
Martin juga tidak lupa memberi Tahu Brian tentang Berita itu, pasalnya Martin sudah menganggap Brian keluarganya ,setelah dulu keluarga Martin meninggalkannya saat dia tidak punya apa - apa dan hanya di anggap beban keluarga.
maka dari itu sampai sekatang Martin malas mencari dimana keluarganya Berada. hanya Brian yang dia anggap keluarga atau seperti adiknya.
Beberapa hari berlalu ,saat Brian baru bangun Tidur dia mendengar Tanti sedang muntah - muntah di kamar Mandi.
Brian bergegas untuk menghampirinya " sayang kamu tidak apa - apa ?" Brian mengelus punggung Tanti.
Tanti menggeleng ,masih sesekali mual - mual " Huek..huek..huek.."
Brian menatap wajah Tanti " astaga sayang, wajah kamu pucat banget, kita ke dokter yah ?"
Tanti menggelengkan kepalanya lagi " Aku tidak kuat berjalan sayang, kepalaku pusing, perutku mual terus , huek ..huek.."
Brian panik ,dia bingung harus berbuat apa, kemudian dia teringat menelpon dokter pribadi mereka .
Brian menekan nomor dokter Julianto ,yang merupakan Dokter pribadi keluarga Axel, Tanpa menunggu lama Dokter Julianto mengangkat teleponnya " Halo Tuan Axel, ada yang bisa saya bantu ?".
Brian Menjawab " Dok, kerumah sekarang istriku Muntah - muntah terus "
Dokter Julianto belum menjawab, Brian sudah mematikan ponselnya, Dokter Julianto mendesah " Hais.. begini kalau kerja sama sultan " Kemudian dia menyiapkan segala sesuatunya dan bergegas ke Vila Brian.
Beberapa menit berlalu ,Dokter Julianto sudah sampai di kediaman Brian, saat dia memasuki Vila kebetulan bertemu Dengan Bu Risma.
" Nyonya Besar apa kabar ?" Dokter Julianto menyapa dengan sopan.
Bu Risma tersenyum " Baik dok, ngomong - ngomong ada keperluan apa yah dokter kemari ?"
" Tuan Axel menelpon saya nyonya, katanya istri Tuan Axel sakit " Dokter Julianto menjelaskan maksud kedatangannya.
Bu Risma yang tidak tahu jika Istri Brian sakit terkejut " Sakit ?, siapa yang sakit ?, maksudku Tanti, Sindi atau Mei sia ?"
Dokter Julianto menggeleng " saya juga tidak tahu nyonya, Tuan Axel hanya menyuruh saya kemari "
__ADS_1
" Baiklah. dokter ikut saya !" Bu Risma bergegas membawa dokter julianto Ke kamar istri - istri Brian.
kamar pertama Sindi, tapi Saat di tanya Sindi mengatakan jika dia baik - baik saja .
kamar ke dua Mei sia, Sindi bergegas mengikuti ibu mertuanya untuk mencari tahu siapa saudarinya yang sakit, tapi saat di kamar Mei sia , Mei sia sedang menyusui anaknya.
Mereka menghela napas, kemudian bergegas ke kamar ke tiga, saat mereka membuka pintu ,benar saja Brian sedang mondar - mandir menunggui Tanti yang berbaring lemas di ranjang, wajahnya pucat pasi.
Brian menarik Dokter julianto " lama banget sih Dok !"
Dokter Julianto tersenyum kecut, kemudian Bu Risma menegur Brian " lagi pula kamu ngasih info setengah - setengah, kasihan pak Dokter yang harus memeriksa kamar istrimu satu persatu !"
Brian menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal " Eh..emang aku tidak memberitahu nama istriku yang sakit yah Dok ?"
Dokter Julianto tidak menjawab karena dia sedang memeriksa Tanti.
