
"Adel..."
DEG
Jantung Adel serasa jatuh, wajahnya berubah pucat, meskipun dia sangat merindukan sosok pria tampan di depannya tapi dia belum siap untuk bertemu apalagi dalam keadaan seperti ini.
Aksa mendekat lalu memeluk adiknya, adik satu-satunya. "Kakak..." Lirih Adel lalu Aksa melepaskan pelukannya dan mengusap lembut air mata yang jatuh.
"Gadis bodoh.. kenapa kau melalui ini sendirian?" Tanya Aksa lalu Adel kembali menangis dan memeluknya.
"Kalian bicaralah.. aku akan membawa 2 ponakan tampanku bermain." Ujar Aksa setelah selesai melepaskan rindunya, dia paham benar Ansel yang paling butuh Adel saat ini.
"Ayo ponakan om yang ganteng, kita belum kenalan kan.." Ajak Aksa dan 2 bocah itu menurut dan membawa Aksa ke tempat bermain mereka di belakang villa.
"Dimana kamarmu?" Tanya Ansel begitu dingin sampai Adel merasa gemetar tapi dia tetap menunjuk ke arah kamarnya. Ansel lalu menarik Adel dan masuk kekamar itu, dia tidak ingin bicara, Ansel lalu memeluk Adel dengan erat, di benamkan tubuh Adel dalam pelukannya.
"Kak.. sesak.." Lirik Adel karena pelukan itu begitu kuat, seakan Ansel tidak ingin Adel lari lagi.
"Biar saja, aku takut kau hilang." Ansel lalu menjatuhkan diri mereka di atas tempat tidur dan memeluk Adel sampai kakinya juga dia lilitkan ke tubuh Adel.
"Lepas kak.. aku gak akan lari dari sini." Ansel tetap mengeratkan pelukannya, rasa lega telah menemukan Adel membuatnya lelah. Selama bertahun-tahun dia selalu gelisah dan tidak bisa tidur, kini tubuhnya seakan tak punya tenaga lagi.
"Aku lelah.. aku sudah mencarimu begitu lama dan akhirnya saat aku hampir menyerah kau malah muncul sendiri. Kau kejam Adel.. kau membuatku hancur." Ucap Ansel, kini dia melepaskan pelukannya dan menatap Adel yang ada di sampingnya lalu mencium lembut bibir menggoda itu.
"Aku sangat merindukanmu Adeline.. jangan pergi lagi.." Ucap Ansel setelah melepaskan ciumannya pada bibir Adel lalu memeluknya lagi sambil memejamkan matanya.
"Kak.. kak Ansel.." Panggil Adel tapi Ansel telah tertidur masih dengan lilitan tangan dan kakinya di tubuh Adel.
.
.
"Hey.." Aksa masuk dan menggeleng melihat posisi Ansel dan Adel.
"Kak Aksa.. tolongin, ini ga bisa lepas dan kak Ansel ga bangun dari tadi." Adel meminta tolong pada Aksa yang masuk ke kamarnya dengan membawa ponselnya dan menghadapkan layar ponsel itu agar orang tuanya dapat melihat keadaaan Adel.
"Nah sudah.. mama percaya kan, jadi cepatlah kemari bareng om Arden dan Tante Hanny juga." Ucap Arka dan mereka selesai berbicara melalui video call itu.
"Sekarang kamu nikmatin aja, karna kamu Adel ni balok es udah jadi gunung es, cairin dia dan sembuhkan insomnia akutnya selama bertahun-tahun ini. Bye kakak mau lanjut main sama ponakan yang lucu." Aksa tersenyum dan Adel manyun mendengar ucapan Aksa.
"Kak Ansel.. maaf, Adel membuat kakak menderita." Lirih Adel dan dia menikmati juga pelukan Ansel yang sangat posesif itu.
__ADS_1
.
.
.
Malam hari pun tiba dan semua anggota Tenggara termasuk keluarga Arlen juga ikut. Eve dan Arka serta Vino dan Jupi juga hadir setelah itu Jeremy juga sampai.
"Dimana Adel?" Tanya Arka begitu sampai di villa itu.
"Lagi di kamar, dijadikan guling sama Ansel pa." Jawab Aksa dan Arka sedikit kesal mendengarnya.
"Sudahlah.. biar saja, kasian Ansel sudah beberapa tahun ini mengidap insomnia kan, mungkin dengan begini dia bisa tidur nyenyak." Eve mengelus punggung Arka karena tau suaminya sedang emosi.
"Ya ampun cucu oma... kalian ini versi mininya Ansel dan Anson.." Pekik Hanny melihat Arick dan Arron yang sedang memakan sosis bakar dari Mike.
"Sini sayang... sama oma.." Hanny menggendong salah satu dari mereka. Sedangnya Eve juga menggendong satunya, mereka masih belum bisa mengenali mana yang Arick dan Arron.
"Nah ini baru keturunan Blake.. lihat betapa miripnya mereka dengan kami." Ujar Arden bangga lalu mendapat tepukan dari Arlen.
"Hehehe jangan kesal Len.. anakmu kan punya mata hijau juga sekarang, heheheh.." Kekeh Arden dan Arlen juga begitu gemas melihat cucu ponakannya.
"Aku jadi ingin cepat punya cucu." Ucap Arlen dan disambut tawa oleh Keiji yang memang sudah tunangan.
