
Beberapa bulan berlalu dan kini perut Adel telah membuncit dan sangat besar di usia kandungan ke 6 bulan. Bayi kembar laki-laki akan lahir 3 bulan lagi dan diharuskan operasi oleh dokter. Adel tidak masalah dengan itu, yang penting bayinya sehat dan selamat.
Pagi ini Adel dengan langkah riang menelusuri kebun teh dengan berjalan santai sebagai olahraga paginya. Jeremy telah membuat jalan dengan bambu di tengah hamparan kebun teh sampi ujung mengelilingi hampir seluruh perkebunan yang membukit naik turun. Setiap 2 km akan ada tempat istirahat dengan kursi panjang dan biasanya disana juga para pekerja akan duduk lesehan sambil makan siang atau istirahat karena ada tangga kecil.
Adel selalu menyempatkan diri minimal berjalan 4km bolak balik, tapi pagi ini dia sungguh beruntung karena pada tempat peristirahatan ke 2 banyak ibu-ibu sedang sarapan bersama sebelum melakukan pekerjaan mereka memetik daun teh.
"Non.. sini non, mari makan." Panggil salah satu ibu disana. Adel mendekat dan mencium aroma nasi hangat dari periuk yang sengaja dibawa mereka.
"Ini nasi ya bu?" tanya Adel yang sudah duduk di kursi panjang.
"Bukan, ini namanya nasi liwet non, coba deh." Ibu itu menyendokkan nasi itu sedikit di atas daun pisang.
"Hm.. enak bu." Ujar Adel dengan senyuman dan mata berbinarnya.
"Nah ayo kita makan sama-sama non, ini ada ayam goreng, telur dadar, terong balado, sambel, lalapan." Ucap ibu itu dan Adel tampak menelan ludahnya dan perutnya mulai berontak lapar.
Mereka makan bersama dan Adel terlihat bahagia dengan acara sarapan bersama yang sangat jarang dia lakukan.
"Non Adel.. haduh bibi tunggu dari tadi rupanya disini." Pelayan tampak ngosngosan karena dia sejak tadi berlari mencari Adel.
"Ada apa bik? Adel lagi sarapan nasi liwet, enak.." Adel tersenyum cerah dan membaut pelayan itu sangat lega.
"Iya.. non makan saja pelan-pelan, bibik akan lapor dulu kalau non baik-baik aja disini."
Adel melanjutkan sarapannya yang sudah porsi ke 3, mereka paham karena Adel sedang hamil makanya makannya juga sangat banyak dan lahap.
Setelah selesai, Adel di temani pelayannya jalan kembali ke villa dan besok dia berjanji akan kembali lagi dengan membawa makanan juga, karena dia baru tau kalau makanan disana dibawa oleh masing-masing yang ikut sarapan.
"Non itu keponakan bos besar ya?" Tanya salah satu ibu-ibu.
"Iya.. dia lagi marahan sama suaminya jadi lagi menyendiri, itu yang aku dengar." Jawab bapak tua di sebelahnya yang merupakan pengawas kebun teh disana.
"Ya ampun kasian yah.. padahal cantik begitu, wajahnya mirip artis luar negri."
"Hihihi iya.. besok kita masakin lagi yang enak biar non itu senang."
__ADS_1
"Betul betul.."
.
.
.
Berbeda dengan Adel, kini Ansel makin tidak bisa di kontrol. Apalagi saat studio barunya selesai dia semakin gila kerja dan imbasnya Aksa sering lembur dan tak jarang hanya tidur 3 jam sehari menemani Ansel yang kerja kerja dan kerja untuk melupakan kesedihannya.
"Son.. bantuin dong.. aku capek beneran capek. Temani dulu saudara kembarmu itu." Ujar Aksa saat Ansel datang bermain di StarE sekalian bertemu salah satu artis cantik disana yang kini dekat dengannya.
"Wohoo.. aku mau kencan bro sama Naura." Jawab Anson menolaknya.
"Naura? Dia tuh artis bayaran dan kau..."
