
Sementara itu di kamar Brian baru bangun saat Tanti membangunkannya.
" sayang bangun.." Tanti menggoyang - goyangkan tubuh Brian.
Brian mengerjapkan matanya " emmmm.."
" sayang aku lapar , bangun dong " ucap Tanti manja.
Brian membuka matanya dan langsung duduk, pasalnya dia teringat jika Tanti hanya bisa makan masakannya, ya walaupun rasanya antara surga dan neraka.
Brian langsung ke kamar Mandi untuk membersihkan diri, dia berjalan tanpa mengenakan sehelai benangpun , Tombaknya yang menggantuk kopat - kapit mengikuti gerakan langkahnya.
Tanti yang melihat itu hanya tersenyum, jika Tanti tidak lemas mungkin sudah menghambur ke Brian.
Setelah selesai Brian keluar dari kamar mandi, mengenakan pakain, dia kemudian mengecup Bibir Tanti lalu berkata " aku masak dulu sebentar yah sayang "
Tanti mengangguk " jangan lama - lama " ucapnya manja.
" iya sayang..." Brian mencubit hidung Tanti.
Brian kemudian keluar dari kamar, dia langsung ke dapur dan berteriak memanggil Bi inah agar membantunya.
Bi inah langsung bergegas menuju dapur menghampiri majikannya " ada apa Tuan ?"
" Bibi Bantu aku masak lagi " ucap Brian pendek.
Bi inah terharu dengan sikap Brian yang begitu perhatian dengan istrinya, sangat jarang lelaki yang mau melakukan hal tersebut dengan alasan sibuklah apalah.
menurut Bi inah Majikannya tersebut tipe Lelaki yang bisa membahagiakan Istrinya , dia rela meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mengurus istrinya yang sedang hamil.
Bi inah kemudian memberikan Resep yang mudah buat Brian, Bi inah mengajari step demi step dengan telaten.
Brian juga antusias dengan apa yang di katakan Bi inah, pasalnya dia ingin bisa masak enak agar Dia bisa menyenangkan istrinya.
saat mereka sedang fokus masak ,Sindi menegur " Sudah bangun sayang ?"
__ADS_1
Brian tidak menoleh dia hanya menjawab " baru bangun, Tapi Tanti minta makan ,jadi aku langsung ke dapur, Kamu sudah makan belum sayang ?"
Sindi menyuruh Bi inah untuk meninggalkan mereka " Bi .., biar saya yang menemaninya "
" Baik nyonya " Bi inah membungkuk kemudian pergi.
Sindi melongok Ke arah kompor " kamu masak apa sayang ?"
" Ayam opor kata bi inah " Brian menjawab tanpa menoleh ke Sindi.karena dia sibuk dengan wajannya.
" Opor Ayam sayang, bukan Ayam opor " ucap Sindi terkikik geli.
" ya itu kali ,hehehe.." Brian terkekeh.
" coba aku cicipin " Sindi mengambil sendok dan mencicipi masakan Brian.
Brian bertanya " bagaimana sayang ?"
Sindi mengecap - ngecap mulutnya , dia tersenyum " Lumayanlah, kalau ini aku juga bisa memakannya "
Sindi menggendikan bahunya " menurut kamu ?"
Mereka saling menatap ,kemudian tertawa saat mengingat Nasi goreng yang Brian Buat tadi siang.
setelah selesai Brian menatanya di piring, Brian mengajak Sindi tapi dia tidak mau karena mau menidurkan Krisna lebih dulu .
Brian mengangguk mengerti, dia membawa masaknnya ke dallam kamar Tanti, Tanti menggembungkan pipinya " lama banget ih..., dede bayinya sudah gak tahan pengin makan masakan ayahnya " Tanti mengelus - elus perutnya yang belum besar.
Brian menggeleng " sabar sayang, kan aku masak dulu " Brian langsung menyuapi Tanti.
" wih..enak banget, kamu cocok jadi koki sayang " Tanti berkata dengan tulus.
Brian tersenyum kecut, pasalnya menurut Sindi yang lidahnya waras masakan itu biasa saja, Brian yang mencicipi juga seperti itu.
tapi entah kenapa, jia masaknnya masuk ke mulut Tanti jadi enak, Brian hanya bisa Takjub dengan lidah Tanti.
__ADS_1
Tanti makan dengan lahap sampai satu piring ludes, Brian yang melihat itu jadi lapar, perutnya tiba - tiba berbunyi " kruyuuuk..kruyuuuk..."
" astaga sayang ,kamu belum makan ?" Tanti bertanya dengan khawatir.
Brian tersenyum " yang penting kamu dulu biar sehat, dan dede bayi juga sehat " Brian mengusap pipi Tanti.
Tanti menggenggam Tangan Brian yang di pipinya " maksaih yah sayang " Tanti merasa nyaman di perlakukan seperti itu oleh Brian.
" ya sudah aku turun dulu, kamu istirahat yah " Brian mengecup puncak kepala Tanti.
Tanti hanya mengangguk, Brian kemudian turun membawa piring dan gelas bekas Tanti makan.
Beberapa hari berlalu , Tanti sudah beraktivitas seperti biasanya, dia juga sudah jarang mual, Brian dan istrinya sedang berkumpul di ruang tamu ,mereka saling bercerita masalah masing - masing ,walaupun masalah mereka hanya masalah sepele kehidupan wanita.
Brian hanya menjadi pendengar yang baik buat mereka.
saat mereka sedang asyik bercanda , Pelayan membawa seseorang masuk " Tuan ada Tamu "
Brian dan ketiga istrinya menoleh , mereka terkejut saat melihat siapa yanga datang.
mereka serentak Berkata " Viona...!!"
Viona datang dwngan menyeret koper besar seperti orang yang mau pindahan.
saat mereka masih Terkejut , Viona tiba - tiba berlutut " Sindi , Tanti , Mei sia Tolong jadikan aku saudari kalian, aku tahu permintaanku egois , tapi aku tidak biaa membohongi perasaanku pada Brian, aku mohon !"
Ketiga istri Brian tercengang saat mendengar ucapan Viona , Brian juga sama terkejutnya, dia tidak menyangka jika Viona akan membuang harga dirinya seperti itu.
Sindi bergegas menghampiri Viona dan membangunkannya " jangan seperti ini Viona, duduk dulu kita bicarakan baik - baik " Sindi menuntun Viona agar duduk di sofa.
Tanti yang sudah menebak jika Viona menyukai suaminya bertanya " Apa kamu tahu resiko menikah dengan pria yang sudah punya tiga istri ?"
Viona mengangguk " aku sudah tahu dan aku sudah memikirkan itu, aku hanya ingin bersama Brian "
Sindi kemudian bertanya " apa kamu tidak takut tidak terpuaskan karena berbagi dengan wanita lain ?"
__ADS_1
Brian mengerutkan keningnya saat mendengar istri - istrinya seolah mewawancarai Viona untuk bekerja, perasaan Brian jadi tidak enak karena hal itu .