
Hari ini akan masuk 2 orang sekretaris lagi untuk menemai Vio yang semakin banyak pekerjaan. Vio telah persilakan 2 orang itu masuk ke ruangan Anson.
Vio berdiri diantara 2 orang wanita itu dan dia merasa sangat minder karena, Anita meskipun sudah berumur 35 tahun tapi masih terlihat cantik setelah punya 2 anak. Mika, 23 tahun, seorang wanita yang sangat cantik dengan kulit eksotis bercahaya bahkan wajahnya sangat cantik, kalau tubuhnya? Vio seakan tenggelam jauh ke dalam tanah. Dengan tinggi 173cm dan bentuk S line membuatnya cocok menjadi model.
Untunglah Anson paham akan perasaan Vio dari raut wajahnya yang tidak nyaman berada di tengah mereka berdua apalagi Mika yang dengan percaya diri yang tinggi terus tersenyum dan pakaian menggoda kepada Anson.
Sedangkan Anita hanya tersenyum dengan profesional dan tidak terlihat mencari perhatian dari pakaian yang dia gunakan.
"Kalian mulai bekerja hari ini dan Vio akan memberikan kalian tugas masing-masing. Jika ada yang ingin disampaikan padaku bisa melalui Vio dan dilarang masuk keruangan ini tanpa izin. Yang boleh masuk hanya Melvin dan Vio." Tegas Anson pada mereka berdua.
Terlihat ada kekecewaan dari Mika yang sudah punya rencana untuk menggoda Anson tapi harapan itu seakan sengaja di halangi oleh Anson.
"Hai mba Anita, Mika, ini tugas harian kalian ya dan setiap jam 8.30 pagi bisa letakkan di mejaku dan akan saya email di jam 3 sore untuk tugas selanjutnya." Ujar Vio sambil memberikan note yang telah dia persiapkan. Anita menerimanya dengan ramah sedangkan Mika masih dengan wajah cemberutnya karena kesal tidak punya kesempatan untuk menggoda sang Bos tampan di dalam sana.
Jam makan siang telah tiba tapi Vio masih enggan beranjak dari mejanya meskipun dia sudah lapar. Biasanya dia akan makan di meja kerjanya karena malas ke kantin tapi kali ini dia mau tidak mau harus makan di kantin, dia sudah tidak sendirian di ruang kantor itu.
"Yuk Vio, kita ke kantin." Ajak Anita dan Vio akhirnya mengikutinya untuk makan siang. Setidaknya Vio punya teman ngobrol dan Anita terlihat sangat baik dan juga ramah. Dia bahkan tak segan menceritakan kehidupan rumah tangga dan anak-anaknya.
"Hei upik abu! Tumben bisa makan di kantin? Biasanya puasa karena gak punya uang, hahahha." Jannet menertawakan Vio yang sedang mengantri membeli jus untuk dibawanya ke meja kerjanya nanti. Vio hanya diam, seperti biasa dia tidak merespon apapun perkataan atau penghinaan dari Jannet.
"Sudah mulai berani mengabaikanku?" Jannet menghampirinya dan mengambil jus jeruk ditangan Vio dan membuangnya ke tempat sampah. Banyak yang menertawakan Vio karena para wanita itu iri dengannya, dengan tampilan kampungan dan jelek bisa sangat dekat dengan sang Direktur yang terkenal tampan, bahkan hanya dia satu-satunya wanita yang diperbolehkan masuk ke ruangan direktur saat ini.
Vio menghela napasnya malas, tapi tiba-tiba ada yang menggeplak tangannya Jannet saat dia mau menarik rambut Vio.
"Ahh.. siapa kau berani memukulku?" Teriak Jannet tak terima dan menoleh ke arah orang yang memukulnya.
"Kau!!!"
"IYA AKU, Kenapa?" Tanya Emi dengan wajah galak dan mata tajam ke arah Jannet.
"Hah.. ternyata anjing penjaganya datang, pantas dia sudah mulai berani. Jangan menggangguku anak pungut!" Balas Jannet tak kalah garang ke arah Emi. Jannet tentu tau tentang Emi yang merupakan anak angkat dari pamannya.
"Dasar wanita ular, iblis!" Bentak Emi tapi Vio segera menarik Emi untuk menjauh dari sana karena mereka tidak punya pendukung. Vio sadar semua orang akan mendukung Jannet yang terkenal cantik dan kaya bukan hanya itu, dia juga cukup pintar. Semua karyawan Tenggara group adalah orang terpilih jadi di kantor ini tidak ada yang biasa-biasa saja.
"Jangan menghalangiku Vio! Akan ku patahkan tangannya itu." Kesal Emi yang kini duduk berdampingan dengan Vio dan Anita.
Anita yang bingung melihat situasi itu tidak berani bertanya lebih jauh.
"Terus kenapa kau bisa disini?" Tanya Vio sinis karena melihat tanda pengenal yang terkalung di leher Emi.
__ADS_1
"Hehehe mau kasih kejutan tapi jadinya begini." Jawab Emi terkekeh dan Vio masih menatapnya penuh selidik.
"Aku masuk ke divisi bisnis mulai hari ini dan kita akan sering ketemu, ya kan... dan juga aku gak mau jauh-jauh dari Melvin, takut dia diambil orang." Jelas Emi lagi, tapi Vio malah menggeleng karena alasan yang aneh itu.
Vio, Emi dan Anita kembali ke ruang kerja masing-masing dan dia melihat Mika yang ingin masuk ke ruang Anson dan segera melarangnya.