"Tenang cuma semalam 2 malam aja, dah gitu ajah.. lagian dia yang nawarin diri ya aku terima dong.."
"Dasar brengsek!" Ansel menjitak kepala Anson dengan geram. "Jangan main-main Son, cukup aku yang buat ulah kau jangan ikut-ikut!!" hardik Ansel lalu Anson mencebik kesal.
"Mending cari pacar dan nikah daripada celup sana sini, jinakin tuh anaconda." Ujar Aksa.
"Udah berapa wanita yang kau bawa ke ranjang?" Tanya Ansel serius.
"Cuma 3 bro.. aku gak sembarangan tidur sama mereka, yang benar sreg aja dan itu aman, sangat amaaannnn..." Jawab Anson.
"Carilah wanita yang benar trus nikah, kasihan mommy harus lihat kita begini terus. Untung saja Ion gak kaya kamu, dia pacaran di sana dengan aman."
"Nanti deh.. belum ada rencana, mau cari wanita yang benar bisa buat jantungku meledak dan hatiku bergetar hebat." Jawab Anson sambil merebahkan dirinya membayangkan wanita seperti apa yang bisa membuatnya seperti itu.
"Tapi kapan kau pulang? Kandungan Rena udah jalan 7 bulan tuh.. makin besar perutnya, mommy bilang kalian akan punya anak laki-laki." Anson memberitahu tapi Ansel hanya diam dia sama sekali tidak punya perasaan apapun bahkan terakhir kali melihat perut Rena dia hanya melihat dari jauh dengan tatapan dingin. Benar-benar tidak ada perasaan apapun.
"Aku akan pulang makan malam hari ini, dan kau juga ikut." Ansel menunjuk Aksa yang hanya bisa menghela pasrah.
"Bakal gak tidur lagi nih.." Gumamnya pelan dan Anson tertawa kecil.
__ADS_1
.
.
.
Anson berjalan santai menuju studio untuk melihat Naura dan masuk ke ruang tunggu artis cantik itu. Dia tidak terkejut karena di sana Naura sedang berciuman mesra dengan model lainnya.
"Wooo... ciuman yang panas plok plok." Anson bertepuk tangan lalu masuk kesana. Naura terlihat salah tingkah karena dia lupa ada janji makan siang dengan Anson.
"Anson.. hm, ini.."
"Gak apa-apa lanjutkan saja, kita juga gak ada hubungan serius kan.. aku juga hanya main tapi karena kau sudah yah... begitu, aku gak akan sentuh barang bekas yang aku lihat sendiri. Bye Naura.. silakan lanjutkan." Jelas Anson lalu kembali ke ruangan Ansel.
"Kenapa balik?" Tanya Ansel dengan dinginnya.
"Dia lagi main sama model disana, ya udah aku suruh lanjut." Jawab Anson lalu dia kembali tiduran di sofa depan meja kerja Ansel.
"Hahaha.. kau kecolongan, hahahah ini lucu hahaha..." Aksa tertawa puas melihat Anson.
"Hey.. aku Anson! Bisa cari wanita secantik apapun dan mereka yang datang duluan sebelum aku mencarinya, tapi aku jadi malas, jenuh sama wanita seperti itu. Ada gak sih wanita yang sama sekali gak tertarik padaku dan aku yang akan berusaha mengejarnya." Tanya Anson dan dia kembali duduk menatap ke Aksa.
"Gak ada!"
"Ck.. kau, gak seru!"
"Memang kenyataannya begitu."
"Iya sih.. jadi percintaanku gak ada tantangannya dong??"
"Mau tantangan, kaya Ansel gitu?"
"Ya gak juga, kalau aku gak akan melepaskan wanita yang aku cintai, bila perlu aku kurung biar gak kabur heheheh.."
Anson melirik ke saudara kembarnya yang hanya diam mendengar ocehannya dan Aksa, masih larut dalam pekerjaannya sambil mencerna ucapan Anson dan merutukinya dalam hati.
__ADS_1
TBC~