
"Kita berenti di kota dulu, ke toko buku." Ujar Arion setelah mereka kembali ke bus. Menyebrang selama 6 jam tidak membuat Arion lelah, dia hanya banyak memikirkan Sasa, apakah gadis itu sedang baik-baik saja?
"Papi.. kita jadi beli buku?" Tanya Leon menghampiri Arion di samping kursi kemudi.
"Iya sayang, mau duduk sini? Sambil lihat pemandangan, di sini banyak pantai yang semuanya cantik."
Leon segera naik ke pangkuan Arion dan menyendekan kepalanya di dada sang ayah sambil melihat ke kanan lalu kedapan lagi, jika ada sesuatu yang bagus matanya akan mengikuti begitu terus menerus sampai mereka tiba di kota.
"Tuan kita berhenti disini saja, bus ini terlalu besar untuk jalanan kota disini." Ujar Tinto dan dia sudah menyiapkan mobil yang di kendarai anak buahnya di sana.
"Yuk Leon kita beli buku dulu." Arion menggendong Leon dan masuk ke mobil yang akan membawa mereka ke toko buku di mall terdekat.
Leon berlari begitu melihat toko buku yang ada di depan matanya, Arion hanya bisa menggeleng kenapa anaknya begitu suka buku padahal dia dan Sasa sama-sama tidak suka belajar. Entah sifat dari siapa ini, mungkin dari omanya?
"Kenapa gak baca buku dari tablet atau laptop aja nak?" Tanya Arion yang membantu Leon membawa begitu banyak buku.
"Kata oma gak bagus buat mata papi, lebih baik pakai buku saja. Mami Vio juga bilang gak boleh, nanti mata Leon rusak mirip mami Vio dulu karena gak bisa beli buku." Jelas Leon sambil tidak henti-hentinya melihat buku yang bisa dia jangkau.
"Papi gendong keatas." Pinta Leon dan Arion segera menggendongnya dan dapat lagi 5 buku di rak atas itu.
"Leon, ini kenapa ada buku filosofi? Emangnya kamu ngerti?" Tanya Arion heran sambil membolak balik buku itu.
"Gak ngerti makanya Leon baca biar ngerti." Jawab Leon, bukan hanya Arion yang tercengang tapi juga mba kasir yang bingung melihat bocah itu.
"Ini Bapak, ada 15 buku dan totalnya 2juta 130ribu." Ujar mba kasir lalu menyusun seluruh buku ke dalam kardus lalu tersenyum melihat ke arah Arion yang sangat tampan dengan mata hijau menawannya. Sedangkan Leon tetap memakai kacamata hitamnya.
"Terima kasih." Balas Arion datar.
Arion mengangkut sendiri 1 kardus berisi buku itu dan kembali ke mobil bersama Leon, "Papi bisa gak jangan terlalu tampan?" Tanya Leon dengan wajah sebalnya.
"Loh kenapa? Leon gak suka punya papi tampan?" Tanya Arion bingung.
"Tadi di mall sana banyak perempuan dari anak-anak sampai ibu-ibu liatin papi terus, Leon gak suka. Gimana kalau nanti mami tau dan cemburu trus pergi makin jauh?" Ujar Leon dengan nada kesal.
__ADS_1
Arion tertawa keras melihat anaknya yang posesif, karena wajahnya yang mirip Sasa, Arion jadi senang melihat keposesifan putranya itu.
"Iya kalau gitu papi gak cukuran deh biar wajah tampan papi ketutup sebagian hehehe.." Arion masih terkekeh lucu melihat Leon yang cemberut. Begitu juga Tinto yang menahan tawanya sejak tadi.
"Leon gak perlu pakai kacamata disini, banyak bule yang sudah biasa melihat mata kita. Nanti Leon pasti jadi incaran para gadis deh.." Ucap Arion dan Leon hanya mengangguk karena sedang fokus ke buku barunya.
.
.
.
.
Sudah seminggu Arion berkeliling pulau Lombok dan dia akhirnya berhenti di daerah Lombok Barat dekat Tanjung Aan yang terkenal dengan pasir putihnya.
"Kita berkemah malam ini nak.." Ujar Arion lalu naik keatas bus yang sebagiannya telah dirombak seperti dek kapal, cukup untuk memuat 1 kasur ukuran quees size. Arion membentangkan terpal lalu memompa kasur angin, untuk sementara dia akan menikmati angin dan bintang nanti malam agar Leon bisa terlepas dari bukunya sejenak.