Saat memeriksa Dokter Julianto malah tersenyum, Brian yang melihat itu mengerutkan keningnya " apa yang lucu dok, orang sakit ko di bercandain !" Brian yang masih panik tentu saja tidak senang dengan Dokter Julianto yang malah tersenyum dim saat seperti itu.
Dokter Julianto bergegas Menjelaskan " Bukan begitu Tuan Axel , Saya tersenyum karena mau mengucapkan selamat Istri anda Hamil !"
Dikter Julianto mengangguk, Brian langsung menghampiri Tanti dan mengecup keningnya " Selamat yah sayang , akhirnya yang kita tunggu - tunggu Tiba juga "
Tanti hanya tersenyum tipis ,pasalnya dia sangat lemas karena muntah - muntah dari pagi.
Sindi dan Bu Risma juga mengucapkan selamat pada Tanti .
" Selamat yah Tan. akhirnya kamu menyusul kita " Sindi memeluk Tanti sesaat.
Bu Risma menggengam tangan Tanti " kamu begitu pucat ,apa kamu sudah makan ?"
Tanti menggeleng " Boro - boro makan Bu, minum saja aku muntah - muntah "
Dokter Julianto kemudian berkata " Memang ada orang hamil yang susah makan, nanti saya buatkan resep untuk mengurangi mual - mual anda Nona, dan walaupun sedikit Nona harus di paksakan makan ."
__ADS_1
Tanti mengangguk mengerti, Dari luar Viona dan Mei sia memasuki kamar.
Mei sia bertanya " saudari Tanti kenapa sin?"
Sindi tersenyum " Kita akan meemiliki anak ke tiga !" Sindi berbicara dengan semangat.
" maksud kamu Tanti hamil ?, wah selamat saudari Tanti !" Mei sia langsung menghampiri Tanti dan duduk di sampingnya.
Viona juga tidak lupa mengucapkan selamat pada Tanti, walau tak seheboh kedua istri Brian.
Dokter Julianto menuliskan resepnya, dia juga memberikan saran makanan yang baik buat wanita Hamil dan juga tidak lupa memberi Vitamin untuk Tanti.
setelah semua selesai Dokter Julianto pamit undur diri, dia antar Brian sampai di samping mobilnya.
saat Dokter Julianto sudah pergi, Brian memanggil Reno untuk menebus resep obat yang Dokter Julianto berikan, Brian juga menyuruh Reno untuk bergegas.
Brian kemudian kembali ke dalam, Tanti sedang di suapi ibunya makan Bubur, tetapi baru beberapa suap sudah mau muntah, jadi Bu Risma menyudahinya.
Brian juga tidak tahu harus berbuat apa ,pasalnya saat Sindi Hamil tidak seperti itu, begitu juga Mei sia.
Viona yang berencana pulang hari ini terpaksa harus pulang sendirian, Dia hanya di antar anak buah Brian, Viona juga tidak keberatan ,pasalnya dia melihat kondisi Tanti.
Viona tidak mau jika demi dirinya Brian harus meninggalkan istrinya walau cuma sebentar, karena Viona yakin jika Tanti lebih membutuhkan Brian dari pada dirinya.
Martin juga harus kecewa, saat dia akan menikah ,malah ada Hal seperti itu.
tetapi Martin memakluminya karena Tanti Baru pertama hamil, lagi pula dia sudah melihat Brian waktu menjaga Sindi hamil, betapa posesifnya dia.
Sejengkalpun seakan tidak mau meninggalkan Sindi, Hingga kejadian saat hampir melahirkan malah Brian meninggalkannya.
dan berakhir dia menghilang selama tiga tahun.
pasti Brian tidak mau kejadian itu terulang, Jadi Martin memutuskan untuk menikahi Anisa tanpa kehadiran Brian, Toh masih ada acara resepsi nantinya.
__ADS_1
Martin berpikir positiv ,agar dia tidak membebani dirinya sendiri.
Tetapi Brian tidak ingin mengecewakan Martin, jadi sebagai gantinya dia memohon pada ayah dan ibunya untuk menemani Martin.