Menjaga Cinta Season 2

Menjaga Cinta Season 2
BAB 40 - Mulai Sekarang Kau Pacarku


__ADS_3

"Adduhh... sshh..." Vio mengeluh sakit dan menggerakkan tubuhnya kesamping dan memijat pelan pinggang bagian belakangnya tanpa dia sadari sedang ada dimana.


"Vio.. mana yang sakit?" Tanya Anson berdiri mendekati Vio yang terkejut melihat Anson disana.


"Pak.. kenapa.. eh ini dimana?" Tanyanya bingung melihat sekitarnya yang kurang jelas karena tidak ada kacamata.


"Di rumah sakit, kau pingsan di toilet dan terkunci. Kenapa kau ada disana?" Tanya Anson dan Vio baru teringat kejadian yang telah dia alami tapi dia tidak mungkin menceritakan semuanya, karena Jannet benar-benar akan menghabisinya jika ketahuan.


"Maaf pak, saya juga tidak tau. Saat mau keluar pintunya sudah tidak bisa dibuka." Bohong Vio dan dia masih memegang pinggangnya menahan sakit.


"Terus kenapa bajumu basah semua?" Tanya Anson lagi.


"Ah.. itu eh karna aku tidak hati-hati tersandung dan jatuh, disana ada ember penuh air." Ujarnya lagi berbohong. Anson tampak tidak begitu percaya karena ada raut ketakutan di wajah Vio tapi dia akan menyelidiki sendiri saja.


"Baiklah.. apa pinggangmu sakit?"


"Iya pak.. tapi ini sudah biasa."


"Apanya yang biasa. Sini aku bantu."


Anson membalikkan Vio agar tidur menyamping lalu tangannya mengusap pelan di pinggang Vio berulang-ulang. Sedangkan Vio merasa nyaman namun tidak enak karena Anson adalah bosnya. Meskipun dia senang dengan perhatian Anson tapi ini tidak boleh dan dia sadari dirinya bukan siapa-siapa.


"Jangan pak, ini tidak baik." Vio berbalik lagi tapi Anson memaksa dan tetap mengelus pinggang Vio dengan lembut.


"Hangat sekali tangannya.. ah, apakah ini mimpi?" Batin Vio dan dia merasa sangat nyaman.


"Lain kali hati-hati, kau ingin makan apa? Kau belum makan malam juga kan?" Tanya Anson dan memang Vio merasa lapar saat ini.


"Apa saja pak, saya pemakan segala." Jawab Vio dengan suara lembutnya.


Anson mengirimkan pesan pada Melvin untuk membelikan makanan dan segera diantar sementara 1 tangannya tetap mengusap lembut pada Vio dan tidak dia lepaskan.

__ADS_1


"Pak sudah, ini tidak sakit lagi." Ujar Vio dan Anson menghentikan gerakan tangannya, dia merasa enggan untuk berhenti dan sangat ingin menyentuh tempat lainnya tapi dia menahan diri.


"Kau ini.. mulai besok jangan gunakan toilet luar. Pakai saja toilet di ruanganku. Mengerti?"


"Tapi pak.."


"Gak ada tapi-tapi."


"Iya pak..."


Vio pasrah dengan perintah Anson, dia tidak berani menjawab lagi karena melihat wajah serius Anson.


20 menit kemudian Melvin sampai dengan membawakan makanan dan Anson memaksa untuk menyuapi Vio dan Melvin melongo melihat pemandangan itu. Akhirnya dia mengerti kalau yang dimaksud Anson tadi bukanlah mengarah ke Arion tapi dirinya sendiri.


Melvin terus tersenyum dan diam-diam mengambil foto itu lalu dikirimkan ke Emily sebelum dia balik ke rumah untuk istirahat karena perintah dari Anson.


"Pak jangan terlalu baik padaku, aku bukan siapa-siapa dan tidak enak jika dilihat oleh orang." Ujar Vio dan Anson tersenyum mendnegarnya, ini kesempatan baginya untuk mengatakan perasaanya.


"Kalau gitu, kamu jadi pacarku aja jadi aku akan baik dan perhatian terus." Vio tak percaya pada pendengarannya dan hanya diam tidak merespon apapun hanya detak jantungnya saja yang iramanya tidak menentu.


