Menjadi Kaya

Menjadi Kaya
bab 84


__ADS_3

Brian Dan Viona terlelap di ranjang dengan berpelukan.


Mereka terlalu letih untuk beraktivitas, karena efek pergelutan semalam.


Di ruang keluarga Sindi dan Tanti sedang berbincang dengan ibu mertuanya.


" Sin.. kasih ini ke Brian " Bu Risma memberikan sebuah botol.


Sindi menatap botol itu dan bertanya " ini apa Bu ?"


Bu Risma tersenyum " ibu memperhatikan Brian akhir - akhir ini seperti keletihan, apa lagi sekarang ada Viona "


Sindi dan Tanti tersipu malu saat Mertuanya berkata seperti itu, pasalnya mereka sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan tersebut.


" jadi ini apa Bu ?" Tanya Sindi kembali.


" Itu jamu, untuk meningkatkan stamina, suruh Brian mencobanya ,jika kiranya cocok nanti ibu belikan lagi " Ucap Bu Risma jujur.


Sindi dan Tanti mengangguk - anggukan kepalanya, Mereka berterima kasih pada Mertuanya karena sangat perhatian.


tetapi Sindi dan Tanti merasa bersalah, karena tidak memperhatikan kondisi Brian, mereka selalu menguras oli samping Brian tanpa memikirkan tubuh Brian yang kecapean.


Sore hari , Brian Baru bangun dari tidurnya, sementara Viona yang sudah bangun lebih awal sedang menatap wajah suaminya sambil tersenyum .


Saat Brian membuka matanya, Viona mengecup pipinya , Brian menengok ke arah istri barunya degan tersenyum " Kamu sudah bangun ?"


" Dari tadi, aku mau membangunkan kamu tapi gak tega " Viona menyenderkan kepalanya di bahu Brian.


" apa sudah tidak sakit ?" Tanya Brian pada Viona.


Viona mengangguk " Sudah, tapi kalau bergerak masih sakit , kayanya aku akan berbaring di ranjang sepanjang hari "


Brian menatap wajah Viona dengan sendu, Dia mengecup puncak kepala Viona dan bertanya " apa kamu lapar sayang ?"


Viona mengangguk kecil, Jelas saja Viona lapar, dari malam hingga sore belum makan ,begitu juga Brian yang merasakan perutnya keroncongan minta di isi.

__ADS_1


Brian kemudian menggeser kepala Viona ke bantal " aku ambilkan makan dulu yah, kamu tunggu sebentar "


Brian bangun dari tidurnya, dia memakai pakaiannya dan turun ke bawah dan memanggil Bi inah untu memasak sesuatu.


Brian juga teringat dwngan Tanti yang belum dia masakan ,dia kemudian masak bersama dengan Bi inah.


Brian menyuruh Bi inah mengantar makanan tersebut ke kamar Viona.


setelah semuanya selesai Brian mencari Tanti di kamarnya. Tanti sedang bersender di ranjangnya sambil membaca sebuah buku.


Brian menghampirinya " sayang makan dulu yuk, maaf aku baru bangun "


Tanti mengangguk menyetujuinya , Brian kemudian mengajak Tanti ke kamar Viona.


Brian memapah Viona untuk bersender di ranjang, Viona sedikit meringis, pasalnya selongsong dia masih terasa perih akibat pertempuran semalam.


Tanti yang melihat itu terkikik geli " hihihi... masih sakit yah Vi, Suami kita memang gitu , kalau kita bermain sendirian dengannya pasti kita akan tepar "


Viona tersipu Malu karena ucapan Tanti yang blak - balakan.


Brian menyuapi Kedua istrinya, sementara Brian di suapi Tanti.


mereka sesekali bercanda untuk mencairkan suasana, Viona merasa dirinya telah membuat pilihan yang tepat menikah dengan Brian.


Walau dua punya empat Istri tapi dia begitu bertanggung jawab.


tidak heran jika Sindi,Tanti dan Mei sia tidak pernah bertengkar , itu semua karena Brian sosok pria yang tidak membeda - bedakan istrinya satu sama lain. begitulah yang ada di pikiran Viona.


Setelah selesai makan, Brian meninggalkan Tanti dan Viona untuk membersihkan diri.


Brian kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Niko ,karena 10 hari lagi pertanian bawang merah mereka akan panen.


saat ponsel di angkat Brian berkata " Niko.., apa kamu sudah menghubungi Lukas dan Denis ?".


Di seberang telepon Niko menjawab " Semuanya sudah di atur Tuan Axel, Lukas dan Denis sudah menyiapkan Timnya untuk menerima kiriman pertama kita !"

__ADS_1


" bagus, berapa hari lagi perkiraan kamu untuk panen?" tanya Brian pada Niko.


" Menurut para petani ,satu minggu lagi kita sudah bisa memulai panen Tuan Axel " ucap Niko.


" baik.. kamu persiapkan semuanya, dan hubungi aku lagi saat akan memulai panen !" Brian langsung menutup telepon tersebut.


Brian menyuruh Niko menghubungi Denis dan Lukas karena dia ingin memasarkan bawang Merah di Provinsi yang mereka tempati.


pasalnya Harga bawang Merah Di Brebes tidak bisa menutupi biaya pengolahan lahan dan pemupukan.


untuk itu Brian Akan memasarkannya di Kalimantan tempat Denis memegang Axel Corporation di sana.


dan Di sumatra tempat Lukas memegang anak perusahannya.


Brian sudah memikirkan itu semenjak proyek tersebut baru di mulai.


malahan Brian berencana mengekspor produk pertanian mereka . Karena ini baru awal ,Brian mencoba dulu Ekspor Luar Provinsi jika nanti sudah berhasil dia akan langsung menerapkan sistem pertaniannya ke berbagai Kota untuk memenuhi kebutuhan ekspornya kelak.


Sindi menghampiri Brian yang sedang berswnder di sofa setelah menelpon, Brian terlihat sangat Lelah karena bukan pikirannya saja yang di kuras tetapi fisiknya juga.


" Sayang ... kamu kenapa " Tanya Sindi menaruh minuman di depan Brian.


Brian duduk tegap menatap Sindi " aku tidak apa - apa , apa ini sayang ?" Brian melihat gelas yang di dalamnya terdapat air keruh.


Sindi tersenyum " itu dari ibu, kamu suruh meminumnya setiap malam "


Brian mengerutkan keningnya, dia menatap minuman tersebut serasa tidak asing " apa ini jamu ?"


Sindi mengangguk " Iya.. kata ibu ,minuman tersebut bisa memulihkan stamina , cobalah ?"


Brian menurut, dia langsung meminum sampai habis hanya denga satu tarikan napas, Brian memeletkan lidahnya " Pait sekali "


" ini makanlah " Sindi memberikan buah apel yang sudah di kupas pada Brian, karena dia tahu kalau jamu pasti pahit, jadi dia berinisitif untuk mengupas buah untuk sedikit meredakan rasa pahit tersebut.


" terima kasih sayang " ucap Brian tulus.

__ADS_1


Sindi memang paling pengertian di antara Wanita Brian, bisa di bilang dia paling dewasa, mungkin karena dia mengenal Brian lebih awal dari wanita lainnya, jadi dia sudah tahu semua apa yang di sukai dan tidak di sukai Brian.


__ADS_2