"Iya sabar.. masih di bujuk biar cepat." Balas Keiji.
Tak berapa lama Adel keluar dari kamar dengan badannya yang sangat pegal, selama berjam-jam tidak dapat bergerak dan akhirnya lepas dari peukan Ansel.
Setelah puas saling melepas rindu akhirnya Adel kembali duduk di sebelah Eve dan memeluk mamanya yang sangat dia rindukan, di sebelahnya ada Mike dan 2 temannya yang asik membakar sosis sambil sesekali makan. Mereka sedang ada di taman belakang untuk menikmati acara BBQ.
"Adel.. kenapa ninggalin aku sih?" Suara Ansel terdengar dan dia mengusir Mike yang duduk di sebelah Adel dan dialah yang duduk disana. Ansel menarik Adel dengan posesif dan membuat yang lain mendesah pelan melihat ulah Ansel pada Adel.
"heii.. lebih berhak Eve sebagai ibunya, kau belum nikah dengan Adel." Tegur Anson tapi Ansel seakan tuli dan masih asik mendekap Adel yang kini bersandar padanya.
"Aku akan segera menikah dengan Adel." Ujar Ansel.
"Tapi gimana dengan Rena dan anak kalian? Dia tunanganmu." Ucap Adel lirih, dia mendorong Ansel pelan agar sedikit menjauh darinya.
"Aku yakin anak itu bukan anakku." Ujar Ansel begitu si kembar berlari menuju arah mereka, Ansel mendudukkan 2 bocah itu dipangkuannya dan mengecup pipi merah menggemaskan itu.
"Inilah anak-anakku dan lihat, mereka asli mirip denganku kan.." Asel memeluk duo kembar itu dengan erat.
__ADS_1
"Akhirnya kamu sadar Sel?" Tanya Jeremy dengan tertawa kecil.
"Maksudmu Jer?" Tanya Arden curiga.
"Aku yang telah memanipulasi semua bukti itu karena kesal dengan anakmu!." Sahut Jeremy dengan nada kesal.
"Jelaskan!" Tegas Arden lalu Jeremy menceritakan semuanya. Dari awal Adel menghubunginya dan Jono menjemput lalu dibawa kesini dan dirawat. Saat Adel berencana pulang karena hamil malah ada berita Ansel bertunangan dengan Rena karena hamil juga. Lalu Jeremy juga mengatakan bahwa cctv hotel dialah yang menghapusnya dan tes DNA palsu yang di berikan Fredd juga dia yang membiarkan.
"Agar kau dapat pelajaran, dan tegaslah menjadi seorang pria sejati. Kau tau kisah cinta kakekmu kan? Bahkan Arden saja sudah jelas Hanny telah menikah dengan orang lain masih dengan gencar dia pertahankan, jadi ini merupakan pelajaran keras untukmu Ansel." Jelas Jeremy dan Ansel begitu menyesal akan tindakan bodohnya selama ini.
"Maaf.. aku memang bersalah, Adel maafkan aku." Ucap Ansel dengan wajah sedihnya, tidak ada yang pernah melihat wajah seperti itu dari Ansel selama ini. Adel mengelus tangan Ansel dan mengangguk.
"Om, berikan semua buktinya Ansel akan singkirkan wanita itu." Pinta Ansel dengan yakin dan kali ini dia benar akan menyingkirkan wanita yang membuat hidupnya berantakan.
"Kau bisa minta ke Jono nanti." Jawab Jeremy.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Anak-anak mama kenapa patuh dan pintar hari ini?" tanya Adel begitu melihat si kembar sedang duduk diam memakan sarapannya bersama Ansel.
"Kata papa kita gak boleh nakal kalau mau pulang cama-cama." Jawab Arron kemudian melanjutkan makannya.
"Kata papa kita hayus jadi anak baik dan pintal balu nanti papa beliin mainan yang manyak.." Sambung Arick. Sedangkan Ansel begitu bahagia melihat putra kembarnya yang begitu tampan, sangat mirip dengannya dan juga pintar.
"Nah sudah selesai kan.. mau jalan-jalan?" Tanya Adel lalu mereka bersorak gembira. Pagi hari adalah waktu Adel berolahraga hanya jalan pagi mengelilingi seluruh perkebunan tapi kali ini dia akan di temani Ansel dan si kembar.
"Adel sayang... terima kasih kau telah menjaga anak-anak kita." Ucap Ansel begitu mereka sampai di zona istirahat ke 3 yang berarti mereka telah menempuk jarak 6km.
"Iya kak.. " Jawab Adel malu-malu dan menunduk.
"Kenapa malu begini, kau sangat cantik Adel aku menyesal waktu bertahun-tahun terbuang dengan sia-sia. Aku ingin segera menikah denganmu." Ansel memeluk Adel lagi dan kini mereka saling mencurahkan isi hati masing-masing dan tidak ada yang ditutupi lagi.
"Papa... liat ada cakung.." Teriak Arron begitu mendapatkan jagung dari Anson yang menyusul mereka.
"Jagung Arron." Ucap Adel memperbaiki.
"Iya cagung." Balas Arick.
"Ah mereka mengganggu saja.." Desis Ansel melihat Anson dan Aksa menghampiri.
"Jangan begitu.." Ucap Adel lalu berdiri mengambil jagung rebus yang dibawa Anson dan memakannya bersama si gunung es yang sebentar lagi mencair.
__ADS_1
TBC~