ?!"


" Mei terumi.. adik nona Mei sia membeli ponsel juga !" David berkata dengan semangat.


David buru - buru mengambil ponselnya dan menelpon nomor Mei terumi , akan tetapi yang menerima pangggilan David malah operator " maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif ."


David memaki suara operator seperti orang gila " brengsek..! "


Raut wajah David yang tadi sempat sumringah kembali terlihat lesu.


David menggeleng tidak berdaya, Martin menghela napas dan bertanya " ponsel yang di beli adik Nona Mei sia AxAbys atau bukan ?"


David hanya mengangguk lemas " Ya AxAbys keluaran terbaru "


" Binggo...! " Martin berkata penuh semangat.


AxAbys T9 merupakan ponsel keluaran terbaru yang Axel Corporation luncurkan, walaupun baru keluar beberapa bulan tetapi penjualannya sudah melebihi ekspetasi dari perusahaan.


selain fitur AxAbys T9 di lengkapi Ai Sistem yang sudah di upgrade dari keluaran sebelumnya, Ai sistem yang di terapkan di ponsel tersebut sudah bisa mengidentifikasi seluruh sudut kota yang penggunanya tinggali.


dan juga bisa mencari posisi orang yang pernah menelponnya jika berada di satu kota.


David menatap Martin " maksud kamu apa Martin ?"


Martin menghela napas " apa kamu tidak tahu fungsi AxAbys T9, ponsel tersebut di rancang untuk menangkap seseorang yang meneror penggunanya, walaupun si peneror menggunakan Private Number AxAbys mampu mencarinya jika masih satu kota dengan penggunanya !, jadi.."


ucapan Martin belum selesai tetapi David langsung berdiri dengan semangat dan memotongnya " maksudmu .. jika Mei terumi masih satu kota denganku, maka aku bisa mencarinya walaupun ponselnya mati ?!"


Martin mengangguk " tepat.. dan bukan hanya itu, asal kamu sudah pernah menghubunginya ,walaupun dia di seberang dunia juga bisa kita cari , apa kamu lupa siapa pembuat ponsel tersebut ?, kamu hanya tinggal minta teknisi Axel Company untuk melacaknya dan semuanya selesai !" Martin tersenyum penuh arti.


David tertawa girang " hahaha... kamu memang terbaik Martin !" David mengacungkan dua jempolnya.

__ADS_1


sesaat kemudian senyumnya hilang " tapi.. bukankah teknisi Axel Company yang di indonesia hanya membuat perangkat lunak tambahan, sedangkan teknisi Ai sistem berada di jepang Martin ?, jadi aku harus ke jepang ?"


Martin menggendikan bahu " yap kamu benar !"


David terduduk lesu lagi di kursi , dia merasa tenaganya benar - benar hilang , hanya untuk mencari seseorang dia harus pulang pergi ke jepang, memikirkan itu saja David sudah lelah apalagi melakukannya.


...----------------...


Di Vila Brian...


Brian bisa sedikit tersenyum saat di menerima telepon dari David, pasalnya David menjelaskan detail pembicaraanya dengan Martin.


" kamu berangkat sekarang juga , semua pekerjaanmu suruh Martin untuk mengurusnya !" Brian lansung menutup telepon dengan semangat.


" kamu seperti senang banget sayang.. ada apa ?" Sindi yang baru keluar kamar mandi bertanya.


Brian Mendekatinya dan memeluk dari belakang " David menemukan cara untuk mencari Mei sia "


" benarkah ?, bagus dong " Sindi menengok ke belakang sambil memegang pipi Brian.


Brian yang pikirannya sedang Rilex otomatis langsung mengecup Bibir ranum istrinya yang sudah lama tidak dia sentuh.


Aroma sabun dan shampo yang masih menempel di tubuh Sindi membuat Gairah Brian membuncah.


Brian mencumbu iatrinya dengan ganas, tangannya bergerilya di tubuh Sindi, Sindi melenguh dalam cumbuan Brian.


" emmmmhhhhh.."


kemudian Brian melepaskan cumbuannya dan mengangkat tubuh sindi ke ranjang ala Bridal, Sindi menatap suaminya dengan nafas yang masih memburu.


dia mengalungkan tangannya di leher Brian dan mengecup pipinya sambil berkata " manjakan aku sayang.."


Brian merebahkan tubuh Sindi di ranjang, dengan sekali sentak handuk yang melilit tubuhnya terlepas.


Brian juga bergegas melepas pakainnya sendiri.


ruangan di kamar tersebut seketika menjadi panas walaupun AC di dalam kamar tersebut menyala.


Lenguhan.. lenguhan Sindi semakin menggema di kamar tersebut..


Brian semakin beringas mendengar lenguhan Sindi.


Brian merentangkan kedua kaki Sindi ,kemudian dengan perlahan dia menuntun adik kecilnya masuk ke dalam Goa kenikmatan istrinya.


karena cairan ke wanitaan Sindi ,adik kecil memasuki goa dengan lancar waalupun sudah tiga tahun goa itu tak terjamah.


Sindi semakin mendesah hebat saat Brian memaju mundurkan adik kecilnya, sambil memegang gunung kembar yang menghiasi dada sindi.


Mereka bermain beberapa Ronde, hingga akhirnya Sindi terkulai lemas, Brian yang melihat istrinya seperti itu mengakhiri permainannya cukup sampai di situ.

__ADS_1


Brian dan Sindi berbaring di ranjang sambil berpelukan dengan Mesra.


__ADS_2