
Brian memperkirakan barangnya akan habis paling lambat Setengah bulan cepetnya sepuluh hari.
tetapi siapa yang tahu jika Bawang merah yang mereka kirim ludes dalam satu minggu, saat Brian mendengar itu dia juga terkejut jika Bawang merah ratusan Ton tersebut bisa habis secepat itu.
Itu mungkin kabar baik karena semakin cepat habis makan semakin kecil kemungkinan mereka merugi.
Brian menelpon Denis dan Lukas untuk memastikan hal tersebut.
Denis dan Lukas mengiyakan hal tersebut, mereka mengatakan jika kebetulan ada pihak asing yang menginginkan produk Mereka.
Brian tersenyum - senyum sendiri di ruang keluarga Sambil memainkan ponselnya.
Viona dan Tanti yang sengaja ingin menemui Brian mengerutkan keningnya ,saat melihat Brian seperti orang gila tersenyum sendirian.
Tanti menegur " kamu kenapa sayang ?, kamu todak apa - apa kan ?" Tanti meletakan punggung tangannya di kening Brian.
" kamu apa - apaan sih sayang , aku tidak apa - apa kok " Brian memegang tangan Tanti dan menciumnya.
Brian kemudian melanjutkan " duduklah , ada berita gembira " Ucap Brian sambil menepuk - nepuk sofa.
Viona dan Tanti menurut, mereka duduk mengapit Brian di tengah.
" Berita gembira apa sayang ?" Viona bertanya pertama.
Tanti menimpali " apa kamu akan menikah lagi ?" Tanti menggoda suaminya .
" hais.. kamu ini , Ini soal proyek agrobisnis kita " Ucap Brian semangat.
" Memang kenapa dwngan proyek tersebut , bukankah semuanya berjalan lancar ?" Viona bertanya dengan penasaran.
Brian tersenyum " Bukan berjalan lancar lagi, lebih tepatnya menjanjikan sekali !"
" maksud kamu ?" ucap Tanti penasaran.
Brian kemudian membuka Laptop yang ada di depannya, dia memperlihatkan hasil penjualan bawang Merah pada mereka.
__ADS_1
Brian juga memperlihatkan modal Awal mereka , dan pembagian pada para petani.
Viona dan Tanti yang sudah tidak asing dengan data - data tersebut tercengang, Mereka tidak percaya jika untungnya bisa 4x lipat.
" Astaga sayang.., bukankah ini terlalu menggiurkan ?" Ucap Viona menatap suaminya.
Brian tersenyum " Kamu benar..., tapi ini semua terjadi karena Harga Bawang sedang naik, makanya kita untung besar, Tapi kalau harga turun entahlah, balik modal saja kita sudah bersyukur ".
Brian berkata seperti itu karena dia pernah mengalami sendiri kejadian tersebut, harga bawang anjlok bukannya untung malah buntung.
untuk itulah Brian menggunakan alat yang moderen ,tujannya untuk memperkecil biaya pengelolaannya.
Tanti memeluk lengan Brian kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Brian dan berkata " jangan berandai - andai sayang...., yang penting kan sekarang kita untung "
Brian mengangguk " Kamu benar sayang, Buat apa mikirin sesuatu yang belum terjadi, lebih baik kita menikmati yang ada dulu "
Viona kemudian melakukan hal yang sama dengan Tanti, Brian yang melihat itu tersenyum senang. karena tidak ada kebahagiaan yang sepenuhnya berarti tanpa adanya seorang Wanita di sampingnya. Eh salah harusnya buat Brian se empat wanita yah, entahlah....
Beberapa hari berlalu, jelang keberangkatan Brian ke Qatar , ke empat isrtri Brian selalu ingin di manja, mereka seakan tidak memperbolehkan Brian keluar kamar.
Pak Seto dan Bu Risma sudah tahu jika itu akan terjadi, pasalnya waktu mereka muda dulu juga pernah seperti itu.
tapi karena pak Seto cuma punya Bu Risma , melakukan setiap hari malah bikin Bahagia, bukan seperti Brian yang sekarang.
Brian seolah kehilangan gairah untuk hidup, Mau menolak enak, di terima bikin sengsara , kehidupan Brian dengan masalah keintimannya sungguh sangat memprihatinkan.
untungnya kedua Orang Tua Brian selalu mencari Ramuan tradisional untuk menjaga kebugaran tubuhnya.
tibalah hari keberangkatan Brian ke Qatar , David sudah menunggu di halaman dengan mobilnya.
" Sayang hati - hati di jalan " Ucap Sindi.
Mei sia menimpali " jangan genit - genit di luar sana !"
Viona " Kerja baik - baik ,jangan urusin wanita padang pasir itu "
__ADS_1
" Cepat pulang yah sayang, kami menunggu kamu di rumah , Aoowww.." Tanti menirukan auman harimau dwngan genit.
Brian yang melihat itu begidik ngeri, dia langsung memasuki pintu mobil dengan tergesa - gesa.
semua istri Brian tertawa saat melihat suaminya yang seperti itu, Mereka tahu, jika satu minggu ini mereka telah berlebihan memeras Oli samping suaminya sepanjang waktu.
Tapi mereka puas ,karena Brian tidak pernah menolak ajakan mereka.
Brian selalu menuruti keinginan mereka , walau tubuh Brian jadi taruhannya.
David yang melihat bosnya seperti ketakun bertanya " ada apa Tuan Axel ?"
Brian menoleh ke David dengan tersenyum kecut " tidak apa - apa, ayok jalan !"
Saat David melihat mata panda majikannya dia bertanya lagi " Tuan Axel apakah anda susah tidur akhir - akhir ini ?".
Brian mengangguk tidak berdaya, dia mengingat bagaiman para istrinya selalu menunjukan pesonanya, dia ingin menolak tapi imronnya gak kuat.
Mereka selalu menggoda Brian dengan pakaian - pakain yang minin saat di dalam kamar.
Brian juga heran darimana mereka mendapatkan pakaian seperti itu, pasalnya dia tidak pernah melihat istri - istrinya keluar dari rumah.
David menegur Brian yang malah melamun saat di tanya " Taun Axel...halo.. Tuan Axel...!" David melambai - lambaikan Tangannya di depan muka Brian.
Brian tersadar dari lamunannya " eh..eh...eeeeeeeeehhhhh"
David mengerutkan keningnya " Tuan Axel, Anda yakin tidak kenapa - napa ?"
Brian menghela napas " sudah..,jalan saja !"
David mengangguk dia mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota Brebes yang penuh dengan tambalan.
Brian sepanjang waktu hanya tertidur dalam mobil karena kelelahan, David yang melihat itu mulai tahu apa yang telah terjadi dengan bosnya tersebut.
dia hanya bisa tersenyum kecut saat membayangkan bosnya di hajar oleh ke empat istrinya.
__ADS_1
David menghela napaa kemudian bergumam " jika itu aku ,mungkin akan kewalahan menghadapi mereka , Huh...!"