"Vio.. Violet!" Panggil Anson karena Vio masih diam.


"Ah.. eh maaf pak."


"Kamu jadi pacarku aku bukan bertanya tapi akan memaksamu."


Vio diam lagi tapi kini wajahnya memerah, jantungnya tak bisa di ajak kompromi karena berdetak sangat cepat seperti habis berlari maraton.


"Tapi aku bukan wanita yang pantas untuk bapak.. aku hanya wanita biasa, miskin dan tidak punya daya tarik apapun dibandingkan bapak yang sangat tampan." Tolak Vio yang sadar akan dirinya.


"Siapa bilang? Aku tertarik padamu dan kamu itu cantik Violet. Jangan menutup dirimu yang cantik ini.. lagi pula aku suka dengan dirimu yang apa adanya dan tidak cerewet."

__ADS_1


"Tapi pak.. nanti bapak malu kalau punya pacar seperti aku, bapak bisa dapat wanita yang cantik, tinggi dan lebih dari apapun."


"Jangan merendahkan dirimu, aku sudah pernah pacaran dengan model tercantik sekalipun tapi gak ada yang bisa menggetarkan hatiku, hanya kamu yang bisa Violet." Anson menatap lekat mata Vio yang indah, Anson baru mengetahui kalau Vio memiliki mata yang sangat cantik berwarna abu-abu.


"Matamu cantik sekali Vio, kenapa kau tutupi dia dengan kacamata ?" Tanya Anson tapi Vio tetap diam karena dia terlalu gugup, wajah Anson sangat dekat dengannya saat ini.


"Pak.. sudah, jangan terlalu dekat." Vio memalingkan wajahnya dan Anson tau detak jantung Vio sedang tidak normal karena dia pun sama.


Anson menuntun tangan Vio untuk menyentuh dadanya, "Kau bisa rasakan bukan? Inilah yang terjadi jika aku di dekatmu. Jantungku juga gak normal sama denganmu." Anson menunjuk dada Vio juga dan kali ini Vio benar-benar malu dan wajahnya memerah dan rasanya panas.


"I love you Violet Ascella." Bisik Anson dan Vio memejamkan matanya, dia ingin keadaan ini jangan berakhir, "Ya Tuhan kalau ini mimpi aku tidak mau bangun." Gumamnya tanpa sadar kalau itu terucap keluar.


"Ini bukan mimpi sayang.." Anson membelai wajahnya yang makin merona merah. "Kamu imut sekali sih.." Anson mencium bibir mungil Vio. Awalnya hanya mengecupnya tapi dia tidak bisa menahan diri lagi dan ciuman itu perlahan menjadi ******* dan Vio benar-benar terlena olehnya.


Anson melepaskan ciumannya dan membelai wajah mungil Vio yang bahkan lebih kecil dari telapak tangannya jika di buka lebar.


Vio masih menunduk karena sangat malu, "Vio.. hei tatap aku. Lihat mataku."


Vio langsung menatap wajah tampan di depannya, melihat mata indah berwarna hijau yang seakan menghipnotisnya. Meskipun dia tidak bisa melihat dengan jelas tapi wajah dan mata Anson tampak begitu mempesona.


"Mulai sekarang kau adalah pacarku, kekasihku, mengerti kan?"


Vio langsung mengangguk, dia sangat terlena dan terhinotis oleh pria tampan di depannya apalagi saat Anson tersenyum, Vio benar-benar tidak berkutik.


"Istirahat ya.. " Anson membelai kepala Vio yang masih tetap melihatnya dan perlahan dia merebahkan dirinya kembali sambil Anson tetap mengelus kepalanya. Perlahan Vio benar-benar tertidur lagi.


"Kau sangat manis dan imut sayang..." Gumam Anson pelan sambil tersenyum melihat Vio yang telah terlelap.


Malam telah larut dan Anson yang juga mengantuk langsung naik juga ke tempat tidur itu yang lumayan besar apalagi dengan tubuh Vio yang kecil maka akan muat untuk mereka berdua. Anson tidur di sebelah Vio dan melingkarkan tangannya di atas perut dan dada wanita mungil itu.


Sekali lagi Anson menatap wajah cantik dan mengecup kening Vio berkali-kali sebelum dia juga tertidur pulas.

__ADS_1


TBC~


__ADS_2