"Tinto, kau cari tempat istirahat saja dekat sini, besok pagi datang lagi. Bi Ratih juga boleh pulang saja, kami akan lama disini mungkin seminggu." Ujar Arion dan Tinto bersama Bi Ratih pun pergi meninggalkan ayah dan anak itu berdua.
"Nah tiduran, tutup mata 3 menit lalu buka mata dan lihat ke langit."
Leon mengikuti arahan Arion, lalu Arion mematikan semua lampu dari bus mereka, perlahan Leon membuka mata dan senyum mengembang di bibirnya melihat begitu banyak bintang di langit.
"Indah kan.. mami juga suka lihat bintang." Ucap Arion yang juga sudah merebahkan dirinya, menatap keatas langit yang begitu indah.
"Apakah mami juga lihat bintang yang sama papi?" Tanya Leon.
"Bisa jadi nak.. mami dan kita seharusnya ada di pulau yang sama sekarang tapi mami lagi sembunyi dari orang jahat." Jawab Arion.
"Berarti kita akan ketemu mami ya.. Leon janji akan nakal kalau mami ada. Papi kan minta Leon jadi anak nakal kan.. hahahah."
"Iya sayang... kamu ini terlalu baik dan penurut, jadilah anak-anak Leon, jangan cepat dewasa."
__ADS_1
"Huh.. padahal jadi orang dewasa enak papi, bisa kemanapun dan berbuat apapun."
"Gak gitu juga nak.. nanti perlahan kau akan mengerti, jadi anak-anak itu lebih menyenangkan."
"Baiklah papi.. cuma papi aja kayanya otang tua yang mau anaknya jadi nakal."
Arion terkekeh pelan mendengar komentar Leon, dan memang benar dia ingin Leon hidup seperti anak-anak yang lain. Berisik, rusuh bikin masalah ataupun menangis karena kesal. Tapi Leon terlalu baik dan dewasa di umurnya yang baru 5 tahun.
Sejam lebih mereka menikmati bintang dan akhirnya Leon tertidur, Arion menyelimuti Leon karena angin lumayan kencang malam ini. Tak lama Arion juga tertidur dengan Cody yang berada di bawah kaki mereka meringkuk diatas selimut khusus miliknya.
\=//=
"Papi.. bangun, Leon mau pipis." Panggil Leon saat matahari sudah mulai terik menyinari mereka.
"Ah.. sudah pagi ternyata." Gumam Aron lalu mereka turun bersama. Di dalam bus sudah ada Tinto yang baru selesai membuat roti bakar keju untuk Tuan dan Tuan kecilnya.
"Pagi om Tinto." Sapa Leon sebelum masuk ke kamar mandi mungil mereka.
"Pagi Tuan kecil.." Balas Tinto yang sudah membawa 2 piring roti bakar dan 2 gelas susu ke meja depan agar tuannya bisa sarapan sambil melihat ke laut yang tampak indah itu.
15 menit Leon keluar dengan sudah mandi dan berganti baju, Arion hanya menggeleng melihat anaknya yang begitu mandiri.
Sambil makan Arion berbincang dengan Tinto mengenai penyelidikannya dan Leon asik membuka pesan yang masuk ke tabletnya. Ada pesan dari Vio kalau mereka akan liburan ke luar negri dan Leon ingin oleh-oleh apa.
"Papi.. kata mami Vio di Lombok ada pantai warna pink ya?" Tanya Leon.
"Iya nak, tapi gak begitu pink sih, lebih bagus yang di Labuan Bajo. Tapi kalau kamu mau kita bisa kesana." Ujar Arion dan Leon tampak ragu dan dia segera browsing untuk melihatnya.
"Mau papi, ini cantik kok.. Leon mau." Teriak Leon senang setelah melihat gambar pantai pink di gugel.
"Baiklah tapi kita beli bahan makanan dulu yang banyak, disana masih jauh dari keramaian." Arion memerintahkan Tinto membeli beberapa persediaan dan dia juga mengecek tenda mereka untuk berjaga-jaga karena bus bear mereka akan sudah masuk ke dekat pantai.
"Tinto, siapin box es dan beberapa makanan kaleng, kita akan pakai mobil kecil saja, tolong siapkan." Perintah Arion dan Tinto segera mencari semua kebutuhan Tuannya.
__ADS_1
Bersambung ~