"Mika, mau apa disana?" tanya Vio segera berlari menghadangnya.
"Cuma mau kasih undangan pada Tuan Anson dari perusahaan papaku." Jawab Mika dan langsung masuk ke ruangan itu tanpa permisi dengan Vio.
Vio juga tidak sempat mencegahnya karena wanita itu begitu cepat dan nyelonong masuk begitu saja.
"Permisi Tuan Anson, saya mau minta waktu sebentar." ujar Mika dan Anson mengerutkan keningnya melihat Mika ada di ruangannya dan Vio ada di belakangnya dengan wajah gelisah.
"Ada apa?" Tanya Anson datar.
"Saya mau mengundang Tuan untuk datang ke pesta perusahaan keluargaku, berharap Tuan berkenan untuk hadir." Jawab Mika dengan nada suara lembut dan di buat semenggoda mungkin, apalagi dengan senyumnya yang memang sangat manis itu berharap Anson akan terpesona dengannya.
"Saya akan periksa jadwal dulu dan lain kali bisa serahkan saja pada Vio untuk hal begini." Tegas Anson.
"Kau boleh keluar, Vio tetap disini ada tugas untukmu." Lanjut Anson dan Mika yang kecewa melirik sinis pada Vio yang sedang jalan mendekat ke meja kerja Anson.
"Kita baru tadi pagi ketemu, baru 3 jam lalu." Ucap Vio tapi Anson malah kembali mengangkatnya dan medudukkan Vio di pangkuannya.
"Aku inginnya selalu bersamamu Vio.. gak mau pisah sedetik pun." Ucap Anson dengan lembut seraya membelai pipi Vio yang gempal.
"Kalau gitu, aku gak bisa kerja dong.. aku masih harus bayar cicilan, sewa rumah dan lainnya. Atau kau mau aku makan gaji buta?" Tanya Vio yang entah dari mana dia mendapat keberanian untuk menjawab segitu panjangnya.
"Akhirnya kau berbicara begitu panjang denganku.. katakan apa lagi yang kau butuhkan?" Tanya Anson tapi Vio menggeleng.
"Loh kok jadi pendiam lagi? Aku ingin dengar suaramu yang lucu itu."
"Tiap pagi aku bicara banyak membacakan jadwalmu."
"Bukan itu, aku maunya dengar tentangmu saja bukan pekerjaan."
"Ehm.. gak ada yang penting dihidupku dan biasa-biasa saja."
"Jadi aku gak penting?"
__ADS_1
Anson mencebik kesal, tapi dia hanya pura-pura dan ingin tau apa yang akan dikatakan oleh wanta ini.
"Bukan begitu.. maksudku diriku yang gak penting."
"Siapa bilang, kamu sangat penting untukku Violet.. sangat penting."
Anson mengecup bibir Vio, awalnya lembut tapi lama-lama menjadi ******* yang panas dan Vio perlahan membuka bibirnya dan belajar membalas ciuman dan ******* itu. Anson tersenyum karena berhasil memancing gadis mungilnya ini.
"EHEM!!" Suara deheman yang sangat keras mengganggu kegiatan mereka.
"ANSON!" Bentak sang mommy yang baru masuk ke ruangannya.
"Ya ampun Son.. kau apakan gadis kecil ini? Anak kecil juga kamu embat Son?" Tanya Arden dan Vio langsung melompat dan berdiri dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Ada apa sih mom dad?? Ganggu Son aja." Kesal Anson lalu merangkul Vio untuk kembali mendekat padanya.
"Lepaskan dia Son! Mommy kan sudah bilang jangan apa-apakan calon menantu mommy." Bentak Hanny lalu menarik Vio untuk duduk bersamanya di sofa dekat dengan Arden.
"Jadi kau mau melecehkan Vio di kantor yang sepi ini?" tanya Hanny menatap tajam pada Anson.
"Astaga mom! Seperti gak pernah muda saja, bahkan Son yakin mom n dad lebih parah dari Son iya kan?" Anson membalas Hanny yang tidak bisa menjawab anaknya karena memang lah benar, bahkan dulu Arden adalah selingkuhannya, hehehe...
"Jangan berkilah, kalau memang gak tahan lagi sebaiknya cepat nikah!" Tegas Hanny dan Anson langsung tersenyum senang lalu melirik ke Vio yang masih menunduk karena merasa bersalah dan malu telah tertangkap basah.
"Vio.. mau kan menikah denganku?" Tanya Anson tapi Vio masih menunduk.
"Ini terlalu cepat dan aku masih punya tanggung jawab lainnya." Jawab Vio dengan pelan dan suara bergetar.
"Iya juga sih.. ya sudah tunggu lah beberapa bulan lagi mom, kami masih menikmati masa pacaran."
"Baiklah mommy kasih waktu 3 bulan lagi. Dan jangan apa-apain dulu menantu mommy sebelum nikah!"
"Baik mommy.. dan ada apa kalian kemari?" Tanya Anson akhirnya karena tidak biasanya orang tuanya datang begini.
"Tadi daddy lagi ketemu sama teman lama dekat sini dan singgah sebentar taunya kau lagi pacaran, bukannya kerja Son." Jawab Arden sambil terkekeh menciduk putranya sendiri.
"Ya namanya masih tahap pacaran dad.. hehehe, dan ini masih rahasia, jadi jangan katakan pada siapapun dulu sampai kita menikah." Pesan Anson dan mereka pun mengerti.
TBC~
__ADS_1